Labuhanbatu, hetanews.com- Baju atau rompi pelampung, merupakan perangkat yang dirancang untuk membantu pemakai, baik secara sadar atau dibawah sadar, agar tetap mengapung dengan mulut dan hidung berada di atas permukaan air.

Perangkat yang dirancang dan disetujui oleh pihak yang berwenang dalam hal ini, Biro Klasifikasi Indonesia itu untuk digunakan oleh sipil dalam rekreasi berlayar, pelaut dan lain-lain.

Rompi pelampung yang berbeda, dirancang untuk digunakan oleh penumpang dan awak pesawat (helikopter, pesawat udara) dan kapal komersial. Perangkat ini juga digunakan oleh militer angkatan udara, pasukan khusus, marinir, angkatan laut, penjaga pantai dan kepolisian.

Namun dalam insiden yang dialami rombongan Kapolres Labuhanbatu, AKBP Frido Situmorang saat kejadian Sabtu (21/4/2108) lalu, terlihat tidak seorang pun penumpang speedboat milik Polairud itu menggunakan rompi pelampung. Jelas hal ini dinilai tidak memenuhi standar operasional prosedur (SOP).

Kabid Humas Poldasu, Kombes Pol Rina Sari Ginting saat dimintai keterangan, terkait korban Kompol Andi Chandra dan sejumlah personil lainnya yang tidak menggunakan rompi pelampung saat menggunakan kapal cepat milik pemerintah itu mengatakan, karena kejadiannya tiba-tiba, sehingga rompi pelampung yang tersedia didalam speedboat tidak sempat digunakan.

"Ada tersedia rompi pelampung di speedboat, tapi karena kejadiannya tiba – tiba, mereka panik maka mereka tidak sempat pake, langsung lompat,"terang Rina, Senin (23/4/2018).