Tue 11 Dec 2018

Siantar Makin “Gelap” di Tangan Pemimpin Muda

Ilustrasi pemimpin muda yang visioner

Catatan Redaksi….

Siantar, hetanews.com – Ada anggapan yang mengatakan bahwa pemimpin itu tidak diciptakan, namun dilahirkan. Anggapan ini tentu saja membuat sebagian besar masyarakat berpikir bahwa menjadi seorang pemimpin itu tidaklah mudah. Butuh keahlian lebih untuk menjadi seorang pemimpin yang dapat diterima oleh semua lapisan masyarakat.

Jika kita kaji secara lebih mendalam, kurangnya regenerasi pemimpin di kelompok-kelompok masyarakat disebabkan karena hilangnya kesadaran dan kemampuan generasi muda untuk meyakinkan dirinya sebagai pemimpin.

Apalagi, ditambah dengan sistem yang selalu mengagungkan kaum tua dengan alasan memiliki pengalaman yang lebih, hancurlah harapan generasi muda untuk muncul sebagai sebuah sistem kepemimpinan yang baru.

Padahal, bukan tidak mungkin, generasi kepemimpinan yang didominasi oleh generasi muda memiliki pemikiran-pemikiran yang lebih kreatif dan optimis dibandingkan dengan pemikiran dari kaum tua. 

Ada secerca harapan tak kala di awal tahun 2018 ini, kota Siantar dikomandoi oleh pemimpin muda, yakni Walikota dan Sekda, karna akan membangun semangat, ketegasan dan disiplin, yang mana mampu membangun gairah anak muda untuk melakukan perubahan kepada kotanya.

Nyatanya, berbeda dengan harapan, para pemimpin muda di kota berhawa sejuk ini tidak seperti yang diharapkan. Apakah karna mereka kurang pengalaman sehingga tidak dapat mengatasi berbagai permasalahan yang ada? Atau mereka kurang komit sehingga tidak mendapat dukungan dari berbagai pihak? Atau mereka sedang mencoba-coba menjadi seorang pemimpin.

Ada beberapa program yang awalnya menjadi jualan pemimpin kota ini, yakni membangun dunia kreatifitas anak muda, hanya cerita tanpa ada tindakan nyata. Membangun GOR, hanya cerita karena tidak mampu menyakinkan investor dan berbagai perguncingan yang muncul.

Kemudian uji kelayakan eselon 2, yang mana awalnya saja semangat untuk lakukan perubahan, nyatanya hingga sekarang hilang gak jelas kemana arahnya.  Dilanjutkan dengan seleksi direksi perusahaan daerah, yang masih mampu dengan sengaja melanggar permendagri, padahal katanya ingin bersih, jujur dan tidak melanggar aturan.

Yang terakhir dimana membuat kota ini semakin gelap, gagalnya pengesehan P-APBD 2018, berujung pada gagalnya berbagai rancangan tambahan untuk menetapi berbagai janji pembangunan, sehingga posisi para pemimpin muda semakin dilema.

Wajar dan pantas, kota Siantar yang dalam periode pilkada serentak mengalami stagnasi karna kelamaan dipimpin oleh seorang penjabat walikota, semakin memasuki periode gelap, karna harapan warga kepada pemimpin muda untuk melakukan perubahan tak kunjung tiba, malah semakin tidak jelas, dan sudah dua kali kota ini berada pada polemik sara.

Apakah kota ini tidak pantas dikelola oleh pemimpin muda? Atau pemimpinnya yang tidak belajar bagaimana budaya warga Siantar dalam menjalin komunikasi? Waktunya untuk merenung bagi kedua pemimpin muda agar dapat menitipkan kenangan baik untuk masa depan kota ini.

Penulis: tim. Editor: bt.