HETANEWS

Android Terancam Tidak Gratis Lagi Akibat Kasus Monopoli Google

Sistem operasi Android.

Eropa, hetanews.com - Google sedang terbelit kasus monopoli sistem operasi buatannya, yaitu Android di Eropa. Komisi Persaingan Usaha Eropa menjatuhkan sanksi denda kepada Google sebesar 5 miliar dolar AS atau sekitar Rp 72,1 triliun.

Kasus ini bisa mengancam model bisnis Google untuk Android ke depannya. Saat ini sistem operasi Android dikenal dengan pemakaiannya yang gratis, tidak membebankan biaya kepada produsen smartphone.

Komisi Persaingan Usaha Eropa menyebutkan Google telah menyalahgunakan dominasi Android di pasaran, seperti mengharuskan produsen smartphone untuk memasang aplikasi Google Search dan browser Chrome agar mendapatkan lisensi Play Store.

Hal ini bisa kamu lihat pada perangkat smartphone Android yang baru kamu beli. Di dalamnya pasti sudah ada aplikasi Google Search dan Chrome.

Selain itu, Google juga disebut telah mengambil keuntungan dari manufaktur besar dan operator seluler yang secara eksklusif menginstal aplikasi Google Seach di perangkatnya sebelum dipasarkan.

Poin terakhir, Komisi Persaingan Usaha Eropa mengatakan Google telah melarang produsen smartphone untuk membuat perangkat yang berjalan dalam versi alternatif Android.

Akibatnya, Google diminta untuk segera menghentikan 'tindakan ilegal' itu dalam waktu 90 hari dari keputusan tersebut Raksasa teknologi itu pun bersiap mengajukan banding terhadap keputusan tersebut.

Dalam blog resmi perusahaan, CEO Google Sundar Pichai menjelaskan bagaimana Google menjalankan model bisnisnya untuk Android, sebagai tanggapan terhadap kasus monopoli yang sedang dihadapi perusahaannya di Eropa.

"Android telah menciptakan lebih banyak pilihan untuk semua orang, tidaklah sedikit. Ekosistem yang bergairah, inovasi yang berjalan cepat, dan harga murah menjadi penanda persaingan yang sehat," ujar Pichai.

CEO Google, Sundar Pichai
CEO Google, Sundar Pichai. (Foto: Denis Balibouse)

Lebih lanjut, Pichai mengisyaratkan bahwa model bisnis Android gratis bergantung pada paket pemasangan aplikasi pada perangkat yang diciptakan produsen. Ia juga khawatir jika keputusan Komisi Persaingan Usaha Eropa akan merusak model bisnis tersebut.

"Sejauh ini, model bisnis dari Android mengartikan kami tidak perlu membebankan biaya kepada pembuat ponsel untuk teknologi kami, atau bergantung pada model distribusi yang dikontrol ketat," ujar Pichai.

“Namun kami khawatir keputusan hari ini (dari Komisi Persaingan Usaha Eropa) akan mengganggu keseimbangan yang telah kami bangun dengan Android, dan itu dapat menjadi ancaman bagi kepemilikan sistem atas platform terbuka," lanjutnya.

Secara tersirat Google memperingatkan jika model bisnis Android bisa berubah akibat keputusan Komisi Persaingan Usaha Eropa. Hal ini juga bisa jadi membuat mereka perlu mempertimbangkan pemberian lisensi Android kepada pembuat smartphone.

Tuduhan monopoli pasar yang dialamatkan untuk Google telah berjalan sejak 2016. Dominasi Google memang tak terelakkan. Mereka memiliki lebih dari 90 persen pangsa pasar untuk mesin pencariannya di seluruh dunia dan sekitar 60 persen untuk pangsa pasar aplikasi browser. Pasar smartphone sendiri didominasi Android dengan pangsa pasar sekitar 85 persen.

sumber: kumparan.com

Editor: sella.