HETANEWS

Simak Sidang Ini, Pemohon Seyogianya Korban

Saksi saat memberikan keterangan dalam persidangan prapid, di PN Simalungun. (foto/ayu)

Simalungun,hetanews.com- Pemohon pra-peradilan Biraba Siahaan alias Miraba Siahaan (43), mempraperadilankan (prapid) Kapoldasu cq Kapolres Simalungun cq Kapolsek T.Jawa terkait penetapannya sebagai tersangka.

Persidangan prapid mulai digelar Rabu (12/9/2018), di Pengadilan Negeri (PN) Simalungun.

Menurut kuasa pemohon, Daulat Sihombing, pemohon seyogianya adalah korban pengrusakan, penghinaan dan pemerasan. Karena si pelapor, Juni Richard Simanjuntak yang merusak pekerjaan yang dilaksanakan pemohon hingga rusak 2 meter. Akibatnya, pemohon mengalami kerugian. Perbuatan pelapor ini disaksikan banyak pekerja.

Tapi pelapor, Juni Richard mengadukan pemohon prapid ke Polsek Tanah Jawa terkait penganiayaan dan pengancaman. Lalu Polsek Tanah Jawa menetapkan Biraba Siahaan jadi tersangka.

Padahal, pemohon pra pidana telah berdamai dengan Juni Richard, sebesar Rp.500 ribu, karena kakinya biram saat terjatuh di lokasi proyek yang dikerjakan pemohon prapid.

Biraba yang keberatan dengan penetapannya sebagai tersangka, berupaya mengadukan balik, Juni Richard yang sudah merusak pekerjaan proyek pembangunan parit pasangan. Namun, Polsek Tanah Jawa menolak pengaduannya.

Polsek Tanah Jawa berupaya mendamaikan pemohon prapid dan pelapor. Tapi Juni Richard minta Rp.100 juta yang dianggap pemohon sebagai pemerasan.

Pemohon prapid merasa keberatan dengan sikap Polsek Tanah Jawa yang menolak laporannya. Diduga Polsek Tanah Jawa tidak bersikap netral dan memanipulasi fakta juga kesaksian palsu, sebut Daulat dalam permohonan prapidnya.

Dalam proses penyelidikan dan penyidikan patut diduga telah terjadi pelanggaran kode etik profesi, sebagaimana diatur dalam Peraturan Kapolri No: 14/2011, kata Daulat lagi.

Penulis: ay. Editor: gun.