Simalungun, hetanews.com - Bupati Simalungun, JR Saragih langsung menyaksikan kinerja pihak Basarnar dalam upaya mengevakuasi bangkai KM Sinar Bangun dan para korban dari dasar Danau Toba, Sabtu (30/6/2018), di pelabuhan Tigaras Simalungun.  

Katanya, dia mewakili masyarakat, turun ke lokasi untuk menyakinkan betul apa yang dikerjakan Basarnas. Mengingat bangkai kapal tersebut  begitu lama bisa ditarik. “Tapi tadi saya sudah lihat dan kita sama - sama tadi melihat menurunkan jangkar itu sampai 500 meter. Jadi ada tiga tali sekarang disitu itu untuk mengait tali yang ada di kapal itu. Itu sudah pasti tali di kapal itu,”ujarnya.

Masalahnya sekarang, lanjutnya, kapal itu mau ditarik. Namun ketika ditarik itu, belum tentu berhasil karena bisa saja talinya putus.

"Ketika talinya putus, tentu kita harus mencari apalagi yang bisa dilakukan. Harapan kita tadi kalau tali itu tidak putus ditarik, kapalnya bisa naik dan kita tarik ke pinggir. Tentu harapan kita, mungkin ada disitu jenazah-jenazah yang tinggal di dalam kapal. Itu harapan kita," tandas JR Saragih.

Masih kata Bupati, mereka telah mendiskusikan terkait apa langkah langkah yang akan diambil. Menurutnya, hal ini yang sedang dipikirkan.

"Kita berdoa, tali ini gak putus. Karena tali dari kapal itu cukup besar-besar juga tadi. Tapi, kan kita gak tau, apakah besar ujungnya saja di dalam dia kecil, ini belum tau. Jadi jangan sampai nanti masyarakat mengirai, kok ditarik, mana talinya. Bisa aja talinya cuma yang dapat, kapalnya tidak bergerak," katanya.

Lanjutnya, KMP Sumut I dan Sumut II sudah mulai mau menarik KM Sinar Bangun. "Karena talinya sudah siapa tadi ini udah mau ditarik. Kan inilah maka saya turun ini. Jadi kita kemungkinan. Karena keluarga korban inikan sudah ada dimana - mana. Bukan disini semua. Paling disini sepuluh persen. Saya tadi udah ngomong dengan Kadis Sosial, supaya keluarga korban ini kita kumpulkan. Apa yang harus kita jelaskan pada mereka, pertama  resiko. Seperti yang kita katakan tadi. Bisa aja digaruk ini, kita tarik. Tapi kan bisa hancur jenazah ini. Mau gak keluarga korban. Kalau tidak mau, ya kita berupaya ya. Tapi kalau seandainya tidak ada jalan. Contohnya, ditarik gak bisa kapal. Tau - tau gak bisa karena kedalaman, ini yang perlu disampaikan. Apakah keluarga korban rela. Inikan perlu disampaikan sebagai pemerintah. Ya saya sebagai pemerintah kabupaten ini. Tapi kalau keluarga korban mengatakan, uda garuk aja, ya kita lakukan. Dengan resiko apapun. Tapi keluarga korban harus tahu. Bisa cuman dapat tangannya dan bahkan bisa hancur, paparnya.

Lihat Juga: Video-Ini Kendala Basarnas Menarik Objek Diduga KM Sinar Bangun di Dasar Danau Toba

Sementara kalau ini dari gambar yang kemarin yang udah dikasi di TV itukan masih utuh. Nah ini yang mau diusahakan. Tapi ini kan jalan yang terpahit. Kita masih juga berkoordinasi. Katanya ada alat. Mana tahu alat ini yang masih di Surabaya tadi pak ya, bilangnya minta diapresiasi oleh Deputi.

Kita sedang berkoordinasi terus ini. Ada alat seperti robot, dia bisa ngambil. Tapi kan gak bisa untuk ngambil kapal. Terus terang aja, mungkin yang kelihatan ini satu, dua ini.  Ini juga belum diputuskan. Kita sedang berkoordinasi karena inikan  bukan alat milik Basarnas, dan bukan miliknya Pemkab. Ini mungkin milik organisasi - organisasi yang lain gitu.  Jadi perlu ada pemahaman kepada semua melalui media ini kepada seluruh keluarga korban, ujar Bupati mengakhiri wawancara.