HETANEWS.COM

DPO Kasus Korupsi Ini Ungkap Nama Pemborong DN usai Ditangkap

Tim Inteljien Kejati Sumut, mengamankan DPO Kasus Korupsi DAK Dinas Pendidikan Binjai, Direktur CV Aida Cahaya Lestari Dodi Asmara (tengah) ke Lapas Binjai, Minggu (22/7/2018). Tribun Medan/HO

Binjai, hetanews.com- Kandas sudah 4 bulan pelarian Direktur CV Aida Cahaya Lestari, Dodi Asmara (36) yang menyandang status Daftar Pencarian Orang (DPO) Kejaksaan Negeri Binjai.

Dodi Asmara dicokok tim gabungan Intelijen Kejaksaan Tinggi Sumut di Hotel Grand Darussalam, Jalan Darussalam, Medan Petisah, Minggu (22/7/2018).

Usai diperiksa dan diinterogasi, Dodi diserahkan ke Kejari Binjai, lalu dijebloskan ke ruang tahanan Lapas Binjai. Dari balik jeruji tahann Kejari Binjai, Dodi Asmara berujar dalih tidak melakukan pengadaan alat peraga SD Dinas Pendidikan Binjai dengan pagu Rp 1,2 Miliar.

Pria yang telah membujang selama 36 tahun ini mengaku pengadaan alat peraga tersebut dilakukan oleh DN.

"Bukan saya yang melakukan pengadaan. Saya sebenarnya sudah enggak mau, cuma DN yang pemborongnya pakai atas nama perusahaan saya. Dari keluar tender, DN yang mengerjakan. Perusahaan itu atas nama saya," beber warga Jalan Glugur Rimbun, Desa Sei Glugur, Pancurbatu, Deliserdang ini.

Dodi mengaku bahwa selama diburon penyidik tidak ada pergi kemana-mana selain di sekitar Kota Medan. Ia pernah bekerja sebagai tukang bangunan sebelum beralih profesi sebagai supir antar jemput di Hotel Grand Darusalam.

"Gak ada kemana-mana saya. Di Medan saja. Saya baru siap kerja bangunan, tadi ditelepon untuk bawa tamu ke bandara. Setelah bawa tamu itu, baru balik dari bandara (ditangkap)," ujar dia.

Dodi mengaku bahwa CV Aida Cahaya Lestari memang atas nama dirinya. Namun yang melakukan pengadaan tersebut adalah DN. Kata Dodi Asmara, dia hanya mendapat komisi Rp 20 juta dari nilai pagu anggaran sebesar Rp1,2 miliar.

"Selama ini saya tidak tahu berapa semua nilai kontraknya, Saya cuma dapat fee Rp20 juta. Setelah tender di bulan 7 atau bulan 8 2010 lalu itu, fee itu saya dapat," ujar dia.

Lari selama empat bulan denggan menyandang status DPO, Dodi merasa takut untuk datang menghadap penyidik ketika dipanggil sebagai saksi. Selain itu dia mengaku sibuk bekerja.

"Saya takut mau datang, kan ada kerjaan juga. Sekali saja saya pernah datang, itu waktu dipanggil sebagai saksi pas bulan Juni kemarin," pungkasnya.

Kajari Binjai, Victor Antonius Saragih Sidabutar mengatakan didampingi Kasi Intelijen Erwin Nasution membenarkan ada nama DN yang melakukan pengadaan tersebut. Keterangan yang dibeberkan Victor sejalan dengan ucapan Dodi Asmara sebelumnya. Selain nama baru dalam kasus ini, yakni DN, penyidik juga tengah mendalami keterlibatan oknum pejabat lain yang diduga terlibat.

"Saat ini ‎demua tiga tersangka. Baru seorang yang sudah ditahan, dua tersangka masih belum ditahan. Kami masih mendalami keterlibatan oknum lainnya, apakah ada yang lain," jelas Viktor

Dijelaskan Kajari pengadaan tersebut diduga sebagiannya fiktif. Pasalnya, amatan hasil kasat mata, sekilas kerugian negara ditaksir sudah mencapai Rp 800 juta dari pagu 1,2 miliar.

‎"Taksiran kasat mata Rp 800 juta karena sebagian fiktif. Itu masih hitungan secara kasat mata (kerugian negara). Saat ini masih penghitungannya berjalan di BPKP. Tersangka ini menandatangani kontrak di warung yang kemudian mendapat fee," pungkas Victor.

Diketahui, penyidik menetapkan tiga tersangka dalam perkara dugaan korupsi pengadaan alat peraga sekolah dasar yang sumber anggarannya dari Dana Alokasi Khusus dengan pagu anggaran sebesar Rp1,2 miliar. Pengadaan tersebut dilakukan oleh Dinas Pendidikan Kota Binjai.

Ketiga tersangka itu yakni, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu Kota Binjai‎ (pernah menjabat Pelaksana Harian Kepala Dinas Pendidikan merangkap Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Binjai) Ismail Ginting, Bagus Bangun selaku Pejabat Pembuat Komitmen dan rekanan pelaksana pengadaan barang Direktur CV Aida Cahaya Lestari Dodi Asmara. Mereka ditetapkan tersangka oleh penyidik pada 28 Maret 2018.

Dalam proses penyelidikannya, 10 kepala sekolah juga sudah diperiksa sebagai saksi.‎ Direktur CV Aida Cahaya Lestari yang DPO Kejari Binjai sudah ditangkap dan kini dititipkan ke Lembaga Pemasyarakatan Klas II A Binjai.

Sementara Bagus Bangun dan Ismail Ginting tidak ditahan dengan alasan kooperatif. Perbuatan mereka diduga menguntungkan diri sendiri dan melakukan perbuatan melawan hukum.

Sumber: tribunnews.com

Editor: gun.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan