HETANEWS

Bongkar Muat di Pelabuhan Teluk Nibung Lamban dan Amburadul

Suasana pengangkatan barang penumpang yang dilakukan oleh TKBM. (foto/ferry)

Tanjungbalai, hetanews.com - Bobroknya pelayanan jasa angkutan barang bawaan penumpang di Pelabuhan Ferry Internasional Teluk Nibung, Kota Tanjungbalai, sangat disesalkan oleh berbagai pihak.

Bobroknya pelayanan jasa angkutan barang oleh Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) ini sangat kelihatan sekali saat arus mudik Lebaran 2018 dengan kedatangan ratusan penumpang atau pemudik warga Negara Indonesia yang rata-rata berkerja di Malaysia.

Pantauan hetanews.com, di lapangan, menyaksikan pemandangan yang tidak semestinya. Kinerja TKBM pelabuhan Teluk Nibung ini terkesan tidak profesional dan amburadul.

Pasalnya rata-rata pekerja TKBM ini memilih - milih barang yang akan mereka angkat (sesuai dengan pesanan penumpang kapal) untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Manakala mereka dapat mengambilkan barang bawaan penumpang dengan cepat, para TKBM ini akan mendapatkan uang tips dari penumpang tersebut.

Akibat mengejar uang tips dari penumpang ini, alhasil barang penumpang yang lainnya menumpuk. Ini karena para TKBM ini sibuk memilih nomor tas atau bagasi penumpang yang merupakan pesanan tersebut.

Protes dari penumpang yang menunggu lama barang bawaan mereka. (foto/ferry)

Tidak profesionalnya pekerjaan TKBM di pelabuhan ini karena kurangnya perhatian dari pihak otoritas pelabuhan setempat. Sehingga membuat pelabuhan Teluk Nibung, seperti pajak ikan dengan hilir mudiknya penumpang yang menunggu barang bawaan mereka di dalam area dalam pelabuhan yang kecil tersebut.

Manager Pelindo, sebagai pihak pengelola Pelabuhan Teluk Nibung, membantah lambatnya pelayanan dari TKBM ini tanggung jawab mereka.

Menurutnya, mengenai jasa angkut barang bawaan penumpang yang dilakukan oleh TKBM, ini merupakan tanggung jawab pihak KSOP (Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan).

Rosmawati dan Muhammad Hafiz, penumpang kapal menyesalkan cara kerja yang dilakukan oleh TKBM di pelabuhan ini.

“Sewaktu di Malaysia, kita sudah dikenakan biaya barang bawaan antara lima ringit hingga sepuluh ringgit (Rp 15 ribu-30 ribu) untuk setiap bagasi yang kita bawa. Namun pelayanan yang kita dapatkan disini tidak sesuai dengan uang yang sudah dikeluarkan. Pelayanannya terkesan amburadul dan memakan waktu hingga 1 jam lebih untuk barang bawaan sampai ke tangan saya lagi,” keluh mereka dan diamini oleh penumpang lainnya.

Diharapkan pihak KSOP untuk turun langsung memantau kinerja TKBM yang di bawah kendali mereka. Ini agar pekerja TKBM ini berkerja secara profesional dan kasus kehilangan bagasi penumpang tidak terjadi.

Penulis: ferry. Editor: gun.