Thu 24 May 2018

Anggota Polisi Dituding Menganiaya dan Gelapkan Barang, Ini Kata Kanit Reskrim Polsek Patumbak

Para korban visum mengaku dianiaya personel Polsek Patumbak, Minggu (13/5/2018). TRIBUN MEDAN/SOFYAN AKBAR

Medan, hetanews.com- Kuasa hukum Rahmad Habibullah dkk, Adven Parningotan melaporkan Polsek Patumbak ke Polrestabes Medan terkait dugaan penganiayaan dan penggelapan yang dilakukan personelnya Brigadir Z dkk.

Laporan ini tertuang dalam nomor: STTLP/669/K/IV/Restabes Medan tanggal 8 April 2018.

Adven menceritakan, pada 4 April, Polsek Patumbak melakukan penangkapan di Jalan Bunga Tanjung Gang Rambe.

Saat itu, sambungnya, Bambang Sujatmiko, Ifan dan Parlindungan Harahap langsung dibawa ke Polsek Patumbak  beserta dengan 1 unit sepeda motor Honda Vario BK 3884 MAR dan 4 buah mesin jackpot, yang tidak diketahui  pemiliknya.

"Kemudian Parlindungan Harahap dan Bambang Sujatmiko dianiaya oleh Brigadir Z dkk, serta meminta HP merek Samsung, HP merek Balpoint dan dompet yang didalamnya berisi 2 buah STNK sepeda motor, serta uang sebesar Rp 951 Ribu milik Parlindungan. Selain itu, oknum polisi tersebut juga meminta dompet milik Bambang Sujatmiko yang didalamnya berisi uang Rp 200 Ribu. Sementara Ifan yang jelas terbukti sedang bermain judi jackpot dilepaskan,"kata Adven kepada sejumlah wartawan, Minggu (13/5/2018).

Adven menyatakan dihari yang sama sekitar pukul 00.00 WIB tidak jauh dari lokasi penangkapan pertama, 10 personel Polsek Patumbak melakukan penangkapan terhadap 9 orang, di mana diantaranya adalah Rahmad Habibullah dan Aspin Fauzi.

Kemudian kesembilan orang tersebut dibawa ke Polsek Patumbak beserta 1 unit sepeda motor Suzuki Smash dan 4 unit mesin judi jackpot yang tidak diketahui pemiliknya.

"Mereka (polisi) juga meminta HP Vivo, Ichery dan HP OPPO, serta dompet yang didalamnya berisi uang sebesar Rp 950 Ribu milik Aspin Fauzi. Tidak hanya itu, oknum polisi tersebut juga meminta HP Politron dan dompet yang didalamnya berisi uang Rp 3,5 Juta serta uang sebesar Rp 2,5 Juta yang ada di kantong celana Rahmad Habibullah," ujar Adven.

Dikatakannya, pada 5 April sekitar pukul 16.00 WIB, Rahmad Habibullah, Bambang Sujatmiko, Parlindungan Harahap, Aspin dan Ardi dikeluarkan dari sel tahanan yang kemudian dianiaya oleh Brigadir Z dkk.

"Tindakan penganiayaan tersebut terjadi ketika klien kami atas nama Rahmad Habibullah meminta kepada pihak kepolisian agar uang sebesar Rp 6 Juta dan HP merek Politron miliknya dikembalikan. Setelah kilen kami dianiaya Brigadir Z dkk, selanjutnya kelima orang tersebut kembali dimasukkan ke dalam sel tahanan Polsek Patumbak,"katanya.

Masih dikatakan Adven, pada 7 April, Polsek Patumbak meminta uang sebesar Rp 24 Juta kepada keluarga kilen mereka, di mana uang tersebut diserahkan oleh keluarga korban kepada penyidik yang bernama Nandito.

Rinciannya, kata Adven, Rp 22 Juta untuk kanit yang bernama Yaqin dan Rp 2 Juta untuk Nandito.

Uang tersebut, sambungnya untuk biaya membebaskan lima orang (Rahmat Habibullah, Aspin Fauzi, Bambang Sujatmiko, Parlindungan Harahap dan Ardi), empat diantaranya klien mereka.

"Yang mengherankan, mengapa setelah 3 hari kilen kami ditangkap dan ditahan tidak pernah di BAP dan tidak dilengkapi surat penangkapan serta surat penahanan. Parahnya lagi, mengapa hanya dua unit sepeda motor Honda Vario dan Suzuki Smash milik klien kami yang dikembalikan, sementara 6 HP, 2 buah STNK dan uang total sebesar Rp 8.101.000 milik klien kami tidak dikembalikan. Sampai saat ini tidak ada iqtikad baik dari Polsek Patumbak untuk mengembalikan,"kata Adven.

Atas perlakukan oknum polisi yang bertugas di Polsek Patumbak ini, kata Adven, klien mereka merasa dirugikan sehingga membuat laporan polisi di Polrestabes terhadap tindak pidana penganiayaan dan penggelapan sesuai dengan Nomor: STTLP/669/K/IV/2018 Restabes Medan.

Laporan itu dilengkapi dengan Visum Et Repertum di RSU dr Pirngadi dan hasil pemeriksaan Radiologi Thorax PA (Rontgen) di RS DR GL Tobing.

"Perbuatan Brigadir Z dkk telah melanggar UU Kapolri Nomor 2 Tahun 2002 Pasal 16 Ayat 2, di mana tindakan penyelidikan dan penyidikan harus memenuhi syarat yaitu tidak bertentangan dengan aturan hukum dan menghormati HAM, serta Pasal 3 UU Nomor 13 Tahun 2016 yaitu penghargaan atas harkat dan martabat, rasa aman, keadlian, tidak diskrimatif dan kepastian hukum,"ujar Adven.

Terkait masalah ini, Kanit Reskrim Polsek Patumbak, Iptu Ainul Yaqin membantah adanya penganiayaan dan meminta uang untuk pembebasan para tersangka.

"Tidak ada saya menerima uang Rp22Juta dari keluarga korban yang dibilang si Adven. Silahkan buktikan kalau ada,"ujarnya saat dihubungi melalui selularnya, Minggu (13/5/2018).

Masalah penganiayaan, kata Yaqin, tidak benar. Semua yang mereka katakan itu tidak benar. "Tidak ada anggota kita melakukan penganiayaan terhadap para tersangka. Silahkan buktikan,"ujarnya.

Ia mengaku tidak mungkin pihaknya menerima tawaran uang ataupun upeti untuk mengeluarkan tersangka yang bersalah. "Kita proses dengan hukum yang berlaku setiap tersangka yang sudah kita tangani,"katanya.


Sumber : tribunnews.com

 

Penulis: -. Editor: gun.