Wed 17 Oct 2018

Renovasi Pasar Senilai Rp 5,3 Miliar Mangkrak, Pedagang Bangun Kios Darurat di Pasar Tiga Raja

Kondisi Pasar Tradisional Tiga Raja Parapat berbiaya Rp 5,3 M mangkrak menahun.TRIBUN MEDAN/ARJUNA BAKKARA

Simalungun, hetanews.com- Renovasi Pasar Tiga Raja, Parapat, di Pinggiran Danau Toba, senilai Rp 5,3 Miliar masih juga mangkrak hingga Kamis (17/5/2018). Proyek gagal tersebut berlangsung tiga tahun atau dimulai sejak Oktober 2015.

Amatan Tribun, fisik bangunan sudah mulai retak. Batu bata pembatas bergelantungan dan mengancam keselamatan pedagang di bawah yang berdekatan dengan badan jalan.

Pantauan www.tribun-medan.com, tidak tampak aktivitas pembangunan. Padahal, belum seluruh bangunan kios rampung. Sementara itu, di sekitar bangunan kios yang sudah rampung masih terdapat gundukan-gundukan tanah.

Beberapa kios malah tampak parah karena selain dipenuhi gundukan tanah, pintu-pintu kios yang dibangun sudah tampak rusak dan ada kios yang belum memiliki pintu penutup.

Tidak kunjung siapnya bangunan ini membuat para pedagang kerepotan, karena harus berdesak-desakan berjualan di depan lokasi revitalisasi pasar tersebut.

"Tidak kunjung siap pasarnya, terpaksa lah jualan di pinggir jalanan ini. Berdesak-desakanlah kami kek gini. Apalagi kan kami pedangan ini menggantungkan hidup dari berdagang, jadi mau tak mau harus jualan biar bisa makan," ujar R Sirait, seorang pedagang ketika berbincang dengan Tribun.

Menurut Sirait, mangkraknya pembangunan pasar ini menimbulkan masalah baru di lokasi pasar.

"Jadi sering macet di sini, sampah jadi berserakan, ngak nyamalah, apalagi gara-gara tampak kumuhnya lokasi kami berjualan sekarang, banyak wisatawan yang datang mengeluh," ujarnya.

Dalam kontrak pembangunan Pasar Tiga Raja disebutkan bahwa pembangunan pasar akan berlangsung selama 95 hari kerja dan mengerjakan revitalisasi pasar ini adalah PT Cendana Indah Karya Persada dengan konsultan supervisi  CV Perca Bangun Persada.

Satu di antara pedagang, Ompu Erni br Sirait (78) mengaku khawatir. Apalagi bangunan mulai keropos. Sejumlah pedagang lain juga terlantar akibat bangunan kios permanen yang gagal dirampungkan.

Menurut Ompu Erni yang kesehariannya berjualan beras di Pekan Tiga Raja tersebut pemerintah selalu mengiming- imingi penyelesaian pembangunan fisik pekan berlantai dua tersebut. Namun, hingga kini tak kunjung rampung.

"Dari tahun tahun lalu katanya mau diselesaikan, katanya lagi bulan maret lalu, katanya lagi bulan ini, nyatanya begini saja,"keluhnya.

Bisa menunggu pembangunan  rampung, terpaksa mereka mendirikan sendiri kiosnya seadanya. Mereka terlihat tidak layak di dalam kios berbahan triplek itu.

Kala hujan turun, kata Oppu Erni barang dagangannya kerap basah akibat drainase pasar yang mangkrak tidak berfungsi baik.

"Kalau hujan deras, air akan mengalir ke dalam kios. Sering kami merugi akibat jualan yang basah tak laku lagi dijual," papar ompung Erni.

Pedagang lainnya, Mak Duma (65), mengeluhkan berkurangnya pembeli di sepanjang lapak mereka. Alasanya, tak ada ruang belanja bagi para pembeli. Seperti amatan Tribun, ukuran lapak mereka berkisar 2x2 meter. Bila pembeli datang, akan terancam tertabrak kendaraan sebab lapak tersebut dibangun di atas badan jalan.

"Orang yang korupsi, bangunan tak rampung tapi kami yang merugi. Nyatanya, entah sampai kapan teriakan kami ini didengarkan, sebab sudah banyak wartawan yang memberitakan ini tapi tak kunjung ditanggapi, rasanya kami sudah kehilangan harapan," tutur Mak Duma dengan kekecewaan.


Sumber : tribunnews.com

Penulis: -. Editor: gun.