HETANEWS.COM

Pangulu 'Hasut' Pihak Kebun Tonduhan Cabuti Tanaman Warga di Sempadan Sungai

Pangulu Nagori Buntu Bayu, Lumuntar Saragi yang berhasil discreenshot dari video amatiran yang diupload warga saat mengancam hukum pihak kebun PTPN IV Tonduhan.

Simalungun, hetanews.com - Diduga akibat sirik, Pangulu Nagori Buntu Bayu, Lumuntar Saragi 'hasut' pihak PTPN IV Tonduhan, Kecamatan Hatonduhan, Kabupaten Simalungun, untuk mencabut tanaman warga yang ada di sempadan sungai.

Pasalnya, sebelum eksekusi paksa tanpa menghadirkan pihak Pengadilan itu berlangsung, oknum pangulu yang notabene adalah orang hebat dan nomor satu di nagorinya itu, ngotot dan ‘mengancam’ pihak kebun apabila tidak mengeksekusi.

Adanya ancamannya itu, dipraktekkannya, di kantornya. Dan disaksikan oleh sejumlah aparat penegak hukum, tokoh politik yang berdomisili di sana serta sejumlah masyarakat, yang merasa miris. Hingga mengunggah video kejadian di media sosial (medsos).

"Saya potonglah dulu. Intinya, tidak ada penertiban, saya laporkan kalian. Membuat masalah sama saya. Pembiaran. Mau keluar kalian dari PTPN IV Tonduhan ini, terserah kalian," hasut Lumuntar, lalu mengancam hukum terhadap pihak kebun bila tak melaksanakan eksekusi.

Terkait persoalan yang terjadi, pada Jumat (27/4/2018), lalu, di kantor Pangulu Nagori Buntu Bayu, Kecamatan Hatonduhan tersebut, Manager PTPN IV Tonduhan, Irianto, melalui Asisten SDM, Susan Silaban memberikan penjelasan.

"Yang dapat kami tanggapi pak, 1. Lahan yang ditanami warga masih berada di areal HGU PTPN IV Tonduhan. 2. Sepengetahuan kami tidak terdapat sempadan sungai. Melainkan bondar "bahasa batak" alias parit," sebut Susi via WhatsApp (WA) Senin (30/4/2018).

Baca Juga: PTPN 4 Eksekusi Tanaman Warga Buntu Bayu di Lahan Sempadan Sungai

Sambungnya masih melalui WA, Susan menuliskan, "3. Pembersihan yang dilakukan sudah melalui serangkaian mekanisme mulai surat sampai koordinasi dengan pemerintah setempat. 4. Seluruh hasil tanaman yang dihasilkan tentu saja dimasukan kedalam laporan".

Sifat "Belanda hitamnya" itu juga dipraktekkannya menanggapi konfirmasi hetanews.com, terkait apa yang disampaikannya sebagai alasan pihaknya dalam melaksanakan eksekusi yang menurutnya penertiban dengan mengatakan tidak etis.

"Enggak etis saya sebutkan identitasnya. Karena, pelaporan itu disampaikan kepada kami secara lisan. Pangulu pun ada berkoordinasi kepada kami. Kan bapak tonton video yang diunggah masyarakat. Itulah faktanya," ucap Susan Silaban yang sebelumnya ngaku disuruh manager melayani konfirmasi.

Perlu diinformasikan, alasan penulis menyertakan "Belanda hitam" pada tulisan ini, mengingat budidaya tanaman penghasil CPO (Crude Palm Oil) berkembang pesat di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah pada masa pendudukan Belanda.

Penulis: zai. Editor: gun.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan