Tue 11 Dec 2018

Pensiunan Jaksa Adukan Kasat Reskrim Polres Siantar ke Polda Sumut

AKP Hasoloan Sinambela (tengah) ketika serahterima jabatan, di Polres Siantar. (foto/hza)

Siantar,hetanews.com - Pasca dimutasi dari jabatannya sebagai Kasat Reskrim Polres Siantar, AKP Hasoloan Sinambela, kini dia dilaporkan ke Polda Sumut.

Informasi dilaporkannya Kasat Reskrim tersebut, diketahui lewat selebaran surat dari  Sumut Watch.

Dalam surat tersebut, dijelaskan, mantan jaksa Kejari Siantar, Hj Dewi Darwiana, yang tercatat tinggal di jalan H Adam Malik No. 72 Siantar, melaporkan Kasat Reskrim tersebutr ke Kapolda Sumut.

Melalui kuasa hukumnya, Daulat Sihombing dari kantor Sumut Watch, yang mana laporan tersebut terkait adanya dugaan penyalahgunaan jabatan dan pelanggaran kode etik kepolisian.

Melalui surat Sumut Watch, No. 111/SW/X/2018, tanggal 3 Oktober 2018, selain ke Kapolda, Irjen Pol Agus Andrianto, Hj Dewi Darwiana, pensiunan jaksa dengan jabatan terakhir Kasi Datun (Perdata dan TUN) ini juga melapor ke Irwasda Polda Sumut, Kabid Propam Polda Sumut dan Kapolres Siantar.

Dewi meminta agar pimpinan kepolisian, memeriksa dan menindak Kasat Reskrim, AKP Hasoloan Sinambela, dan juper, Brigadir Oktinuden Siahaan.

Kepada Kapolres Siantar, Hj Dewi Darwiana, secara khusus meminta agar menghentikan penyidikan perkara dalam Laporan Polisi No.Pol. LP/354/VIII/SU/STR, tanggal 31 Agustus 2018, an. Pelapor Masiah.

Karena laporan bukan perkara pidana tetapi perkara perdata, dan mengganti juper, Brigadir Oktinuden Siahaan dengan juper lain yang netral, profesional dan mampu menghargai hak – hak hukum dari saksi.

Dalam siaran pers yang disampaikan Daulat Sihombing, disebutkan, bahwa pada tanggal 26 September 2018, Hj Dewi Darwiana, selaku terlapor, telah menerima surat panggilan dari Polres Siantar, No. Pol: SP.Pgl/764/IX/2018/Reskrim, untuk pemeriksaan sebagai saksi, dalam perkara tindak pidana “penggelapan” sebagaimana diatur dalam Pasal 372 KUHP, an. pelapor  Masiah (isteri Alm Darul Fuadi, saudara kandung dari Hj Dewi Darwiana).

Tanggal 28 September 2018, terlapor pun menjalani pemeriksaan sebagai saksi, mulai dari pukul 10.00 WIB, sampai sekitar pukul 17.30 WIB. 

Sebelum diperiksa, terlapor, meminta kepada juper agar didampingi penasehat hukum dari Kantor Advokat Azman, namun juper menolak dengan alasan baru mengambil keterangan sebagai saksi. Nanti saja waktu pemeriksaan sebagai tersangka baru didampingi kuasa hukum, katanya.

Dalam pemeriksaan itulah, terlapor, diperlakukan secara “under pressure”, tanpa waktu jedah, tanpa diberi kesempatan didampingi penasehat hukum, tanpa mempertimbangkan kondisi terlapor yang sudah tua, dan tanpa memberi kesempatan menyampaikan keterangan secara leluasa. Terlapor benar- benar diperlakukan layaknya tahanan kriminal “sangat berbahaya”, bahkan untuk makan siang saja pun, terlapor hanya diberi waktu sekitar 10 menit dan untuk sholat “zuhur” dan “azar” pun tidak diberi kesempatan. 

Mirisnya lagi, demikian terlapor, ketika juper sedang memeriksa terlapor selaku saksi, Kasat Reskrim, AKP Hasoloan Sinambela, mondar – mandir ke ruangan pemeriksaan sambil kadang – kadang berdiri di belakang juper untuk mengintervensi langsung arah pemeriksaan, sembari beberapa kali memanggil juper ke ruangannya. 

Terlapor sempat mendengar dengan jelas percakapan by handphone antara Kasat Reskrim dengan seseorang yang dipanggil “kak” yang memberi kesan adanya intervensi dari pihak luar. 

“Sedang diperiksa kak, selanjutnya diperiksa sebagai tersangka”, demikian terlapor menirukan Kasat Reskrim seakan melaporkan progres pemeriksaan terlapor. Usai bertelepon, ujar terlapor, Kasat Reskrim kemudian menginstruksikan juper dengan perintah, “Cepatkan perkara itu, biar cepat digelar perkara”, kata Kasat Reskrim lagi sambil menambahkan, “Kita panggil berikutnya sebagai tersangka”.

Hj Dewi Darwiana, menduga, bahwa dalam perkaranya ada campur tangan pihak luar.  Kecurigaan itu, menurutnya timbul, terutama karena sebelum perkara dilaporkan ke polisi, seorang perempuan mengaku penerima kuasa, bernama Syafrida Amnah, alamat, Tanah Lapang Kecil No. 14, Medan Maimun, Kota Medan,  datang ke kediaman terlapor untuk meminta asli SHM No. 570, tanggal 16-4-1998, an. Darul Fuadi,  namun ditolak karena tidak dikenal.

Terlapor menduga, percakapan by handphone antara Kasat Reskrim, AKP Hasoloan Sinambela, dengan seseorang yang dipanggil “kak” dalam  pernyataan: “Sedang diperiksa kak, selanjutnya diperiksa sebagai tersangka”, sebenarnya adalah percakapan dengan Syafrida Amnah. 

Daulat Sihombing, mengatakan, bahwa tindakan Kasat Reskrim, AKP Hasoloan Sinambela, yang melakukan pemeriksaan kepada kliennya, Hj Dewi Darwiana, secara under pressure dan sewenang – wenang patut diduga sebagai bentuk penyalahgunaan jabatan dan pelanggaran terhadap kode etik kepolisian.

Penulis: hza. Editor: gun.
Komentar 1
  • Johan Sandres
    Kasat reskrim Poldasu segera memeriksa Akp Hasoloan sinambela.
    Kalau tidak juga ditindak lanjuti..buat laporan keprovam mabes polri.