Thu 15 Nov 2018

Fery Panggabean dan Mei Saragih, Korban Hilang Berencana Lamaran Tanggal 29 Juni Ini

Foto Fery Panggabean bersama kekasihnya, Mei Saragih. (foto/tommy)

Siantar, hetanews.com - Wajah sedih dan cemas tampak terlihat dari wajah Surip Eva Anum, ibu dari Fery Panggabean, salah satu korban Kapal Motor (KM) Sinar Bangun yang tenggelam di Perairan Danau Toba, pada Senin (18/6/2018) sore.

Suasana rumah Fery di Jalan Melur, Kecamatan Siantar Barat, Selasa (19/6/2018) malam tampak dipenuhi sanak saudara dan tetangga yang turut memberikan ucapan penghibur bagi keluarga.

Kehadiran hetanews.com ke rumah Fery disambut dengan ramah oleh Surip Eva Hanum. Dengan wajah terlihat lemah dan mata yanng sembab, Eva masih tetap memberikan senyum yang ramah kepada hetanews.com.

Eva dengan menahan rasa perih bercerita tentang kepergian Fery bersama kekasihnya, Mei Saragih ke Pulau Samosir.

Dia menyebutkan, putranya kerap melakukan liburan bersama kekasihnya ke daerah Samosir.

"Kan dia (Fery) hobi foto-foto. Dia selalu mengambil foto di daerah sana (Samosir). Kekasihnya itu selalu dijadikan model fotonya," sebut Eva.

Sebelum berangkat kata Eva, anak keduanya itu memang berpamitan dan dia tidak memiliki firasat apa pun. Bahkan saat dirinya mendengar informasi jika ada kapal tenggelam di Danau Toba, Eva masih belum memiliki firasat apapun.

"Kemarin sekira pukul 21.00 WIB kita menonton berita di televisi ada kapal tenggelam di Danau Toba, disitu saya belum ada firasat apapun. Justru saya masih menyetrika lagi, enggak ada firasat apa-apa," sebutnya.

Namun setelah abang Fery yakni Mardianto Panggabean menelepon mengatakan jika adiknya masih berada di Samosir.

Foto Fery bersama kekasihnya saat di bangku SMA dan perkuliahan. (foto/tommy)

"Barulah saya tersadar waktu ditelepon abangnya sekira pukul 23.00 WIB menyatakan kalau Fery masih berada di Samosir," sebut Eva.

Mendengar kabar tersebut, Eva mencoba menghubungi handphone (HP) milik Fery dan kekasihnya, namun suara operator telepon yang menjawab. "Tetapi enggak ada jawaban," kata Eva.

Sambil berlinang air mata, Eva mengatakan jika rencananya Fery dan kekasihnya Mei berencana akan melangsungkan lamaran pada tanggal 29 Juni mendatang.

"Padahal semua sudah dipersiapkan, malah cincin sudah dibeli," sebut Eva sambil menangis.

Sementara Mardianto menceritakan, awalnya tidak memiliki firasat adiknya ikut dalam KM Sinar Bangun. Padahal dia sudah mendengar kabar ada kapal yang tenggelam di Danau Toba.

Namun setelah dirinya melihat media sosial (medsos) yakni Instagram dari kekasih adiknya barulah dia menghubungi orang tuanya.

"Awalnya ditelepon sama saudara (keluarga), kebetulan saya tak berada di rumah. Sewaktu ditelepon saudara,  saya bilang Fery di rumah. Lalu saya bacalah lagi Instagram dari kekasihnya dengan tulisan 'Oh Tuhan Angin Ombak Naik Tinggi'. Langsung lah saya telepon ibu sembari pulang ke rumah," papar Mardianto.

Sesampainya di rumah, Mardianto mengajak ayahnya langsung ke Pelabuhan Tigaras, di Kecamatan Dolok Pardamean, Kabupaten Simalungun mencari informasi tentang keberadaan adiknya.

"Malam itu juga kami berangkat kesana dan sampai sekarang belum ada kabar," ujarnya, sembari menyatakan pihak keluarga berharap Fery dan kekasihnya dapat segera ditemukan.

Penulis: tom. Editor: aan.