HETANEWS

Prihatin, Siswa SMPN I Tiganderket Belajar di Lantai

Kondisi ruangan belajar yang kurang terawat dan mobiler yang tidak memadai. (foto/charles)

Karo, hetanews.com- Sungguh sangat memprihatinkan, masih ada anak didik harus belajar di lantai dengan beralaskan tikar. Kondisi ini tentunya dapat mengganggu konsentrasi anak didik dalam menyerap pelajaran yang diberikan gurunya.

Padahal, dana operasional sekolah setiap tahunnya dikucurkan pemerintah untuk meningkatkan kualitas belajar mengajar dan meningkatkan mutu pendidikan anak bangsa.

Tetapi tidak demikian dengan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri I Tiganderkat, Kecamatan Tiganderket, Kabupaten Karo. Kondisi sekolah yang menjadi sekolah unggulan di Kecamatan Tiganderket ini sungguh memprihatinkan.

Asbes ruangan belajar yang sudah hancur. (foto/charles)

Pasalnya, mobiler sekolah seperti meja dan bangku yang sudah rusak atau tidak layak pakai lagi, masih digunakan disejumlah ruang kelas belajar. Pintu penghubung antara ruang kelas belajar satu dengan yang lainnya juga sudah tidak layak sehingga kelas yang satu dapat melihat kelas yang lainnya. Bagaimana siswa akan penuh konsentrasi belajar kalau sarana untuk itu sangat tidak mendukung.

Selain kondisinya yang sudah rusak parah, jumlah meja dan bangku belajar pun sangat minim. Bahkan pintu dan plafon disejumlah ruang kelas sudah jebol.  Kondisi kebersihan lingkungaan kegiatan belajar mengajarpun tidak dijaga. Hal ini tentu sangat tidak mendukung suksesnya kegiatan proses belajar mengajar. Juga membuat para siswa tidak nyaman berada di lingkungan sekolah tersebut.

“Kita sangat miris melihatnya, karena tiga orang siswa harus menggunakan satu meja belajar, sehingga mereka terkadang harus berdiri dan berdesak-desakan.  Apalagi sàat disuruh guru menulis, karena ukuran meja sangat sempit,” ujar salah seorang orangtua siswa yang mengaku bermarga Ginting kepada sejumlah wartawan di Tiganderket, Rabu (18/4/2018).

Tumpukan mobiler sekolah yang sudah rusak. (foto/charles)

Ironisnya lagi, katanya, bangku belajar yang seharusnya memiliki empat kaki, kini tinggal berkaki tiga dan tidak memiliki sandaran lagi. Lingkungan sekolah mulai dari halaman hingga setiap ruangan begitu jorok, sampah plastik dan botol bekas air mineral berserak dimana-mana.

“Bangku belajar yang kakinya hanya tiga banyak ditemukan di ruangan. Begitu juga dengan bangku yang sudah tidak ada sandarannya. Dan yang lebih parahnya lagi, siswa yang akan belajar mata pelajaran agama Katholik mau tidak mau harus belajar dilantai menggunakan tikar. Begitu juga dengan bangku dan meja guru, rata-rata tidak ada. Mereka harus mengalah dan harus berdiri terus disaat mengajar,”ujarnya.

Disebutkannya, buruknya kondisi mobiler di sekolah tersebut sudah sering dikeluhkan siswa dan orang tua siswa. Namun belum juga dibenahi oleh pihak sekolah, hingga akhirnya sebanyak 612 orang siswa SMPN I Tiganderket harus rela tidak mendapat layanan fasilitas pendidikan yang baik dan berkualitas dari pemerintah Kabupaten Karo.

“Mobiler sekolah itu sudah lama rusak, padahal perawatannya masuk dalam 13 komponen yang bisa dibiayai dari dana BOS. Jadi seharusnya Kepala Sekolah bijak menggunakan sebagian dari dana BOS untuk merawat mobiler sekolah  dan kerusakan-kerusakan kecil bangunan sekolah. Makanya saya heran mengapa Kepala Sekolah tidak melakukan itu. Apakah dia hanya berfikir untuk mengambil keuntungan dari Dana BOS,” keluhnya lagi.

Dia mengharapkan, agar Dinas Pendidikan  Karo memperhatikan kondisi mobiler sekolah tersebut, agar kegiatan proses pembelajaran bisa dapat berjalan dengan baik.

Para pelajar yang terpaksa belajar di lantai. (foto/charles)

Menanggapi itu, salah seorang Pemerhati Pendidikan di Karo, Jusuf Ginting (57), warga Kecamatan Tiganderket menyebutkan, kalau laporan-laporan terkait kondisi fisik sarana prasarana sekolah tersebut telah sampai ke telinganya. Bahkan Ia telah melakukan kroscek langsung, yang mana SMPN I Tiganderket yang merupakan sekolah unggulan di Kecamatan Tiganderket memiliki jumlah siswa yang sangat banyak. Sehingga menerima dana BOS kurang lebih setengah miliar per tahun. Namun kondisi bangunan dan lingkungannya dalam kurun 3 tahun terakhir ini sangat memprihatinkan.

“Tidak pernah dicat, mobiler dibiarkan rusak, kamar mandi tidak terawat, pintu ruangan dan plafon kelas dibiarkan rusak serta terkesan kumuh. Padahal petunjuk teknis (juknis) salah satu sasaran penggunaan dana BOS adalah untuk perawatan sekolah seperti pengecatan, perbaikan atap bocor, perbaikan pintu dan jendela. Kemudian perbaikan mobiler, perbaikan sanitasi sekolah (kamar mandi dan WC), perbaikan lantai ubin/keramik dan perawatan fasilitas sekolah lainnya,”ujarnya.

Ia menjelaskan , penggunaan dana bantuan tersebut harus sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tentang juknis dan pertanggungjawaban dana BOS.

Hal ini, lanjutnya lagi, diduga telah menjadi sumber penghasilan para kepala sekolah dengan menyalahgunakan jabatannya demi kepentingan pribadi. Karena tidak memperhatikan kondisi sekolah yang dipimpinnya.

“Saya berharap, Manajer BOS Disdik Karo diminta tinjau sekolah penerima, karena banyak ditemukan kejanggalan karena sebagai implementasi kerja nyata, kita akan pantau hingga nanti kita giring ke penegak hukum,” kesalnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Karo, Eddi Surianta Surbakti ketika dikonfirmasi, di ruang kerjanya, mengakui akan kondisi fisik dan lingkungan sekolah tersebut. Ia menyebutkan akan segera memanggil Kepala Sekolah.

“Dalam waktu dekat kita akan memanggil kepala sekolahnya dan mempertanyakan kenapa hal itu bisa terjadi. Juga kita akan segera inspeksi mendadak melihat kondisi yang sebenarnya, baik sarana (fisik) maupun manajemen yang diterapkan demi kepentingan kegiatan belajar mengajar,”singkatnya.

Penulis: charles. Editor: gun.