HETANEWS
CITIZEN JOURNALISM

Ini Harapan Tokoh Agama dan Keluarga Korban KM Sinar Bangun saat Diadakan Pertemuan

Pertemuan dengan keluarga korban KM Sinar Bangun yang juga dihadiri Kapolres Simalungun, AKBP M Liberty Panjaitan, di balai harungguan Djabanten Damanik, Pematang Raya Simalungun, Minggu (1/7/2018) (foto/zai)

Simalungun, hetanews.com - Akhirnya Pemkab Simalungun menggelar pertemuan dengan keluarga korban Kapal Motor (KM) Sinar Bangun yang juga dihadiri Kapolres AKBP Marudut Liberty Panjaitan, di Balai Harungguan Djabanten Damanik, Pematang Raya, Minggu (1/7/2018), mulai pukul 12.00 WIB hingga sekitar pukul 17.45 WIB. 

Tampak hadir, Bupati Sumalungun, JR Saragih, Basarnas, Dandim 0207/Simalungun, Dan Lantamal Belawan, Kepala KNKT, PT Jasa Raharja, tokoh agama, tokoh adat, dan tokoh masyarakat..

Pada kesempatan itu, Bupati Simalungun, JR Saragih, meminta seluruh keluarga korban agar tabah dan sabar menghadapi musibah ini.

Ditegaskannya, bahwa Pemerintah serta Basarnas telah berupaya melakukan semua upaya pencarian dan evakuasi korban KM Sinar Bangun, akan tetapi belum berhasil.

Pencarian telah dilakukan dengan maksimal dan telah diperpanjang hingga 2 kali dan akan diperpanjang ketiga kalinya hingga 3 Juli 2018 mendatang.

"Hingga kita harus mengambil keputusan, apakah harus melanjutkan pencarian yang belum tau kapan dan apa hasilnya. Atau kita dengan  ikhlas melepas kepergian keluarga kita, korban KM Sinar Bangun," ujar Bupati.

Masih kata Bupati, pada Selasa, 3 Juli 2018 mendatang, pukul 10.00 WIB di Pelabuhan Tigaras akan diadakan doa dan ziarah bersama di Danau Toba.

"Dan dengan hati yang berat dan dengan kesepakatan bersama keluarga korban, maka pencarian korban KM Sinar Bangun akan berakhir pada hari Selasa, 3 Juli 2018," ujar JR Saragih.

Sementara dari pihak Basarnas menyebutkan, bahwa upaya-upaya telah dilakukan seperti menurunkan jaring pukat harimau,  jangkar dan ROV ke dasar Danau Toba.

Akan tetapi pukat harimau tersangkut di dalam jurang danau hingga robek. Jangkar dan ROV tersangkut di dasar danau dan alat tersebut rusak. Bahkan cuaca yang tidak bersahabat, banyaknya gelombang arus dasar danau yang kuat juga menjadi kendala bagi Basarnas.

Pertemuan dengan keluarga korban KM Sinar Bangun yang juga dihadiri Kapolres Simalungun, AKBP M Liberty Panjaitan, di balai harungguan Djabanten Damanik, Pematang Raya Simalungun, Minggu (1/7/2018), mulai pukul 12.00 WIB hingga sekitar pukul 17.45 WIB. (foto/zai)

Sedangkan dari pihak KNKT menyatakan, bahwa pihaknya melakukan penyelidikan agar mengetahui apa penyebab dari kecelakaan KM Sinar Bangun dan memberikan masukan kepada Pemerintah agar kecelakaan serupa tidak terulang kembali. Selanjutnya bersama dengan Basarnas tetap bersama - sama melakukan pencarian hingga diperpanjang 3 kali dan berakhir pada 3 Juli 2018.

Sementara dari kalangan tokoh agama, diantaranya dari Katolik, menuturkan, pihaknya telah mendoakan agar  korban tenang dan diterima oleh Tuhan yang maha esa. 

Eporus HKI  juga sepakat, semua pimpinan gereja akan membuat pelayanan di daerah Danau Toba.

Ucapan dukacita juga datang dari GPDI dan mengatakan, bahwa gereja akan koordinasi dengan Pemerintah dan elemen lainnya untuk membuat  monumen di daerah Danau Toba, mengenang korban KM Sinar Bangun.

Tak luput dari GKPS yaitu jemaaat GKPS Pangururan, mengaku telah mendoakan korban KM Sinar Bangun dan mendukung rencana Pemkab Simalungun untuk melakukan kegiatan doa bersama.  Tapi kami sarankan agar kegiatan tersebut dilaksanakan setelah pencarian benar - benar telah selesai. Kami juga mengapresiasi  Bupati Simalungun yang sungguh sungguh peduli dengan musibah ini, ungkap perwakilan jemaan GKPS tersebut.  

Keluarga korban KM Sinar Bangun terlihat menangis setelah mendengar penjelasan Basarnas yang memutuskan pencarian terakhir hari Selasa (3/7/2018), Minggu (1/7/2018) di ruang Harungguan Djabanten Damanik, di Pematangraya Simalungun.(foto:lazuardy fahmi)

Dan salah seorang  Suster  Katolik menuturkan, atas perintah Keuskupan Paus Medan, mereka pada hari musibah itu membawa ambulance ke Pelabuhan Tigaras.  Sebab ada kabar akan dievakuasi para korban. 

"Akan tetapi sebagai manusia, kita hanya ciptaan terbatas, Tuhan yang maha kuasa. Kami juga berterima kasih kepada Bupati Simalungun yang telah peduli akan musibah ini," ujarnya.

Perwakilan dari HKBP juga mengucapkan terimakasih kepada pengurus agama dan Bupati Simalungun yang berencana membangun monument peringatan tenggelamnya KM Sinar Bangun.  Dan juga terima kasih kepada Pemerintah dan seluruh elemen yang telah peduli atas musibah ini. 

Sedangkan Tuan Guru Syeh Sakban Rajagukguk, mengatakan, bahwa kita wajib menerima dengan ikhlas dan mendoakan agar korban meninggal khusul khotima dan meningga syahid.  Kita harus sabar dan ikhlas, tegasnya.

Perwakilan keluarga korban, Herlina Sihombing, orang tua alm Kakatua Napitupulu, mengucapkan terima kasih kepada pihak TNI yang memperlakukan mereka sangat baik selama penantian di Tigaras.  Juga terima kasih kepada Pemkab Simlungun dan pihak lainnya yang telah berupaya melakukan pencarian. "Dan kepada keluarga korban lainnya agar sabar dan ikhlas menghadapi musibah ini," katanya.

Keluarga korban lainnya, Suadi, orang tua alm Iwan Sugiarto, menuturkan, bahwa anaknya permisi kepadanya akan ke Sidamanik bersama dengan 17 orang keluarga lainnya berangkat ke Tigaras dan menyeberang menuju Samosir dengan menumpang KM Sinar Bangun.  Akan tetapi kehendak Alah SWT berkata lain. KM Sinar Bangun tenggelam dan hanya 1 orang yang selamat yaitu Juwita Saragih.

“Biarlah korban meninggal dengan tenang, mati sahid dan hentikan pencarian korban, karena jikapun ketemu, korban juga tidak akan utuh dan akan dapat menimbulkan fitnah, sebab mungkin korban tidak utuh lagi. Biarlah kita yang ditinggalkan ikhlas menerima musibah ini,"'ujarnya dengan nada sedih. 

Pada pertemuan itu, tampak banyak keluarga korban yang kurang puas kepada Basarnas. Karena dianggap sesaat setelah kejadian, tim Basarnas yang ada di Kota Parapat Kabupaten Simalungun tidak cepat dan kurang tanggap saat musibah baru saja terjadi. 

Keluarga korban menyayangkan kenapa foto korban dishare ke medsos. Keluarga juga sangat berharap korban dapat dievakuasi. 

Keberatan keluarga korban itu pun langsung ditanggapi pihak Basarnas. Merena menjelaskan, pada saat kejadian pukul 18.00 WIB,  tim Basarnas di Parapat baru dapat bergerak paling cepat 15 menit setelah menerima informasi musibah KM Sinar Bangun.

Dan pada saat kejadian, cuaca dan ombak yang tinggi membuat kinerja Basarnas terganggu karena sesuai SOP,  kondisi malam tersebut tidak memungkinkan dilanjutkan pencarian yang membahayakan tim. 

Penulis: zai. Editor: gun.