Tarutung, hetanews.com - Platform kebudayaan Indonesiana adalah inisiatif baru Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI untuk mendorong dan sekaligus memperkuat upaya Pemajuan Kebudayaan sesuai UU No. 5 Tahun 2017 melalui gotong royong penguatan kapasitas daerah dalam menyelenggarakan kegiatan budaya sesuai azas, tujuan, dan objek pemajuan kebudayaan yang ditetapkan dalam UU No. 5 Tahun 2017.

Untuk tahun 2018, Indonesiana berfokus pada konsolidasi untuk peningkatan standar tata kelola kegiatan budaya dan manajemen penyelenggaraan kegiatan budaya melalui dukungan atas penyelenggaraan festival-festival di daerah, baik penguatan terhadap festival yang sudah ada sebelumnya maupun mendukung penyelenggaraan festival yang baru yang relevan dengan potensi dan karakter budaya di kawasan masing-masing.

Salah satu dari 9 kawasan yang menyelenggarakan Program Indonesiana adalah Kawasan Danau Toba. Dimana Kabupaten Tapanuli Utara (Taput) sebagai tuan rumah Festival Tenun Nusantara. Pelaksanaan Festival Tenun Nusantara di Taput diselenggarakan di 3 lokasi berbeda yaitu Tarutung, Muara dan Sibandang.

Rangkaian acara pada Festival Tenun Nusantara adalah Pameran Tenun Nusantara, Permainan Tradisional Anak, Simposium Nasional Tenun Nusantara, Boot Camp Partonun, Pesta Budaya Rakyat "Ulaon Matumona", Pertunjukan tari, musik, Teater Tradisi, Opera Batak dan Fashion Show.

Mulai 13 Oktober yang lalu, Pameran Tenun Nusantara sudah dibuka di Sopo Partukkoan, Tarutung. Ruang pameran yang didominasi oleh bambu ini memamerkan lebih dari 100 kain tenun dari Nusantara. Dimana 65 diantaranya adalah Ulos, Hiou, Uis dan Abit. Kain yang dipamerkan adalah koleksi dari Vilidius Siburian, Bimanto Suwastoyo dan Perkumpulan Wastra Indonesia.

Acara lainnya yang merupakan bagian dari Festival Tenun Nusantara adalah Simposium Nasional Tenun Nusantara yang dilaksanakan di Sopo Partukkoan, Tarutung, 15 Oktober 2018. Acara ini dihadiri oleh lebih dari 300 peserta dimana mayoritas pesertanya adalah petenun di Tarutung, Siatas Barita dan Sipoholon.

Simposium ini diisi oleh narasumber dengan latar belakang antropolog, akademis dan praktisi untuk mengenalkan sejarah peradaban tenun kepada petenun dengan tujuan agar petenun semakin bangga atas hasil karya yang ditenunnya.

Sebelum simposium dimulai, terlebih dahulu tampil Opera Batak yang dibawakan oleh 30 pelajar. Ketigapuluh pelajar ini mengikuti program Belajar Bersama Maestro, sebuah program dari Direktorat Jenderal Kebudayaan. Selama 12 hari peserta belajar mengenai Opera Batak bersama Tomson Hutasoit. Selain Opera Batak, juga tampil penari dari Sanggar Dolok Sipiak yang membawakan Tortor Somba.

Acara ini dibuka dengan resmi oleh Dra. Chrisriyati Ariani, M.Hum selaku Kepercayaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa, Direktorat Jendral Kebudayaan. Dalam pidatonya, Chrisriyati mengatakan, “ketika seorang petenun mengerjakan proses bertenun untuk mengerjakan sehelai kain, pasti ada nilai tertentu yang ingin disampaikan. Apakah itu melalui motif, warna atau fungsi dari Ulos itu akan digunakan pada upacara adat,” jelasnya.

Mitu M. Prie, seorang antropolog, menyajikan materi mengenai Tenun dan Ragam Megalitik Nusantara mengatakan, bahwa tenun adalah bagian peradaban nusantara yang paling tua. Dimana kawasan Danau Toba merupakan poros peradaban kebudayaan nusantara di bagian Barat. Hal itu dilihart dari peninggalan sarkofagus dan menhir di Tomok, Samosir yang berhubungan dengan budaya megalitik 5.000 tahun lalu bahkan 1.000 SM. Selain Toba, ada juga di Nias, Mentawai, Dayak, Toraja dan Sumba”.

Mitu juga menjelaskan nilai kebudayaan lainnya yang memiliki persamaan pada 6 wilayah di atas. Salah satunya adalah prinsip dalam rumah adat yang dibagi ke dalam 3 bagian. Bagian atas area untuk pemujaan Sang Pencipta, bagian tengah untuk tempat tinggal manusia serta bagian bawah untuk hewan ternak.

"Dunia terkagum-kagum dengan tenun nusantara karena di abad 21, masih ada suku di Nusantara yang menuangkan simbol kebudayaan menjadi motif pada kain tenun,” pungkas Mitu.

Narasumber lainnya, Ratna Panggabean, menegaskan budaya tenun pada suku Batak masih bertahan karena upacara adat masih tetap dilaksanakan dimana tiap upacara adat wajib untuk memakai Ulos. "Pada dasarnya, ada 3 prinsip yang harus dimiliki oleh kain tenun agar bisa dikatakan sebagai Ulos yaitu: sisi kain, badan kain dan sirat. Ini berhubungan juga dengan Dalihan Natolu, filosofi hidup suku Batak," ujar Ratna.

Sekarang ini, sudah ada aplikasi yang sedang dikembangkan bersama IT DEL. Dimana motif pada Ulos difoto kemudian hasilnya bisa dicetak yang kemudian dapat dimanfaatkan sebagai gambar kerja bagi petenun dalam bertenun Ulos. Ini bukan bermaksud untuk menghilangkan kesakralan pada Ulos, melainkan untuk membantu petenun agar bisa bertenun motif lama dan berinovasi dalam motif baru untuk kain tenun yang diperuntukkan dalam keperluan fashion. Aplikasi ini sudah dipraktekkan kepada kelompok petenun di daerah Humbang Hasundutan (Humbahas).

Pada simposium ini juga hadir Kornelis Ndapakamang, praktisi pewarnaan alami, dari Sumba. Kornelis memberikan materi tentang bagaimana kelompok ibu di Sumba menggunakan pewarna alami, tantangan dan kendala yang dihadapi serta kerjasama dalam proses pembuatan pewarnaan alami.

Sebagai penutup, Satika Simamora, Ketua Dekranasda Tapanuli Utara mengajak Petenun untuk lebih terbuka dalam melihat kebutuhan pasar. Satika bercerita tentang betapa sulitnya proses mengajak petenun mau merubah penggunaan benang pada kain tenun, dimana dahulu petenun menggunakan benang kasar untuk material kain tenunan.

Pasar tidak tertarik dengan kain yang ditenun dengan benang kasar karena tidak nyaman ketika dikenakan. Tiga tahun terakhir, petenun di daerah Muara sudah mulai beralih kepada benang halus yang harga jualnya lebih baik. "Setelah memperkenalkan benang halus, tahun ini saya akan fokuskan kembali ke pewarna alam, karena kain yang ditenun dengan pewarna alam lebih diminati pasar. Sepeti pada saat di Inacraft banyak yang mencari kain tenun pewarna alam dengan ukuran yang lebih besar. Petenun bisa menambah pendapatannya dengan menenun kain untuk fashion tanpa harus meninggalkan bertenun Ulos untuk keperluan upacara adat," beber Satika.

Pada acara penutupan Festival Tenun Nusantara, 17 Oktober 2018, akan ada fashion show yang menampilkan karya Edward Hutabarat yang juga merupakan putra daerah Taput akan mengangkat tema Ulos Batak in Innovation. Dari fashion show ini, Edward berharap bisa mengenalkan kekayaan motif pada Ulos.