Tanjungbalai,hetanews.com - Walau masih di bawah umur,  polisi tetap menahan 3 orang anak yang mengeroyok oknum anggota Brimob Subden 3/B Tanjungbalai. Karena upaya diversi yang dilakukan oleh polisi belum berhasil.

Hal ini dikatakan Kapolres Tanjungbalai, AKBP Irfan Rifai melalui Kasat Reskrim AKP Burju Siahaan, Jumat (22/6/2018).

Katanya, pihaknya telah melakukan upaya diversi pada Kamis (21/6/2018) sore yang dihadiri oleh perwakilan korban, para orangtua anak dan Komisi Perlindungan Anak kota Tanjungbalai serta penyidik, namun belum berhasil mencapai kata sepakat.

Burju menuturkan, ketiga anak tersebut, yakni, IB, SH dan YD. Ketiganya berumur 16 tahun dan masih berstatus pelajar di SMA Negeri 3 Tanjungbalai (sebelumnya diberitakan empat anak di bawah umur. Hal ini terjadi kekeliruan dengan alasan salah pengetikan usia oleh pihak Polres).

Sebelumnya pada Rabu (20/6/2018), sekira pukul 04.15 WIB, puluhan remaja yang diduga mabuk melakukan pengeroyokan terhadap seorang oknum anggota Brimob berinisial HA. Diduga kejadian itu dipicu oleh salah paham antar mereka saat minum di salah satu tempat pusat hiburan .

Kejadian yang terjadi di Jalan Sudirman Km 3,5 Tanjungbalai itu mengakibatkan korban mengalami luka pada wajah dan sekujur tubuhnya.

Nyawa korban dapat tertolong karena dilerai oleh warga yang melintas di jalan tersebut. Selanjutnya membawa korban ke RSUD Teungku Mansur Tanjungbalai.

Polisi pun melakukan penangkapan terhadap 14 orang tersangka, 3 di antaranya anak di bawah umur.

Untuk tersangka lelaki dewasa, masih kata Burju, pihaknya menjerat mereka dengan 170 Ayat 2 ke 1 subs pasal 351 ayat 1 yo pasal 55 KUHP dengan ancaman pidana 7 tahun penjara.

Sementara untuk anak di bawah umur, polisi menjeratnya dengan pasal 170 ayat 2 ke 1 sub pasal 351 ayat 1 yo pasal 55 KUHP yo UU No 11 tahun 2012 tentang sistem peradilan anak.

Sementara itu, Agus Salim Hutagalung, selaku Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Tanjungbalai menjelaskan, diversi adalah pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana.

"Dan dalam sistem peradilan pidana anak, wajib diupayakan diversi," ucapnya.

Diversi yang dimaksudkan untuk menghindari dan menjauhkan anak dari proses peradilan, sehingga dapat menghindari stigmatisasi terhadap anak yang berhadapan dengan hukum. Diharapkan anak dapat kembali ke dalam lingkungan sosial secara wajar.

"Namun upaya diversi yang kita lakukan dalam kejadian itu belum berhasil. Masih lagi kita upayakan mencapai kata sepakat," ujarnya.

Mengenai gejala kenakalan remaja anak di bawah umur yang sudah semakin marak di kota Tanjungbalai ini, dirinya berharap aturan tempat penjual minuman harus tegas. 

Baca Juga: Anggota Brimob Bonyok Dikeroyok Puluhan Remaja Mabuk di Tanjungbalai

Terutama pada segala bentuk tempat hiburan memang harus tidak memperbolehkan mereka yang pada usia anak untuk mengaksesnya. Dan pihak pemerintah kota harus hadir dan melakukan pengawasan terhadap anak.

"Hal ini akan berhasil apabila semua elemen masyarakat berperan serta. Sudah waktunya Pemko Tanjungbalai aktif dan bertindak untuk menyelamatkan generasi bangsa ini," katanya mengingatkan.

Selain itu, pihak keluarga juga harus betul- betul  mengawasi anaknya. Kedepan pihknya berharap ada peraturan daerah (perda) perlindungan anak dapat menjadi salah satu solusi.

"Dengan kata lain, Pemko Tanjungbalai harus lebih serius lagi untuk membuat peraturan yang mendukung perda anak, terutama dalam pengawasannya," tambahnya.

Satpol PP sebagai pengawal perda, harus benar-benar  faham tentang aturan dan peraturan daerah serta memiliki pengetahuan tentang  bagaimana besikap dan bertindak.

"Karena pada dasarnya anak tidak pernah jahat. Tetapi anak lebih pada pengelompokan nakal," ucap Agus.