HETANEWS

393 Bacaleg Bertarung Merebut 30 Kursi DPRD Siantar

KPUD Siantar. (foto/hugs)

Siantar, hetanews.com- Pendaftaran bakal calon legislatif  (bacaleg) oleh masing – masing partai politik (parpol) untuk Pileg 2019 telah selesai.

Saat ini tinggal menunggu hasil verifikasi dan penetapan daftar calon sementara (DCS) oleh Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Siantar.

Dari tahapan pendaftaran, ada parpol yang tidak mendaftarkan bacaleg sesuai dengan jumlah parpol yang ditentukan.

Total keseluruhan partai yang mendaftar yakni 16 parpol peserta pemilu. Dari 16 parpol tersebut, ada yang tidak melengkapi jumlah bacaleg yang dibutuhkan, yakni 30 orang. Meski demikian, ke 16 partai tersebut keselurahanya melengkapi kebutuhan untuk kuota perempuan.

Partai Kebangkitan Bangsa yang hanya mendaftarkan 17 calon, Partai Gerakan Perubahan Indonesia 16 calon, Partai Keadilan Sejahtera 13 calon, Partai Persatuan Pembangunan dan Partai Solidaritas Indonesia sama-sama mencalonkan 27 orang, sementara Partai Amanat Nasional 29 calon, Partai Bulan Bintang 19 calon, yang paling sedikit yakni Partai Berkarya hanya 5 calon. 

Untuk bacaleg laki-laki berjumlah 249, dan perempuan berjumlah 144.  Sehingga total keselurahan bacaleg sebanyak 393 orang. Jumlah tersebut diperkirakan akan bertarung untuk memperebutkan 30 kursi DPRD Siantar. 

Direktur Pasca Sarjana USI, Robert Siregar menyampaikan, pendaftaran bacaleg mulai dari tingkat kota dan kabupaten hingga pusat, belum menunjukkan kedewasaan demokrasi dan belum berjalan seperti yang diharapkan.

Dari para bacaleg yang terdaftar, menurutnya, terdapat beberapa catatan yang memberi warna buram kedewasaan demokrasi, seperti beberapa kader partai yang inkonsisten.

"Adanya perpindahan kader dari partai A ke partai B, dengan begitu gampangnya melakukan “kutu loncat” hanya untuk dapat dicalonkan dengan hanya melihat peluang nomor urut atau apalah. Padahal, jika memang seorang kader yang sudah militant, maka perilaku semacam ini tidak mungkin terjadi,"tuturnya, Kamis (18/7/2018).

Robert menilai, hal ini diakibatkan tidak berjalannya sistem pengkaderan pada partai yang bersangkutan, sehingga seorang kader dapat semena-mena melakukan aksi akrobatic politik dengan dengan pindah partai.

Dirinya berharap, parpol harus dengan matang mempersiapkan pola rekrutment kader dan pembinaan sampai rekrutment caleg yang akan diusung. 

"Fenomena saat ini, banyak yang terjadi seorang diikutkan menjadi caleg yang awalnya dari partai A mencalonkan di partai B, dan kader yang ada pada partai B tergerus tidak ikut caleg. Hal ini tentu menjadi pertanyaan, dimana pola rekrutment kader dan sistem pengusungan mengutamakan kader. Hal ini membuat kita miris dengan kehidupan demokrasi kita menuju baik atau tidak," pungkasnya.

Penulis: gee. Editor: gun.