Simalungun,hetanews.com- Warga di sepanjang tepi jalan jurusan Perdagangan - Kota Siantar, Kecamatan Bandar, Kabupaten Simalungun yang terkena imbas kegiatan peningkatan jalan, keluhkan debu proyek yang dapat mengancam kesehatan warga sekitar.

Mereka pun berharap agar penanggung jawab pekerjaan, memperhatikan dan memikirkan dampak proyek itu bagi warga dan lingkungan sekitar.

"Hampir setiap hari dalam seminggu ini, kami mau tidak mau harus melakukan penyiraman. Kalau tidak, debu efek dari peningkatan jalan ini dapat menebal didalam rumah dan ujung-ujungnya bisa menimbulkan penyakit ispa dan TBC maupun paru-paru. Padahal, sebagaimana kami ketahui, seyoginya penanggung jawab pekerjaan ini yang harus melakukan penyiraman," kesel warga, ngaku bernama Ali, Jumat (10/8/2018).

Dikatakan warga, bahwa terhitung bahan baku peningkatan jalan (sirtu) diamprah, lalu dipadatkan, pihak rekanan sama sekali tidak ada melakukan penyiraman agar pemadatan jalan yang dikerjakan maksimal. "Tidak ada, dan tidak pernah kami melihat adanya water tank saat pemadatan jalan ini,"ujarnya

Tertera pada plang proyek, persis di tepi jalan, bahwa kegiatan tersebut merupakan pemeliharaan berkala jalan provinsi ruas Pematang Siantar – Perdagangan, Kabupaten Simalungun dengan nomor kontrak 602/ UPTJJS - KPA/ DBMBK/2018/ tanggal 21 Juni 2018.

Senilai, Rp 2,514 milyar bersumber dari dana APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) Provinsi Sumatera Utara Tahun Anggaran (TA) 2018 dengan masa kerja selama 90 hari kalender tersebut, dikerjakan oleh PT Pusaka Agung Jayakarya tanpa mentetakan alamat perusahaan.

Miris lagi, proyek Pemprovsu yang terkesan dibantarkan, mengingat tidak adanya lagi aktivitas pekerja dilokasi, disampaikan warga lainnya, sudah berlangsung sekira sepekanan. "Udah ada sekira sepekan kegiatan ini terhenti, dan alat - alat kerjanyapun sudah tidak tampak mungkin sudah dibawa,"bilangnya.