Siantar, hetanews.com- Aksi protes yang dilayangkan aktivis kemanusiaan, Ratna Sarumpaet, mengundang perhatian kalangan akademisi di kota Siantar.

Ratna dinilai kurang menunjukkan sikap bijaksana dalam menyampaikan pendapat, hingga memicu perdebatan panas dengan Menteri Kordinator (Menko) Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan, di Pelabuhan Tigaras, Kabupaten Simalungun, kemarin.

Perempuan kelahiran Tarutung, 16 Juni 1948 ini, bahkan sempat berdebat dengan salah seorang warga dan melontarkan kata kepada salah seorang keluarga korban agar jangan mau dibayar oleh pemerintah.

Pendiri organisasi sosial, Ratna Sarumpaet Crisis Centre ini menilai, ada manipulasi yang telah dilakukan terkait keputusan penghentian operasi pencarian korban KM Sinar Bangun oleh pemerintah.

Dengan nada lantang, perempuan berusia 69 tahun ini terus menyampaikan aspirasinya, kendatipun Luhut Binsar, enggan berbicara kepada Ratna.

Sikap Ratna inilah yang akhirnya menuai tanggapan dari akademisi, Rony Andre C. Naldo. Menurutnya, sepatutnya Ratna menyampaikan pendapat dengan nada santun dan tidak memicu perdebatan.

"Luhut Binsar sudah mengatakan kalau Ratna ingin bicara setelah Luhut selesai berbicara dengan keluarga korban, mengapa Ratna tidak menunjukkan sikap arif sebagai seorang aktivis,"kata Rony kepada hetanews, Rabu (4/7/2018).

Sambungnya, sangat disayangkan bila Ratna yang sudah dikenal sebagai publik figur, justru memicu perdebatan di tengah-tengah suasana duka.

"Sangat disayangkan bila ada perdebatan di tengah keluarga korban yang masih berduka, bagaimana pun menyampaikan pendapat sepatutnya tetap menggunakan etika," ujarnya.

Rony menambahkan, bila Ratna benar menyatakan kritik terhadap pemerintah, sebaiknya Ratna juga harus menyertakan solusi serta saran yang sesuai dengan konteks masalah.

"Ada kritik tentu ada saran, bila pakar geologi serta tim gabungan Basarnas mememukan kesulitan evakuasi bangkai kapal dan korban disebabkan kedalaman danau Toba yang tidak dapat dijangkau atau alasan lainnya. Lantas apa solusi lain yang ditawarkan Ratna dalam menyikapi ini,"terangnya.

Sementara itu, Ketua Presidium Perhimpunan Mahasiswa Katolik Indonesia (PMKRI) Siantar, Alboin Samosir, menilai ada yang benar dari apa yang disampaikan Ratna, namun waktu dan tempat serta cara penyampain Ratna yang dinilai tidak tepat.

"Ya ada yang benar dari maksud Ratna, bahwa sebaiknya pencarian masih bisa dilakukan, akan tetapi cara penyampaian serta waktu dan tempatnya yang kurang tepat," kata Alboin.