HETANEWS

Diserang Hama, Padi Terancam Tak Dipanen di Uluan

Sejumlah petani menyampaikan keluhan kepada Dinas Pertanian Kabupaten Tobasa, di sela-sela penyerahan bantuan obat-obatan yang menurut petani sudah terlambat. (foto/aldy)

Tobasa, hetanews.com - Sejumlah petani di wilayah Kecamatan Uluan, Kabupaten Toba Samosir (Tobasa), terancam tidak memanen padi pada musim panen raya tahun ini.

Pasalnya, padi yang diserang hama, beberapa bulan lalu, dipastikan mengalami penurunan hasil hingga 70-80%.

Hal ini disampaikan salah seorang petani, S Manurung kepada pihak Dinas Pertanian (Distan) Tobasa saat meninjau padi yang mengalami gagal panen akibat serangan hama di Kecamatan Uluan, Senin (4/6/2018).

Dikatakannya, tanaman padi yang sudah berumur 2 bulan lebih tersebut sudah terlambat jika dilakukan penyemprotan massa.

“Pihak Distan Kabupaten Tobasa menyatakan sudah terlambat melakukan penyemprotan massal untuk padi di Kecamatan Uluan. Karena tanaman padi hanya beberapa minggu lagi akan dipanen. Jadi bantuan obat-obatan untuk sebagian besar tanaman padi tidak berfungsi lagi, dan tahun ini kami gagal panen,” keluh Manurung, di hadapan petugas Distan Tobasa.

Para petani sangat menyesalkan bantuan yang datangnya terlambat. Padahal bulan yang lalu, ketika tanaman padi mulai diserang hama, masyarakat langsung melaporkan kepada pihak Dinas Pertanian atau BP4K Kecamatan Uluan.

Tanaman padi di Kecamatan Uluan sekitar 35 hektar yang akan mengalami penurunan hasil produksi hingga 80%.

“Tanaman padi diserang hama pada saat umur 1 bulan, saat kami laporkan kepada BP4K Kecamatan Uluan. Namun obat-obatan dari Dinas Pertanian tidak dapat diminta petani, karena luas lahan tanaman padi yang diserang hanya berskala kecil. Akibatnya sekarang, ratusan kepala keluarga yang menjerit akibat gagal penen,” ungkap Manurung.

D Manurung, petani lainnya menyebutkan, gagal panen tahun ini akan berdampak pada ekonomi petani di Kecamatan Uluan selama 3 tahun kedepan. Karena kata Manurung, sebagian besar petani tidak memiliki modal sendiri untuk mengolah lahan hingga menanam padi, dan tidak mempunyai lahan pertanian sendiri.

“Jika sekarang gagal panen, dampaknya akan sangat lama dan minimal 3 tahun kedepan. Kebanyakan petani menyewa lahan pertanian, padahal untuk mengolah lahan dan keperluan pupuk sudah berhutang kepada tengkulak. Bagaimana kami yang menyewa lahan membayar utang pupuk kepada tengkulak jika sudah gagal panen,” terangnya.

Kedepan, petani mengharapkan Pemkab Tobasa dapat lebih tanggap dengan keluhan petani. Selain itu, dinas terkait harus peka serta tanggap menanggulangi hama yang setiap tahun menyerang tanaman padi.

Menanggapi hal tersebut, Kabid Tanaman Pangan dan Holtikultura, Marlin Marpaung mengatakan, masyarakat butuh bantuan obat-obatan, padahal ketersedian belanja obat-obatan untuk Distan sangat kecil setiap tahun.

Terkait tidak tanggapnya Distan setempat kepada keluhan petani, Marlin membantah tudingan tersebut. Soal gagal panen dan penurunan hasil panen yang mencapai 80%, pihaknya belum menerima laporan pengamat pertanian.

“Kalau gagal panen di Kecamatan Uluan, saya belum terima laporan pengamat pertanian. Karena 18 ribu hektar areal persawahan di Kabupaten Tobasa,” terangnya.

Penulis: aldy. Editor: gun.