HETANEWS

Kejari Binjai Periksa Kepala BKD dan Inspektorat

Kasi Pidsus, Asapte Ginting dan Kasi Intel, Erwin Nasution. (foto/jufri)

Binjai,hetanews.com- Penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Binjai, memanggil dan meminta keterangan Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kota Binjai, Amir Hamzah dan Kepala Inspektorat Binjai, Aspian, terkait dugaan penyelewengan uang Negara, pada Dinas Pendidikan Binjai, Kamis (4/10/2018).

Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Binjai, melalui Kepala Seksi (Kasi) Pidana Khusus (Pidsus), Asepte Gaulle Ginting, menyebutkan, dua Kepala Dinas tersebut dipanggil, atas permasalahan seorang oknum guru PNS, pada salah satu Sekolah Dasar, berinisial DS, tidak masuk kerja mulai tahun 2010 lalu.

Namun, selama 8 tahun, hingga Februari 2018, gaji DS ditanggung dan dikeluarkan oleh Negara dalam hal ini, Pemko Binjai, sebesar Rp.4.367.900,- setiap bulan, selama 8 tahun.

Tidak hanya itu, lanjut mantan Kasi Pidsus Kejari Batubara tersebut, DS melalui suaminya, AS, telah memanipulasi surat kematian, untuk mengeluarkan santunan kematian DS.

"Padahal, hingga saat ini, DS masih hidup," kata Asapte didampingi Kasi Intel, Erwin Nasution.

Berdasarkan surat kematian palsu tersebut, lanjutnya, PT Taspen Medan, mengeluarkan uang sebesar Rp 62.386.500,- ke rekening Bank BRI atas nama Adesman Sagala, dengan cara dua kali pembayaran.

"Pertama, PT Taspen mengucurkan uang sebesar Rp. 59.179.200,- pada 5 Mei 2014 lalu. Kemudian, pasa 23 November 2014, PT Taspen kembali mencairkan uang kematian DS, sebesar Rp.3.207.300,-," sebutnya.

Setelah menyelidiki kasus tersebut, penyidik mengkalkulasikan, bahwa Negara merugi sebesar Rp. 438.025.900,- akibat perbuatan DS tersebut.

Sementara, Kepala BKD Binjai, Amir Hamzah, hanya menjawab enteng dan mengaku, kalau saat ini kantornya sudah pindah ke Kejari.

"Iya kantor dah pindah ke sini (Kejari), Suah dulu ya, duluan lah aku ya Mak" ujarnya.

Penulis: jufri. Editor: gun.