Wed 17 Oct 2018

Hotman Paris Minta Panglima Hukum Oknum TNI AU yang Rusak Toko Playstation Tomb Raider

Jakarta, hetanews.com - Pengacara kondang berdarah Batak Hotman Paris Hutapea mengomentari dugaan pengeroyokan yang dilakukan oknum TNI AU terhadap pengusaha rental dan servis playstation di Jalan Brigjend Hamid pada Minggu (23/9/2018) lalu.

Dari rekaman yang diunggah akun instagram @Hotmanparisofficial, ia meminta kasus pengeroyokan tersebut segera diusut.

"Kepada Bapak Panglima, kami warga Indonesia yang lagi berlibur di Swedia mendapat banyak laporan dan pengaduan tentang adanya dugaan puluhan oknum TNI yang merusak toko warga Indonesia di Medan," kata Hotman.

"Seluruh Indonesia minta bantu ke Hotman Paris untuk menyuarakan keprihatinan ini. Bapak Panglima, negara hukum sudah dikumandangkan sejak lam

Sebuah rental PlayStation di Jalan Brigjend Hamid, Kota Medan, porak-poranda setelah diserbu sekolompok berseragam loreng-loreng. Aksi penyerbuan ini terekam dalam video yang diunggah warganet pemilik akun @Soenardi Lim Beng Sun, Selasa (25/9/2018) dini hari.

Dalam unggahan tersebut, Sonardi menuliskan bahwa telah terjadi kerusuhan setelah sekolompok Anggota TNI AU datang menyerbu PlayStation tersebut.

Kerusuhan terjadi di jalan bridjen jend.Hamid.. Sekelompok anggota TNI AU yang diduga datang untuk menyerang salah satu toko sebanyak 30an orang.

Diduga korban adalah etnis **** dan korban yang bahkan orang tua juga dipukuli.. Korban yang tertera masih hanya sebagian karena sisanya ditahan di kantor TNI AU.

Mereka berkata bahwa jika mereka mengshare video ini maka mereka akan dicari dan dibunuh.
Mohon bantu share agar menjadi viral..

Video pertama situasi toko lantai 1 setelah hancur. Video ke 2 situasi toko lantai 2 setelah hancur. Video ke 3 situasi toko lantai 3 setelah hancur.

Video ke 4 Anggota TNI AU yang mencuri bukti rekaman cctv korban. Foto ke 5 bukti foto. Video ke 6 korban dibawa ke markas tni AU dan disekap sampai sekarang.

Video ke 7 korban yang mengalami kekerasan fisik oleh 4 opnum TNI AU. Foto ke 8 foto korban yang diambil secara diam diam di markas tni AU.

Foto ke 9, bukti foto. Video ke10, adalah pengancam sekaligus dalang dibalik keributan tsb. Serta memprovokasi masyarakat untuk membakar toko korban (muka di zoom)".

 

Danlanud Soewondo Kolonel Pnb Dirk Poltjen Lengkey (Tengah)
Danlanud Soewondo Kolonel Pnb Dirk Poltjen Lengkey

Video ini pun menjadi perbincangan para warganet. Ada yang mengecam tindakan penyerangan tersebut dan ada yang menyalahkan pihak pemilik rental PlayStation tersebut.

Menanggapi kabar anggota TNI AU yang dikeroyok di rental playstation di Jalan Brigjend Hamid pada Minggu (23/9/2018) lalu, Danlanud Soewondo Kolonel Pnb Dirk Poltje Lengkey memberikan pernyataan resmi.

Berdasarkan penuturannya, kejadian berawal saat anak anggotanya atas nama Pelda Muhammad Chalik (45) yang bertugas Dinas Logistik (Dislog) memperbaiki playstation.

Biaya perbaikan playstation dikenakan Rp 100 ribu. Playstation belum diperbaiki, Chalik datang ke tempat itu untuk mengambil playstation anaknya.

Hal ini lantas membuat Pelda Muhammad Chalik cekcok dengan kasir dan dicegat satpam. "Waktu itu terjadi cekcok adu mulut dan berantam. Saat berantam itu lah pemilik tempat usaha atas nama Joni reflek mengambil stick baseball berbahan besi dan mengeroyok Chalik," kata Lengkey di Lanud Soewondo, Selasa (25/9/2018).

Akibat kejadian ini, Chalik mengalami luka-luka di wajah dan pinggang. Ia terpaksa dibawa ke RS Malahayati untuk mendapat perawatan medis.

"Jadi sebenarnya ini permasalahan cuma tidak pas karena pembayaran. Dia tidak terima karena playstation anaknya tidak diapa-apain tapi kenapa bayar," ujar Lengkey.

Lebih lanjut, Lengkey menuturkan langkah ke depan sudah dilakukan, seperti kemarin malam pengusaha playstation sudah meminta maaf.

"Kalau masalah ini diangkat pasti jadi saling dendam dan saling menuntut. Lebih baik karena ini tahun politik tidak usah diperpanjang permasalahan ini. Kebetulan keluarga dari Chalik sudah mau menerima," sebutnya.



 

sumber : tribunnews.com

Penulis: -. Editor: sella.