Tue 17 Jul 2018

Ini Kisah Keluarga yang Hidup Bersama 10 Ular Piton Raksasa

Ular piton raksasa ternyata tak kalah cantik dengan model. (Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Kebumen, hetanews.com - Ular, termasuk ular piton kerap diasosiasikan sebagai hewan berbahaya, jahat, dan mematikan. Tak aneh dalam berbagai mitologi, iblis digambarkan sebagai sesosok ular berbisa.

Apalagi akhir-akhir ini masyarakat dibikin khawatir dengan peristiwa seorang perempuan Sulawesi yang ditelan ular piton. Penggambaran ular sebagai hewan ganas nan mematikan itu kembali meruap.

Segala hal tentang ular digambarkan mengerikan. Ukuran ular, bisa ular, bahkan, desisan ular yang sebenarnya suara napas pun menjadi hal paling mengerikan.

Namun, seluruh hal mengerikan tentang ular itu runtuh seketika tatkala berkunjung ke Desa Pejagoan Kabupaten Kebumen. Di desa ini, ada satu keluarga yang hidup dengan ular-ular piton berukuran raksasa.

Pemiliknya adalah Munding Aji (30). Di kandang-kandang yang berjejer rapi di samping rumahnya, terdapat 10 ekor ular piton berbagai umur dan ukuran.

Terbesar adalah Rambo, ular piton berumur 10 tahun. Rambo berukuran panjang delapan meter dan berbobot 300 kilogram alias tiga kuintal.

Saat berkunjung ke tempat ini, butuh tiga lelaki dewasa untuk mengeluarkan Rambo dari kandangnya. Ular Piton berukuran jumbo enggan keluar sendiri dari kandang meski pintu telah terbuka. Barangkali, ia malas.

"Rambo ini ular piton saya yang pertama. Sudah dipelihara sekitar 10 tahun," kata Munding Aji, beberapa waktu lalu.

Rambo bukan satu-satunya ular piton bertubuh raksasa di tempat ini. Beberapa lainnya juga berbobot di atas 150 kilogram. Salah satu yang paling populer adalah Syahrini.

Menurut Munding, Syahrini menjadi idola lantaran tabiatnya yang manja. Gerakannya pun anggun memesona dan tenang. Namun, jangan dikira Syahrini ini hewan mungil. Sebaliknya, Syahrini adalah ular piton berbobot 200 kilogram.

Syahrini agak berbeda dengan Rambo yang cenderung lebih kalem, tetapi dominan. Syahrini, lebih mudah akrab dengan orang-orang baru, termasuk anak-anak.

Rupanya ular-ular piton ini tak hanya akrab dengan keluarga ini. Letak kandang yang berdekatan dengan Taman Pendidikan Quran (TPQ) membuat interaksi antara anak-anak dengan ular piton berjalan alami. Lama kelamaan, antara satu dengan lainnya semacam terjalin hubungan.

Pada hari-hari tertentu, terutama saat ular-ular ini dikeluarkan dari kandangnya untuk dimandikan atau sekadar meregangkan otot, anak-anak turut bermain. Mereka sama sekali tidak takut.

Bisa ditebak, anak-anak pun lebih akrab dengan Syahrini. Selain sifatnya yang kalem, anak-anak pun enggan bermain denga Rambo. Sebab, mereka tak kuat hanya untuk mengangkat kepala si Rambo.

"Enggak takut, tapi berat," tukas salah satu santri TPQ, Arif Hidayat.

Tak berbeda dengan Arif, anak TPQ lainnya, Ahmad Nabil juga akrab dengan ular. Tak sedikit pun ia terlihat takut menggendong atau membelai-belai kepala ular.

Sang ular pun tampak akrab dengan anak-anak ini. Beberapa kali sang ular mendesis. Seperti disebut di muka, mendesis digambarkan sebagai suara ancaman.

Namun, di tempat ini, desisan ular tak berbeda dengan suara kucing atau anjing yang mendengkur. Dengkuran atau mengorok adalah tanda bahwa hewan peliharaan bahagia dan nyaman bertemu dengan tuannya.

"Suara napasnya memang seperti itu. Ukurannya kan besar, jadi desisannya lebih keras," Munding menjelaskan.

Lantas, bagaimana membuat ular-ular piton yang merupakan hewan predator puncak ini menjadi jinak dan akrab dengan anak-anak?

Munding mengaku mulai memelihara ular-ular ini sejak mereka berusia kurang dari satu tahun. Semakin muda dan kecil, ular akan cenderung lebih jinak dan mudah dididik.

Bahkan, rambo yang saat ini berbobot 300 kilogram itu ternyata dipelihara sejak berukuran sejempol. Barangkali saat dibeli, Rambo baru berumur dua atau tiga bulan.

"Semuanya dapat umurnya kurang dari satu tahun. Panjangnya belum ada satu meter. Lebih mudah dipelihara dan jinak," dia menerangkan.

Sejak ukuran sekecil itu lah, ular-ular ini dipelihara. Interaksi yang panjang dengan pemilik dan perawat membangun hubungan yang unik.

Secara berkala dan rutin, ular-ular ini dimandikan dan dirawat agar terhindar dari penyakit dan parasit. Sentuhan-sentuhan langsung itu membuat ular akrab dengan manusia dan tak bereaksi berlebih saat mendapat sentuhan.

Meski begitu, Munding pun tetap memperingatkan agar orang-orang berinteraksi dengan ular saat ada perawat atau pawangnya. Pemilik dan pawang lah yang paling paham tabiat antara satu ular dengan lainnya.

"Sifat masing-masing ular berbeda. Ada yang agak agresif. Ada juga yang kalem. Tapi secara keseluruhan, ular sebenarnya hewan yang tenang," dia mengungkapkan.

Untuk menjamin kesehatan ular piton peliharaannya, masing-masing ular diberi makan dalam jumlah dan jangka waktu berbeda. Terbanyak adalah Rambo. Tiap dua bulan sekali, 20 ekor ayam habis dimakannya sekaligus.

Adapun Syahrini, membutuhkan antara 10 sampai 15 ekor ayam, per dua bulan. Selvi, si ular piton albino jantan juga membutuhkan jumlah yang sama.

 

 

 

 

sumber : liputan6.com

Penulis: -. Editor: Aan.