Tue 17 Jul 2018

KPAID Batubara Minta Disdik Sumut Verifikasi Siswa Gunakan SKTM

Komisioner KPAID Batubara, Syawaluddin Pane. (foto/ Ebson A. Pasaribu)

Lima Puluh, hetanews.com- Penggunaan SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu) disinyalir banyak disalahgunakan, demi memasukkan anak ke jenjang pendidikan lebih tinggi melalui PPDB.

Terkait hal tersebut, Komisi Perlindungan Anak Indonesia ( KPAI) Kabupaten Batubara, meminta Dinas Pendidikan (Disdik) Sumut segera lakukan verifikasi terhadap Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di Batubara karena ada temuan KPAID yang tidak sesuai.

"Kalau Disdik Sumut tidak melakukan verifikasi itu jangan salahkan kita yang melakukannya,"tegas komisioner KPAID Batubara, Syawaluddin Pane kepada wartawan, Kamis (12/7/2018), di Lima Puluh.

Persoalan penggunaan SKTM, menurutnya, adalah sebagian persoalan dari banyak persoalan dalam PPDB saat ini. 

Adalagi persoalan zonasi, parameternya tidak jelas, sebab ada calon siswa yang memiliki nilai tinggi dengan zona yang sama tidak dapat masuk, tapi siswa yang rendah dalam zona yang sama masuk.

"Kita sudah melaporkan persoalan ini ke Cabdisdik  Provsu di Kisaran, jawaban yang diterimanya aturan ini akan ditinjau kembali untuk tahun depan, jadi kesannya aturan ini masih coba-coba, tapi ini merugikan anak bangsa yang berhak mendapatkan pendidikan," sesal Syawal.

Akibatnya, menurut Syawalm siswa yang tergolong tidak mampu itu terpaksa masuk sekolah swasta, yang tentunya membutuhkan biaya yang lebih besar.

Terpisah Plt Kadis Pendidikan Batubara, Bahrumsyah mengatakan, PPDB untuk tingkat SMP dan SD  sebagai wilayah kerjanya tidak ada persoalan. Namun ia mengakui  untuk tingkat SMAN ada mendengar persoalan- persoalan.

"PPDB untuk tingkat SMAN itu bukan wilayah kerja  dinas kabupaten, saya tidak bisa masuk ke sana," kata Bahrum.

Ia  juga menyesalkan sekolah terlalu kaku tidak mau  berkordinasi dengan dinas kabupaten, padahal pemerintah itukan satu dari tingkat pusat sampai daerah. Menurutnya, persoalan yang ada bisa dicarikan solusinya asalkan mau berkordinasi, sehingga persoalan persoalan apakah itu soal kekurangan ruangan, dan kekurangan guru bisa dicarikan jalan keluarnya.

Penulis: tim. Editor: gun.