HETANEWS

Ini Makna Bulan Ramadhan Menurut Khairul Anhar

Tokoh Muda Asahan, Khairul Anhar Harahap. (foto/heru)

Asahan, hetanews.com-Kamis, 17 Mei 2018, lalu, umat Islam secara serentak menunaikan puasa pertama di bulan Ramadhan 1439 H.

Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan keberkahan dan ampunan. Kesempatan bagi umat Islam, memperbanyak amalan dan ibadah selama sebulan penuh dan sebagai penggugur dosa-dosa atas ridho Allah SWT.

Hal ini disampaikan Khairul Anhar Harahap, selaku Tokoh Muda di Asahan.

Menurutnya, kesempatan ini untuk mengasah keimanan agar mata hati lebih tajam dalam memaknai kehidupan, baik yang berhubungan dengan Allah (Hablun Minallah) maupun sesama manusia (Hablun Minan Naas). 

Saat berbincang bincang dengan hetanews.com, Jumat (18/5/2018), Generasi Muda PEKAT-IB Sumut yang disapa akrab Irul ini mengatakan, secara garis besar esensi perintah puasa ada dua.

Pertama, mempertajam keimanan dan ketakwaan yang diwujudkan dalam bentuk terbangun sentuhan dan hubungan erat dengan Allah SWT.

"Indikatornya, hati dan nurani mampu merasakan getaran untuk menemukan di luar kita. Ada sesuatu yang tidak dapat kita jangkau tetapi dapat dirasakan kehadiran, kebesaran, kasih sayang, bimbingan, pengawasan dan pertolongan-Nya," paparnya. 

"Dengan demikian, puasa juga membekas pada perilaku kehidupan untuk senantiasa menjauhkan diri dari kepongahan, kesombongan, keserakahan, iri dengki dan segala hal menyakitkan dan menodai perasaan kemanusiaan kita sepanjang tahun di luar Ramadhan," katanya. 

Kedua, mempertajam kepekaan sosial dalam bentuk ketajaman nurani dalam mendengar, melihat, dan menyikapi berbagai problem kemanusiaan di sekitar kita.

Indikatornya adalah mampu berempati dengan person ataupun kelompok masyarakat yang kurang beruntung. Seperti fakir miskin, duafa, korban bencana alam, korban kekerasan, korban kebijakan kapitalis, dan korban berbagai ketidakadilan, baik kultural maupun struktural, jelasnya. 

Lalu Kahirul memaknai puasa tidak sekedar menahan haus dan lapar, tetapi mampu merasakan jeritan hati mereka yang paling dalam. Tidak sekedar memberi upah, tetapi mampu menghargai pahit getirnya kehidupan mereka dalam berjibaku dengan kemiskinan hidup. 

Tidak sekedar bersedekah dan menunaikan zakat, tetapi mampu merangkul mereka mendorong keluar dari kubang kemiskinan hingga menjadi mandiri dan mampu berzakat. 

Tidak sekadar menyediakan santapan berbuka puasa dan sahur bagi masyarakat miskin di perempatan jalan di masjid dan mushalla. Tetapi menuntut adanya perilaku semua insan yang berpuasa untuk peduli terhadap problematika kemanusiaan global. 

Jika indikator keberhasilan puasa menggunakan dua hal di atas, sudahkah kita mampu mensyukuri nikmat yang diberi Allah SWT dengan mewujudkannya dalam bentuk sensitivitas sosial, getaran solidaritas, dan kemampuan tolong menolong dalam menebar kebaikan? Wallahualam...

Di akhir perbincangan, tokoh muda yang dikenal ramah dan dermawan itu, mengajak dan menyampaikan, semoga diberi berkah hidayah oleh Allah SWT dalam menunaikan ibadah puasa Ramadhan 1439 H, jalan menuju ampunan-Nya, untuk selamat di dunia akhirat.

Penulis: heru. Editor: gun.