HETANEWS

Cerita Tewasnya Bocah di Monas Versi Ayah Korban

Djunaedi, ayah bocah yang tewas di Monas. Foto: Isal Mawardi/detikcom

Jakarta, hetanews.com- Djunaedi, ayah dari Mahesa, salah satu bocah yang tewas saat ada acara bagi-bagi sembako di Onas menceritakan kronologi kejadian ke Polda Metro Jaya. Menurut Djunaedi, anaknya berangkat bersama temannya saat itu.

"Saya cerita perihal kronologi kejadian aja. Saya memenuhi panggilan polisi aja untuk membeberkan kronologi," kata Djunaedi di Gedung Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Sabtu (5/5/2018).

Mahesa, kata Djuanedi, tidak mendapatkan kupon pembagian sembako. Namun, Mahesa saat itu berangkat bersama sahabatnya.

"Di sana, anak saya dapat makan oleh panitia kata orang tua sahabat anaknya. Saat di Monas, dia pegang-pegangan tangan sama sahabatnya. Temannya itu terjatuh terus pisah. Teman anak saya panik dan anak saya panik," tutur Djunaedi.

Djuanedi bercerita dirinya sempat mengantar istrinya ke Stasiun Kota untuk berobat ke RS Pelni. Dia lalu berpesan kepada anaknya untuk tidak ke mana-mana setelah itu.

"Jam 3 (15.00 WIB) istri saya calling saya, sudah balik di rumah. Dia kabari saya, terus tanya anak ke mana? 'mungkin main'. Saya lanjut kerja," lanjut Djunaedi.

Satu jam kemudian, Djunaedi kembali ditelepon istrinya. Waktu itu istrinya mengabari kalau Mahesa hilang di Monas.

Dia lantas bertanya ke istrinya, informasi itu didapat dari mana. Istrinya mengatakan, kata Djunaedi, dia dikabari oleh Akmal, sahabat Mahesa.

"Anak saya biasa dipanggil sosis di rumah. Akmal bilang 'Mama Sosis, Sosis sudah pulang? Tadi berpisah di Monas. Dia lalu ke Monas'. Saya berangkat dari Kelapa Gading ke Monas, istri saya sudah di sana. Di depan pintu Monas ketemu sama istri,"kata Djunaedi.

Dia, istrinya, dan 3 keponakannya lalu berpencar mencari Mahesa. Mereka berkeliling dan bertanya ke panitia.

Hingga akhirnya pukul 21.00 WIB, pihak panitia mengabari Djunaedi, bahwa ada petugas Satpol PP yang menemukan seorang anak. Dia lalu diarahkan ke RS Tarakan.

"Saya tanya ke petugas kepolisian, ini kenapa? Mengeluarkan darah dari hidung? Katanya nanti bapak dipanggil pihak dokter yang nanganin. Menurut versi dokter, anak saya masuk ke Rumah Sakit Tarakan jam setengah empat sore sudah tidak sadarkan diri," tutur Djunaedi.

Dokter kemudian menawarkan untuk autopsi. Namun Djunaedi menolaknya.

"Menurut petugas Satpol PP ditemukan di luar (Monas) lalu saya tanya kenapa hidungnya keluar darah? Karena suhu badannya tinggi, suhu badannya sekitar 40 derajat (celcius). Suhu badan naik dan dia tidak sadarkan diri trus kejang-kejang. Pukul 19.40 WIB anak saya sudah tidak ada. Pembuluh darah pecah karena panas tinggi dan dehidrasi juga," kata Djunaedi.

Sumber: Detik.Com

Editor: gun.