HETANEWS

Miris, di Humbahas Ada Masyarakat Puluhan Tahun Mengkonsumsi Air Tercemar

Kondisi sungai yang tercemar di Dusun Sipariama, Desa Parsingguran II. (foto/rachmat tinton)

Humbahas,hetanews.com- Pencemaran air merupakan masalah global utama yang membutuhkan evaluasi dan revisi kebijakan sumber daya air pada semua tingkat (dari tingkat internasional hingga sumber air pribadi dan sumur).

Polusi air, merupakan penyebab terkemuka di dunia untuk kematian dan penyakit. Air yang tercemar tentu membawa banyak kerugian bagi masyarakat, mengingat kedudukan air sebagai salah satu elemen terpenting dari kehidupan kita.

Situasi buruk terkait pencemaran air tersebut, nampaknya hingga kini masih terjadi di Dusun Sipariama, Desa Parsingguran II, Kecamatan Pollung, Humbang Hasundutan (Humbahas).

Beberapa warga melaporkan, pengerjaan proyek Embung Tambok Bolon yang dilakukan oleh PT Bukit Zaitun, nampaknya berpengaruh besar terhadap sungai kecil yang menjadi tempat mereka selama ini mengambil air. Sebab proyek itu berada di hulu sungai tersebut. 

Debit air kini menjadi berkurang. Warna air juga berubah menjadi putih kecoklatan. 

"Akibatnya, kami tidak bisa lagi mandi dan mencuci di sungai. Apalagi untuk diminum, itu gak mungkin,"ujar seorang warga, Selasa (14/8/2018).

Untuk mendapatkan air, kini warga harus hijrah ke dusun tetangga mereka sejauh sekira 4 km.  Mereka pun terpaksa mengetuk rumah para sanak saudara, di sana, guna meminta air untuk dibawa pulang ke kampungnya.

"Ini sangat berat bagi kami, waktu menjadi banyak yang tersita.  Durasi kami bekerja  di ladang menjadi banyak yang tersunat,"imbuh warga lainnya. 

Tinjauan di lokasi,  air  sungai yang biasa dipergunakan para warga itu memang sungguh tak layak dikonsumsi. Warna air  berubah menjadi putih kecoklatan, akibat mengeruh.

Penyebabnya adalah karena pihak rekanan yang mengerjakan proyek Embung Tambok Bolon, memasukkan alat berat jenis excavator untuk mengeruk dan memperlebar sungai. 

Terlepas dari itu,  nampaknya air tersebut memang sangat tak pantas dipergunakan warga. Pasalnya, sebelum sampai di hilir tempat warga menggunakan air,  air tersebut sudah terlebih dahulu melewati persawahan dan perladangan warga. Bahkan sawah tersebut juga kerap digunakan para pemiliknya menjadi tempat ternak kerbau mereka, diangon sepanjang hari. 

Kondisi ini sangatlah miris, dan para warga juga mengakuinya. 

"Iya, air yang nyampai ke kami memang sudah terlebih dahulu melewati sawah-sawah dan ladang. Tapi apa boleh buat, air tersebut terpaksa kami gunakan meski banyak juga yang mengeluh. Karena efeknya,  banyak yang mengalami gatal-gatal selama ini. Ini sudah terjadi sejak lama, puluhan tahun lalu, bahkan semenjak kampung ini baru ada,"ungkap warga lainnya. 

Penulis: rachmat. Editor: gun.

Ikuti Heta News di Facebook, Twitter, Instagram, YouTube, dan Google News untuk selalu mendapatkan info terbaru.