Simalungun, hetanews.com - PTPN 4 Unit Hatonduhan eksekusi tanaman warga di Nagori Buntu Bayu, Kecamatan Hatonduhan, Kabupaten Simalungun di atas sempadan sungai.

Pahala Sihombing, salah satu warga yang melihat aksi brutal pihak perkebunan serta dibantu sejumlah aparat setempat, Jumat (27/4/2018) mengatakan, bahwa aksi itu terjadi berawal dari adanya pelaporan masyarakat sekitar, melalui Pangulu Nagori Buntu Bayu yang menuntut pihak perkebunan untuk mencabuti tanaman warga di atas lahan sempadan sungai.

"Alasan perkebunan mengeksekusi tanaman milik warga itu karena adanya pelaporan masyarakat melalui Pangulu Buntu Bayu," ungkap Pahala dari seberang telepon selulernya.

Mirisnya, masih menurut Pahala, aksi eksekusi hingga mencabuti mati tanaman warga, di antaranya, pohon pisang dan pohon kelapa hebrida, tidak mengikut sertakan pihak Pengadilan sebagai instansi resmi melaksanakan eksekusi. Sehingga warga menilai ada unsur kejahatan yang terjadi.

Menurutnya, lahan sempadan sungai tersebut dulunya merupakan kawasan jalan muntik milik perkebunan. Setelah jalan muntik ditiadakan, masyarakatpun menanami lahan itu.

"Sempadan sungai itu dulunya adalah kawasan rel kereta muntik hingga ke ujung ban. Setelah muntik tidak ada lagi, lalu ditanami warga," terangnya.

Terkait persoalan ini, Manager PTPN IV Hatonduhan, Irianto tidak bersedia dimintai keterangan apa yang menjadi alasan hukum pihak kebun mengeksekusi.

Sifat 'belanda hitam' nya itu dipertontonkannya dengan mengabaikan konfirmasi telepon hetanews.com. Sementara, nada panggil telepon selulernya aktif.

Bahkan konfirmasi pesan singkat yang dilayangkan terkait apakah sempadan sungai itu masih Hak Guna Usaha (HGU) atau tidak, juga tak ditanggapinya meski terkirim.