HETANEWS

BI: Tekanan ke Rupiah Akan Berkurang Setelah Suku Bunga Acuan AS Naik

Petugas menghitung pecahan uang dolar AS

Jakarta, hetanews.com - Kenaikan suku bunga acuan AS atau Fed Fund Rate pada September dan Desember mendatang diprediksi hanya sedikit memberikan tekanan pada nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI) Nanang Hendarsah mengatakan, tekanan di pasar keuangan akan minimal, meski pelaku pasar masih akan merespons kenaikan dolar AS pada periode tersebut. Hal ini karena pelaku pasar telah mengantisipasi kenaikan suku bunga acuan tersebut (price-in) sejak saat ini.

"Dengan demikian, ketika The Fed merealisasikan kenaikan suku bunga acuannya, dampaknya menjadi minimal. Karena reaksi pelaku pasar domestik selama ini terlalu berlebihan dalam mengantisipasi kenaikkan suku bunga The Fed tersebut," ujar Nanang.

Dia melanjutkan, Gubernur Bank Sentral AS (The Fed) Jerome Powell pada simposium di Jackson Hole akhir pekan lalu juga telah menyiratkan kenaikan suku bunga acuan akan dilakukan secara bertahap.

Powell, kata Nanang, juga melihat risikonya sangat kecil bahwa inflasi akan terakselarasi ke luar dari target The Fed. Pernyataan ini juga yang membuat dolar AS melemah terhadap Euro dan beberapa mata uang pada negara berkembang, Eropa, dan Amerika Latin.

"Selisih suku bunga antara rupiah dan dolar AS saat ini juga seharusnya membuat rupiah atraktif bagi pelaku pasar," katanya.

Kepala Divisi Asesmen Makroekonomi BI Fadjar Majardi sebelmya juga mengatakan, pihaknya melihat investor sudah mengantisipasi kenaikan suku bunga AS bulan depan dan pada akhir tahun ini. Sehingga pihaknya optimistis di bulan depan tekanan terhadap rupiah akan berkurang.

"Mereka sudah price in. Biasanya kan memang begitu, sebelum naik mereka bergejolak, justru ketika dekat-dekat kenaikan akan berkurang tekanannya," kata Fadjar.

sumber: kumparan.com

Editor: sella.