Samosir,hetanews.com- Pengerjaan lingkar Samosir sekmen dua, sepanjang lebih kurang 7 Km yang membelah kabupaten Samosir, patut dipertayakan.

Masalahnya, kualitas hasil pengerjaanya banyak tambal sulam dan kupak kapik yang dikawatirkan warga akan memakan korban bagi pengendara roda dua, empat dan enam yang melewati jalan ini nantinya.

Hal ini terpantau oleh awak media di lapangan, Sabtu (6/10/2018), lalu, di desa Parmongan, kecamatan Ronggur Nihuta, kabupaten Samosir.

Sebelumnya, beberapa bulan yang lalu, pengerjaan ini sudah disangsikan kualitasnya. Sepengamatan awak media cetak, online dan TV di lapangan, diakibatkan biskos pemadatan yang kurang baik dikerjakan.

Hasil pengerjaan hotmix yang masa perawatannya sudah selesai, bulan Agustus 2018 kemarin, dimana jalan hotmix tersebut sudah tampak dasar biskosnya.(foto/stm)

Pagu pengerjaan hotmix ini memakan biaya yang sangat besar, Rp.19 Milyar lebih  dengan menggunakan Dana Alokasi Kusus (DAK) kabupaten Samosir tahun 2017, dan bahkan tanpa memampangkan papan proyek di lapangan pada saat pengerjaan.

Banyak masyarakat yang di sekitar perkampungan tersebut  yang mencibir pengerjaan kontraktor dengan hasil pengerjaan "kupak kapik dan tambal sulam”.

Seperti Pak Situmorang, salah satu warga, kepada awak media, menuturkan, sebenarnya warga senang setelah jalan ini diaspal, tapi baru beberapa bulan selesai dikerjakan sudah hancur.

Hotmix yang baru 2 bulan dikerjakan sudah tampak retak - retak dan dipastikan akan melebar karena sekarang Samosir lagi dilanda musim hujan.(foto/stm)

Harapan kami kepada pemerintah pusat (Pak Jokowi) agar ada perhatiannya, supaya jalan ini diperbaiki cepat, karena banyak juga kendaraan yang lalu lalang dari sini, termasuk turis domistik, ujarnya berharap.

Akibat pekerjaan ini, lanjutnya, pernah juga kejadian laka lantas di jalan tersebut.

Ranto Limbong yang merupakan Ketua LSM KPPPI (Komisi Pemantau Pembangunan Perpajakan Indonesia), mengatakan, agar pihak Penegak Hukum  benar-benar serius untuk menyelidiki masalah kualitas hotmix yang sudah dikerjakan oleh pihak Kontraktor ‘nakal’ dan juga pengawas, yaitu PPK PUPR  Samosir agar ikut diperiksa pihak Penegak Hukum.

Kami menduga adanya kong kalikong pengerjaan dan pengawasan. Ini terbukti dari hasil pemantauan saya di lapangan, katanya, Sabtu (6/9/2018).