HETANEWS

Bos Miras Dibekuk Usai Urai Keterangan Sang Istri, Miliki Kebun Sawit 29 Hektare

Wakapolri Komjen Pol Syafruddin (kanan) menghadirkan barang bukti dan empat tersangka pembuat minuman keras (miras) oplosan saat digelar konferensi pers di rumah tersangka Samsudin Simbolon, di Jalan Bypass Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung

Bandung, hetanews.com - Setelah berstatus buron, Samsudin Simbolon, bos pembuat minuman (miras) keras oplosan yang menewaskan 45 orang di Kabupaten Bandung, akhirnya ditangkap di Provinsi Jambi, Rabu (18/4/2018) dini hari.

Bagaimana ia ditangkap? Butuh perjuangan panjang untuk menangkapnya.

Tim gabungan sebanyak 10 orang berangkat menggunakan jalur udara ke Jambi, berdasarkan hasil pengembangan keterangan dari Hamciak Manik, istri tersangka Samsudin Simbolon.

"Berdasarkan keterangan, ternyata Samsudin Simbolon mempunyai kebun sawit seluas 29 hektare di Baliung Licir, perbatasan Jambi dan Sumatera Selatan," ujar Kapolda Jabar Irjen Pol Agung Budi Maryoto di kediaman Samsudin, Jalan Bypass, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung, Kamis (19/4/2018).

Tim kemudian bergerak ke perkebunan sawit tersebut dibantu Polda Jambi.

Akhirnya, Samsudin ditangkap di kebun sawit tersebut dini hari.

"Tim berangkat dari Jambi ke lokasi penangkapan menggunakan jalan darat selama 2 jam," ujar Direktur Reserse Narkoba Polda Jabar, Kombes Pol Enggar Pareanom.

Saat terlacak, Samsudin sempat melarikan diri ke arah hutan kebun sawit namun bisa dikejar.

"Sempat ada pengejaran saat terlacak. Alhamdulillah tertangkap tanpa ada perlawanan," ujar Enggar.

Polisi memberi keterangan pers di samping bangunan gazebo, dekat kolam renang rumah mewah tersangka, yang menjadi jalan masuk ke bunker tempat pembuatan dan penyimpanan miras ginseng oplosan.

Keterangan pers itu juga dihadiri Wakapolri Komjel Pol Syafruddin.

Kapolda mengungkapkan persembunyian Samsudin Simbolon dapat diendus berkat pengembangan keterangan tersangka Hamciak, istri Samsudin.

"Tersangka Samsudin Simbolon dimungkinkan pergi ke arah Sumatra Utara, ternyata betul dia mengarah ke situ," ujar Irjen Pol Agung Budi Maryoto.

Menurutnya, Samsudin juga terdeteksi mengarah ke Pekanbaru, Riau, kemudian ke perbatasan Sumatera Utara.

"Ia sempat menghilang sebentar kemudian ke arah Jambi," ujar Kapolda.

  • Bau menyengat

Tersangka meracik minuman keras di sebuah ruangan bawah tanah (bunker) yang terletak persis di bawah kolam renang.

Lokasi tersebut berada di bagian belakang rumah tersangka.

Bunker tersebut berbentuk memanjang, ukuran sekira 10x4 meter.

Hanya ada satu sekat ruangan di bunker tersebut. Suasana pengap dan cukup panas terasa.

"Ruangan ini untuk meracik saja," ujar Direktur Reserse Narkoba Polda Jabar, Kombes Pol Enggar Pareanom.

Miras oplosan tersebut berdasarkan hasil laboratorium mengandung methanol dan alkohol.

Methanol merupakan zat kimia berbahaya jika dikonsumsi serta berbau menyengat.

Di ruangan tersebut dipasang 15 exhaust atau kipas angin untuk membuang udara dari dalam ke luar.

Selain itu, dinding juga dilubangi oleh pipa sebanyak 10 buah. Enam kipas angin juga dipasang di sejumlah sudut dinding.

"Kipas angin ini untuk membuang keluar bau methanol yang menyengat. Saat kami pertama menggeledah, menyengat sekali bau methanolnya. Lubang pipa itu untuk tempat masuk udara dari luar," ujarnya.

Ruangan itu juga digunakan untuk pengemasan miras oplosan dalam botol plastik yang biasa digunakan air mineral.

Setelah diracik lalu dikemas dalam botol plastik, kemudian dipak dalam kardus bertuliskan Minola.

Ratusan botol plastik kosong dan berisi cairan methanol tampak tergeletak di sejumlah sudut. Ruangan tersebut tingginya sekira 3 meter.

"Berdasarkan hasil laboratorium, penyebab kematian korban karena ada kandungan methanol yang dicampur alkohol dalam minuman keras tersebut," ujar Kapolda.

Methanol umumnya digunakan sebagai bahan bakar atau campuran spirtus dan pembasmi serangga.

"Methanol itu jika dikonsumsi membuat mata berkunang kunang, sesak nafas, muntah, mual hingga kemudian meninggal," ujar Kapolda.

Polisi telah menyita ethyl alcohol, methanol, minuman suplemen, hingga zat pewarna makanan.

Para tersangka yang dihadirkan di rumah tersebut antara lain Hamciak Manik, Samsudin Simbolon, Julianto Silalahi, dan Welly.

"Empat orang masih masuk dalam daftar pencarian orang (buron) yakni berinisial As, Sn, Uw selaku peracik, dan RS sebagai agen penjual," ujarnya.

Dalam sehari, Samsudin Simbolon cs mampu memproduksi miras sebanyak 240 botol.

"Peredarannya di wilayah Nagreg, Cibiru, Cicalengka,' ujar Kapolda. 

  • Baunya Menyengat, Saya Tak Kuat

Ribuan botol minuman keras (miras) ilegal, termasuk miras miras 'beracun' yang diproduksi tersangka Samsudin Simobol cs, dihancurkan polisi di Alun alun Cicalengka, Kabupaten Bandung, Kamis (19/4/2018).

Beberapa kali petugas kepolisian menghalau warga agar tidak melewati garis aman yang diizinkan.

Namun warga kembali saling berdesakan dan mendekat ke tumpukkan miras.

Kebanyakan warga, terutama perempuan dan anak anak, mengeluhkan bau menyengat dari cairan miras yang muncrat dari kemasannya tersebut.

"Penasaran ingin melihat penghancurannya bagaimana, tapi ternyata baunya menyengat ya, saya tidak kuat," ujar Hartanti (44), warga setempat.

Warga berharap tidak ada lagi penjual miras di Kecamatan Cicalengka, sehingga wilayah itu bisa bersih dari miras.

Dari tumpukan ribuan botol miras yang dimusnahkan, kumpulan botol plastik tampak paling menonjol dan paling kontras dibandingkan botol lainnya.

Miras yang dikemas dalam botol kaca berwarna cokelat tua.

Sedangkan yang dalam kemasan botol plastik cairannya berwarna kuning.

Miras dalam kemasan botol plastik itu yang mengakibatkan kematian 45 orang di Kabupaten Bandung.

Dalam pemusnahan itu terdapat 454 botol pewarna makanan merk Redbell dan 22 jeriken alkohol ukuran 25 liter.

Tak ketinggala 65 dus serbuk minuman energi dan satu jeriken essen yang menjadi bahan campuran miras ginseng.

"Semoga pemusnahan ini membuat miras tidak ada lagi di Cicalengka dan Kabupaten Bandung," ujar Bupati Bandung, Dadang M Nasser.

Wakapolri, Komjen Pol Syafruddin, memberikan jangka waktu bagi anak buahnya untuk melenyapkan miras dari kawasan itu.

"Sebelum Ramadhan masalah ini (miras oplosan) harus sudah selesai," ujar Komjen Pol Syafruddin.

Sanksi berat menanti aparat kepolisian yang di wilayahnya masih ada penjualan miras saat Ramadhan nanti.

Syafruddin mengatakan tidak segan segan mencopot pejabat Polri yang daerahnya masih terdapat peredaran miras.

Korban jiwa akibat miras oplosan bukan hanya terjadi di Cicalengka tetapi wilayah Indonesia lainnya.

Jumlah korban tewas di seluruh Indonesia mencapai 112 orang.

"Total 112 korban. Saya perintahkan penyidik agar menerapkan pasal maksimal," ujar Komjen Pol Syafruddin. 

Sumber: tribunnws.com 

Editor: sella.