HETANEWS

PTPN IV Bah Birung Jawab Keluhan Warga Soal Jembatan Darurat

Tampak material bangunan telah menumpuk di sisi kanan kiri jalan yang sedianya akan digunakan untuk membangun jembatan permanen. (foto/noto)

Simalungun, hetanews.com- Pihak Perusahaan Perkebunan Nusantara IV (PTPN IV) Unit Bah Birung Ulu, akhirnya memenuhi permintaan warga yang meminta perusahaan untuk segera membangun sarana jembatan permanen sebagai akses jalan penghubung 2 desa.

Melalui staf Hubungan Masyarakat (Humas), Kunto Aji, membenarkan pihaknya telah mendatangkan sejumlah bahan material bangunan, untuk membuat jembatan permanen.

"Kita sudah datangkan bahannya, terdiri dari batu padas dan pasir. Untuk yang lainnya akan segera direalisasikan dalam waktu dekat," kata Aji.

Menurutnya, saat ini pihak PTPN IV Bah Birung, belum dapat melanjutkan proses penggalian pondasi jembatan, dikarenakan kondisi cuaca tengah musim penghujan.

"Kita khawatir kalau buru-buru dikerjakan hasilnya tidak akan maksimal. Kita juga menyadari masyarakat sudah membutuhkan jembatan tersebut. Kalau cuaca sudah normal kita segera membangun pondasinya," ujarnya.

Amatan di lokasi, Selasa (22/5/2018), tampak tumpukan batu dan pasir memang ada di sisi kanan dan kiri jalan. Namun jembatan masih tetap seperti semula dan belum ada perubahan.

Sementara itu, warga yang melintas saat dimintai tanggapan hetanews.com mengharapakan pihak PTPN IV Bah Birung Ulu agar segera merealisasikan pembangunan jembatan permanen, guna menghindari jatuhnya korban jiwa.

"Ini kalau saya perkirakan ada 10 meter dalamnya, iya kalau sempat jembatannya ambruk kan berbahaya bagi yang melintas,"kata salah seorang warga yang menaiki sepeda motor jenis bebek.

Baca Juga: Jembatan Darurat Ancam Keselamatan Warga di 2 Desa Ini

Diberitakan sebelumnya, terdapat jembatan darurat yang menghubungkan 2 desa, yakni, Nagori Birung Ulu Manriah-Nagori Bukit Rejo, Kecamatan Sidamanik. 

Jembatan ini diketahui dibangun oleh pihak PTPN IV setelah menggali kanal (parit) untuk guna mengatasi masalah banjir yang kerap terjadi disebabkan melubernya air dari perkebunan kelapa sawit milik perusahaan negara tersebut.

Penulis: tim. Editor: gun.