Thu 24 May 2018

Hater Dibuat Mingkem , PM RRC Dihadapan Jokowi Tiba Tiba Instruksikan Hal Tak Terduga Kepada Perusahaan China di Indonesia

Perdana Menteri RRC, Li Keqiang, menginstruksikan seluruh perusahaan negaranya yang beroperasi di Indonesia untuk menyerap tenaga kerja lokal

Bogor, hetanews.com - Hal itu dikemukakan Li seusai bertemu dengan Presiden Joko Widodo di Gedung Induk Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Senin (07/05/18).

Li berkata, korporasi dari negaranya harus memperluas lapangan pekerjaan bagi warga lokal, bukan membawa pekerja dari luar negeri, termasuk Cina.

 "Kami akan menekankan, perusahaan Cina harus menggunakan sebagian besar tenaga kerja Indonesia, baru mendapatkan keuntungan," kata Li, sebagaimana dilaporkan wartawan BBC Indonesia, Abraham Utama.

Dalam sesi jumpa pers yang sama, Jokowi tidak membicarakan isu tenaga kerja Cina. Di dalam negeri beberapa fraksi menggoreng isu TKA menggoyang pemerintahah Jokowi.

Politisi Gerindra, PAN, PKS malah menginisiasi pembentukan pansus pasca penerbitan Perpres No 20 tentang TKA. Merujuk data Kementerian Ketenagakerjaan, jumlah tenaga kerja asing asal Cina di Indonesia hingga 2017 mencapai 24.804 orang. Jumlah ini terus meningkat sejak 2007 yang saat itu baru mencapai 4.301 orang.

Singapura yang jumlah realisasi investasinya paling banyak di Indonesia, tercatat menempatkan 1.915 tenaga kerja tahun 2017. Adapun, Jepang dan Korea Selatan masing-masing memiliki 13.540 dan 9.521 tenaga kerja di Indonesia.

Li menuturkan, ia juga akan mendorong lebih banyak perusahaan Cina untuk berinvestasi di Indonesia, terutama dalam koridor investasi yang ditawarkan, yaitu pembangunan pelabuhan dan tempat pengolahan ikan, serta pengembangan ekonomi pesisir.

Selain soal tenaga kerja, pertemuan Jokowi dan Li memastikan tren peningkatan volume ekspor minyak kelapa sawit Indonesia ke Cina dari tahun ke tahun.

Pada 2016, ekspor minyak kelapa sawit Indonesia ke Cina mencapai 3,23 juta ton. Sementara tahun 2017, menurut catatan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia, volume itu meningkat 16% ke angka 3,73 juta ton.

"PM Li menyanggupi peningkatan eskpor tambahan minimal 500 ribu ton minyak kelapa sawit," kata Jokowi. Li menyatakan akan memberikan arahan kepada bawahannya untuk melancarkan kesepakatan itu. Ia berkata, setiap tahun Cina mengonsumsi setidaknya lima juta ton minyak kelapa sawit.

"Ini untuk pertumbuhan dan peningkatan petani kecil di Indonesia," ujarnya. Lebih dari itu Li mengatakan, Cina akan meningkatkan impor buah-buah tropis dari Indonesia, antara lain manggis, buah naga, termasuk kopi dan kakao.

Di sisi lain, Li mendorong pemerintah Indonesia mempertimbangkan kembali pembatasan impor jeruk Mandarin dari Cina. "Kami berharap Indonesia meningkatkan impor jeruk mandarin. Kami yakin standar kualitas jeruk mandarin sesuai dengan Indonesia," kata Li.

Sebelum pembicaraan bilateral, keduanya melakukan seremoni penanaman pohon.


Li sempat menanyakan bibit pohon yang ditanamnya bersama Jokowi, "Apakah ini pohon yang spesial?" Jokowi lantas menjelaskan singkat kepada Li dalam bahasa Inggris, "Ini adalah pohon kamper dari Kalimantan."

Suasana santai terlihat di antara keduanya dalam sesi penanaman bibit pohon itu. Usai menyerok tanah ke lubang pohon, mereka mengambil beberapa gayung air dari ember untuk menyiram bibit.

Saat Jokowi mengambilkan handuk untuk tamunya, Li justru mengajak Jokowi mengangkat ember dan menyiramkan semua air ke lubang bibit.

Li terpilih untuk kedua kalinya menjadi perdana menteri Cina, Maret lalu. Periode pertamanya memegang jabatan itu dimulai tahun 2013.

Ketika menjabat wakil perdana menteri Cina tahun 2008, Li pernah berkunjung ke Indonesia. Kunjungan kenegaraan pejabat tinggi Cina sebelumnya terjadi pada Oktober 2013. Ketika itu Presiden Cina, Xi Jinping, bertemu dengan Presiden Indonesia keenam, Susilo Bambang Yudhoyono.

Xi juga datang ke Indonesia pada April 2015, namun bukan untuk pertemuan bilateral melainkan Konferensi Asia Afrika.

Polemik mengenai jumlah tenaga kerja asing, terutama asal Cina, sudah pernah mencuat pada 2016, dengan beredarnya pesan di media sosial bahwa jumlah mereka mencapai 10 juta orang, yang kemudian dibantah oleh pejabat Kemenaker.

Berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan dan Transmigrasi, jumlah tenaga kerja asing di Indonesia mencapai 85.974 orang, sementara jumlah tenaga kerja asing asal Cina mencapai 24.804 orang.

Angka ini memang jauh dari jutaan yang disebut ramai di media sosial, namun jumlah tenaga kerja asing asal Cina tersebut rata-rata terus meningkat sejak 2007, yang saat itu baru 4.301 orang.

Cina memang menjadi negara pengirim tenaga kerja asing terbanyak di Indonesia, disusul Jepang (13.540), Korea Selatan (9.521), India (6.237), dan Malaysia (4.603).

Dari posisi atau jabatan, data Kemenakertrans menunjukkan bahwa sebagian besar tenaga kerja asing berada di jabatan profesional (23.869), manajer (20.099), direksi (15.596), konsultan (12.779), dan teknisi (9.144)

Jika dibandingkan, jumlah 85.000 lebih tenaga kerja asing yang masuk ke Indonesia memang meningkat, karena pada 2016 jumlah tenaga kerja asing sebanyak 80.375 orang dan pada 2015 sebanyak 77.149 orang.

Jumlah tersebut -menurut Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri- masih proporsional jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 263 juta jiwa.

"Di Hong Kong saja jumlah TKI hampir 160.000. Sementara, jumlah TKA (tenaga kerja asing) Cina di sini sampai akhir 2017, sekitar 24.000-an. Jadi, kalau saya bilang bukan Cina yang serang kita, tapi kita yang serang Cina," kata Hanif.

Sementara, menurut peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira, imbauan yang disampaikan oleh PM Li Keqiang tidak cukup untuk membendung arus pekerja asing.

"Kalau perlu ada kesepakatan bersama dengan pemerintah Indonesia, misalnya kuota maksimum tenaga kerja asing asal Cina 2% dari total tenaga kerja," ujar Bhima, Senin (7/5/18)

 

sumber : beritaterheboh.com

Penulis: -. Editor: Sella.