Asahan, hetanews.com - Sejumlah rumah milik warga di Lingkungan VI Kelurahan Aek Loba Pekan, Kecamatan Aek Kuasan, Kabupaten Asahan mengalami kerusakan.

Diduga ini karena truk-truk pengakut Crude Palm Oil (CPO) milik PT Varem Sawit Cemerlang (VSC) yang melintas melebihi tonase.

Hal itu dijelaskan Kapolres Asahan, AKBP Yemi Mandagi melalui Kasat Reskrim, AKP M Arif Batubara didampingi Kanit Tipiter, Ipda Erwin Syahrizal, Minggu (8/7/2018) saat press release di ruang kerjanya.

"Saat ini kita sedang menangani laporan kasus pengerusakan yang disampaikan warga Lingkungan VI Kelurahan Aek Loba Pekan sesuai Laporan Polisi (LP) Nomor: LP-B/320/VI/2018/SU/Res Ash tertanggal 2 Juni 2018," paparnya.

Berdasarkan keterangan Rosita sebagai pelapor dan korban, banyak rumah warga yang mengalami kerusakan dan diduga akibat ditimbulkan dengan melintasnya truk-truk pengangkut CPO milik PT VSC melebihi tonase.

Selanjutnya berdasarkan laporan itu, pihaknya sudah melakukan pemeriksaan terhadap saksi - saksi yang menjadi korban, di antaranya, Rosita (37), Tugiman (60), Misriana (37) dan Mismar Sitorus (83) yang semuanya tinggal di Lingkungan VI.

Menurut keterangan Rosita, kejadian itu terjadi sekitar bulan Desember 2017. Rumah yang ditempati temboknya mengalami retak-retak.

Diduga diakibatkan truk-truk pengangkut CPO dan cangkang milik PT VSC yang melintasi jalan di depan rumahnya melebihi tonase. Kemudian korban mengaku mengalami kerugian matril Rp 30 juta. Keterangan korban lain juga mengalami kerugian karena rumahnya retak-retak.

Mantan Kasat Reskrim Polres Tebingtinggi itu menjelaskan, berdasarkan laporan warga itu, diduga PT VSC telah melanggar pasal 406 KUHP tentang pengerusakan.

Ayat 1 disebutkan 'barang siapa dengan sengaja dan melawan hak membinasakan, merusakkan, membuat hingga tidak dapat dipakai lagi atau menghilangkan suatu barang yang sama sekali atau sebahagiannya kepunyaan orang lain, dihukum penjara selama lamanya 2 tahun 8 bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp 4.500'.

Ayat 2 'hukuman serupa dikenakan juga kepada orang yang dengan sengaja dan dengan melawan hak membunuh, merusakkan, membuat sehingga tidak dapat digunakan lagi atau menghilangkan binatang yang sama sekali atau sebahagiannya kepunyaan orang lain'.

"Untuk menindaklanjuti laporan itu, kita akan meminta keterangan dari ahli bangunan (tekhnik sipil), Dinas Perhubungan (Dishub) Bidang Angkutan, Dinas Bina Marga dan PTPN IV. Setelah itu akan dilakukan gelar perkara ke Polda Sumatera Utara (Poldasu)," tutup Arif Batubara.