Wed 17 Oct 2018

Peresmian Rumah Adat Batak Jangga Dolok, Awal Kebangkitan Wisata Adat di Tobasa

Peresmian rumah adat Batak Jangga Dolok di Kecamatan Lumbanjulu, Kabupaten Tobasa, Sabtu (15/9/2018). (foto/nim)

Tobasa, hetanews.com - Peresmian dan pelaksanaan acara adat memasuki rumah baru (mangompoi jabu) di Huta Lumban Binanga, Desa Jangga Dolok, Kecamatan Lumbanjulu, Kabupaten Toba Samosir (Tobasa) menjadi awal kebangkitan wisata adat di kawasan Danau Toba yang sejak lama mati suri. 

Peresmian rumah adat Batak Jangga Dolok ini dilaksanakan sesuai dengan aturan dan norma yang terkandung dalam falsafah hidup masyarakat adat batak yaitu dalihan natolu (somba marhulahula, manat mardongan tubu, elek marboru).

“Perjalanan Desa Jangga Dolok sebagai salah satu destinasi wisata adat di Kecamatan Lumbanjulu banyak mengalami pasang-surut dalam perkembangannya. Banyak orang yang pernah singgah di rumah wisata adat Jangga Dolok, karena menjadi salah satu ikon wisata adat di Kabupaten Toba Samosir selain Danau Toba," ucap R. Manurung kepada hetanews.com, Sabtu (15/9/2018).

Peristiwa kebakaran yang menghanguskan empat unit bangunan rumah adat dan satu unit bangunan sopo sebagai identitas dan jati diri Bangsa Batak, awal 2016 lalu, lanjut R. Manurung, merupakan masa-masa sulit. Karena itu, melalui acara peresmian dan acara adat memasuki rumah baru ini menjadi momentum untuk kebangkitan wisata adat di Tobasa.

"Semua ini boleh terjadi karena kasih karunia Tuhan. Kami diberkati melalui tangan-tangan yang Tuhan kirimkan untuk menopang dan membantu kami. Kami juga berharap, pembangunan kembali rumah adat Batak di Jangga Dolok ini menjadi momen awal kebangkitan industri wisata adat di Kabupaten Toba Samosir ini,” harap R. Manurung.

Peresmian rumah adat Batak Jangga Dolok ditandai dengan pengguntingan pita oleh Tirto Untomo yang diwakili Yuri Antara (52). “Restorasi rumah adat Batak Jangga Dolok ini tidak terlepas dari dukungan banyak pihak, antara lain Yayasan Rumah Singgah, Yayasan Tirto Utomo, Himpunan Arsitektur Adat Nusantara, Akademisi dan Praktisi Arsitektur Adat, Pemerintah Kabupaten Toba Samosir serta masyarakat adat Jangga Dolok yang dengan tulus hati bekerja bersama dalam ikatan gotong royong, yang menjadi ciri khas budaya bangsa Indonesia," tutur Yori Antar dalam sambutannya.

Dirinya berharap, diresmikannya rumah adat tersebut dapat menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke Tobasa. Apalagi Tirto Utomo berjanji akan membangun kembali satu unit Rumah Adat Batak Jangga Dolok setelah pembangunan Sopo yang masih dalam proses diselesaikan.

Hal senada disampaikan Prof Yosef (64) mewakili Himpunan Arsitektur Adat Nusantara. “Rumah adat Batak tidak hanya menampilkan sisi indah dari bangunan rumahnya, tetapi lebih dalam lagi mengenai nilai-nilai moral yang terdapat di dalamnya. Ornamen yang terdapat dalam bangunan rumah adat batak menunjukkan identitas dan jati diri pemiliknya. Saya menilai, hal ini menarik untuk diteliti dan menjadi daya tarik yang perlu dipublikasikan sehingga dapat menarik minat wisatawan untuk datang berkunjung ke Toba Samosir ini terkhusus, ke Desa Jangga Dolok ini,” imbuhnya.

Acara yang dihadiri jajajaran Pemerintahan Kabupaten Toba Samosir,  Kepala Badan Otoritas Danau Toba dan lembaga adat Dalihan Natolu Toba Samosir serta masyarakat adat Jangga Dolok berlangsung hikmat dan meriah dengan menghadirkan musik tradisional Batak Toba yaitu Gondang Sabangunan. 

Pemkab Tobasa yang diwakili Kepala Dinas Pariwisata Tobasa, Audi Murti Sitorus menyebutkan, restorasi rumah adat Batak Jangga Dolok ini menjadi titik balik kehidupan industri pariwisata di Toba Samosir. Dirinya juga berharap melalui peresmian rumah adat Batak Jangga Dolok awal yang baik bagi perkembangan dunia pariwisata dan dapat diikuti daerah-daerah lain di kawasan Danau Toba. 

“Tidak hanya satu rumah adat, tetapi akan menyusul rumah-rumah adat Batak yang lain di Kabupaten Toba Samosir, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Toba Samosir,” harap Audi Murti Sitorus yang diamini keturunan Oppu Marhutala Manurung, Dr. Luhut Manurung (52). 

Penulis: nim. Editor: anto.