HETANEWS

'BD' Sabu Sogok Sipir Lapas Lubuk Pakam Rp 50 Juta Per Minggu, Gunakan Sandi Uang SPP

Maredi, oknum sipir yang ditangkap BNN. (Istimewa)

Jakarta, hetanews.com - Deputi pemberantasan BNN RI, Irjen Pol Arman Depari mengatakan pihaknya masih mendalami keterlibatan sipir Lapas Lubuk Pakam bernama Maredi dalam peredaran 36 kg sabu yang mereka ungkap.

Dalam pemeriksaan diketahui, Maredi ternyata mendapatkan uang Rp 50 juta per minggu dari bandar narkoba bernama Dekyan yang saat ini menghuni lapas tersebut.

"Untuk melancaran aksinya Dekyan membayar petugas berkisar 50 juta/minggu. Uang itu dikoordinir oleh tersangka Maredi dan seorang sipir lain," ucap Arman dalam siaran pers tertulisnya, Senin (24/9).

Arman menjelaskan, dikalangan sipir Lapas tersebut hal serupa diduga sudah berlangaung lama. Sebab, menurut pengakuan Maredi ia dan beberapa rekannya sudah familiar dengan istilah-istilah untuk pembayaran tersebut.

"Uang yang diberikan tersangka Dekyan kepada oknum sipir biasanya disebut dengan sandi bayar uang SPP.  Kasus saat ini masih dikembangkan untuk mengungkap keterlibatan aparat dan penyidikan ke arah tindak pidana pencucian uang," ujarnya.

Selain Sipir, BNN Juga Ringkus 6 Bandar Narkoba

Badan Narkotika Nasional (BNN) terus memerangi peredaran narkoba di dalam jaringan lapas. Keterlibatan oknum internal Kemenkum HAM dalam bisnis barang haram itu kembali terbongkar. Kemarin (22/9) BNN mengungkap bandar yang menjual narkotika di dalam Lapas Lubuk Pakam, Sumatera Utara, dengan bantuan seorang sipir.

Deputi Pemberantasan BNN Irjen Arman Depari menuturkan, dari penyelidikan diketahui adanya rencana pengiriman sabu-sabu ke Lapas Lubuk Pakam. Setelah diintai petugas sejak Minggu (16/9), akhirnya tersangka seorang kurir bernama Bayu dapat diringkus.

"Dia menggunakan sepeda motor berhenti di depan lapas," ujar Arman.

Seorang sipir yang belakangan diketahui bernama Maredi langsung keluar. Seakan sudah kenal, Maredi langsung menerima bungkusan plastik hitam. "Petugas langsung menyergap keduanya," terang jenderal berbintang dua tersebut. 

Setelah diperiksa, isi plastik hitam itu ternyata sabu-sabu seberat 500 gram. Tidak berhenti di sana, pengusutan kasus dikembangkan dalam beberapa hari hingga Jumat (21/9). "Hasilnya, enam tersangka lain tertangkap secara berantai," paparnya.

Enam tersangka itu adalah Edu, Elisabeth, Dian, Edward, Husaini, dan Deky. Mereka merupakan pengendali dan pembantu dalam mengedarkan narkotika. "Dari enam orang ini, ditemukan sabu yang lebih banyak dengan berat 36,5 kg. Ini stok untuk ke lapas," ujarnya.

Bukan hanya sabu-sabu, ada juga 3 ribu butir ekstasi yang disita dari bandar spesialis lapas tersebut. Dia menjelaskan, dari skalanya yang besar, BNN menerapkan pasal tindak pidana pencucian uang (TPPU) terhadap mereka. "Kami akan miskinkan para bandar ini," tuturnya.

Apakah sudah ada hasil penjualan narkotika yang disita? Arman menjelaskan, uang tunai Rp 681 juta ditemukan. "Ditemukan di salah satu rumah bandar, ada juga sejumlah kendaraan roda empat yang disita," ujarnya.

Arman menjelaskan, diperlukan kerja sama banyak pihak untuk bisa memperbaiki lapas. BNN akan membantu Kemenkum HAM untuk melakukannya. Soal keterlibatan kepala lapas, Arman belum bisa memastikan. BNN masih mengembangkan penyelidikan kasus tersebut. Rencananya para tersangka diperiksa di Jakarta.

"Akan diketahui sejauh apa jaringan ini meracuni lapas," terang mantan Kapolda Kepulauan Riau tersebut. 

sumber: rmolsumut.com/jawapos.com

Editor: bt.

Ikuti Heta News di Facebook, Twitter, Instagram, YouTube, dan Google News untuk selalu mendapatkan info terbaru.