HETANEWS

Mencuat Isu Ikan Bertelur Berbahaya Bagi Kesehatan, Begini Penjelasan Kementerian Kelautan dan Perikanan

Jakarta, hetanews.com-Baru-baru ini beredar isu di sosial media (sosmed) terkait telur ikan yang membahayakan tubuh sempat viral di sosmed. Jangan percaya kabar tersebut! Pesan tersebut jelas hanya kabar miring atau hoax yang mestinya Anda bisa langsung hapus dan tidak kemudian panik lalu menyebarkan ke teman-teman lain.

Sebelum membagikan berita atau postingan di media sosial, pengguna sosmed teliti dan lihat kebenaran informasi yang beredar, agar tidak ikut-ikutan membagikan berita bohong ke publik.

Seperti berita yang beredar baru-baru ini.

Di pesan itu tertulis,

“Perhatian pada penggemar makanan laut bila nampak dalam perut ikan sejenis telur ikan seperti dalam gambar ini, tolong jangan dimaka, karena ini adalah racun bukan telur ikan.

Tumor cancer dari ikan, akibat logam berat, jangan dianggap telor ikan lalu dimakan. Kalau ibu hamil yang makan anaknya jadi ABK (anak berkebutuhan khusus, Red) tipe autistic.. bantu sebarkan….”

Kalimat ini mungkin bagi sebagian orang akan membuat penerimanya panik. Pasalnya, mungkin mereka pernah dengan sengaja mengonsumsi telor ikan dan kemudian khawatir telor ikan yang selama ini dikonsumsi bisa saja parasit penyebab masalah kesehatan.

Tapi, ditegaskan Kementerian Kelautan dan Perikan dalam pernyataan resminya, bahwa kabar itu hoax dan jangan pernah Anda percayai.

Statement ini pun tidak sembarang dibuat. Dalam siaran persnya pada 1 November 2017, dijelaskan dengan gamblang di sana bahwa seluruh isi pesan broadcasting tersebut salah dan KKP pun memberikan penjelasan ilmiahnya.

  • Berikut pernyataan resmi KKP:

Sehubungan dengan beredarnya informasi terkait isu adanya kandungan logam berat beracun menyerupai telur pada komoditas ikan Sarden atau Sardin di Indonesia, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dalam hal ini otoritas yang berwenang terhadap pengawasan keamanan produk hasil perikanan menyatakan bahwa informasi tersebut tidak benar. Oleh karena itu, KKP perlu untuk meluruskan isu tersebut dengan penjelasan sebagai berikut:

1. Jenis ikan yang saat ini ramai diberitakan adalah bukan di Indonesia ataupun berasal dari perairan Indonesia. Ikan Sardin jenis tersebut diketahui berasal dari kelompok Family Clupeidae, namun secara morfologis tidak mirip dengan ikan Siro (Amblygaster sirm) maupun Ikan Lemuru (Sardinella lemuru) yang terdapat di Indonesia, yang menjadi bahan sardin kalengan atau ikan asin.

2. Pada kasus Ikan Sardin yang ramai diberitakan, benda mirip telur atau kristal di dalam perut makanan Ikan Sardin kaleng yang dianggap tumor atau kanker berbahaya tersebut merupakan Glugea sardinellensis (sejenis protozoa). Glugea mampu membuat sel-sel disekelilingnya menyerupai bola untuk membentuk perisai. Sel berbentuk telur ini dapat bertumbuh hingga ukuran 1-18 mm yang disebut dengan Xenoma. Di mana ikan tumbuh dalam kelompok besar, Glugea akan menyebar lebih banyak. Jadi dapat dipastikan bahwa benda mirip telur atau kristal tersebut bukan diakibatkan oleh kandungan logam berat sebagaimana diberitakan.

3. Parasit ini tidak menginfeksi pada manusia dan tidak berbahaya untuk dikonsumsi jika terlebih dahulu dibersihkan, dicuci, dan direbus dengan benar. Glugea sebenarnya bukanlah penyakit aneh, langka, atau pun berbahaya sehingga tidak perlu dihindari.

4. Ikan Sardin di Indonesia umumnya dijual dalam bentuk kemasan kaleng dan sudah melalui tahap jaminan mutu dan keamanan pangan yang sangat ketat melalui sertifikasi SKP, HACCP, MD dan sekarang SPPT SNI. Hal itu mengacu kepada standar FAO (Food and Agriculture Organization of the United Nations) atau Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa, sehingga aman dikonsumsi.

5. Persyaratan mutu dan keamanan produk Ikan Sardin dalam kemasan salah satunya adalah cemaran logam (Hg, Pb, Cd, Sn dan Arsen) di bawah batas yang di ijinkan. Jika salah satu logam berat melebihi ambang batas maka sertifikat mutu di atas tidak akan diterbitkan.

6. Saat proses produksi, cara pengolahan dan sanitasi sudah diterapkan dengan baik. Sudah semestinya jika terlihat butiran seperti telur ikan akan otomatis dibersihkan karena kasat mata.

7. Jika diduga butiran telur itu adalah parasit dan masih tertinggal dalam produknya, maka parasit dan sporanya sudah pasti mati, karena sarden dalam kemasan kaleng telah melalui proses pemanasan tinggi (sterilisasi) dengan persyaratan pangan sterilisasi komersial.

8. Apabila ikan sudah dikeluarkan dari kaleng, dan dibiarkan lama di suhu ruang, makan akan terjadi kontaminasi yang memungkinkan ulat/belatung berada dalam produk sarden kaleng. Ini tentu merupakan kelalaian fatal dari konsumen.

9. Konsumen diharapkan lebih cermat dan teliti dalam melihat tanggal kadaluarsa yang tercantum dalam kemasan kaleng.

So, jangan pernah mau termakan pesan hoax, ya. Anda mesti cerdas memilah informasi dan jangan asal sebar-sebar berita. Ingat, menyebarkan berita bohong itu sebuah tindak kejahatan!

 

sumber: sipayp.com

Editor: sella.