Mon 15 Oct 2018

TRS Motivasi Pemuda Gereja di Acara Seminar yang Digagas PGLII Siantar-Simalungun

Suasana seminar yang digelar Pemuda PGLII Siantar-Simalungun, Sabtu (14/4/2018), lalu di International Hall, Jalan Gereja Siantar. (foto/tom)

Siantar, hetanews.com-  Galau. Satu kata yang cukup trend dan hampir semua orang pernah mengalaminya.

Tetapi cenderung rasa galau itu memunculkan pengaruh negatif jika tidak diatasi dengan cepat dan tepat.

Oleh karena itu, generasi muda di Kota Siantar disarankan untuk tidak terlelap dalam rasa kegalauan, ketika ada persoalan yang datang.

Hal ini disampaikan Teddy Robinson Siahaan atau TRS kepada generasi muda gereja, Sabtu (14/4/2018) di International Hall, Jalan Gereja Siantar.

Dalam acara seminar dan diskusi yang diadakan Persekutuan Gereja Lembaga-Lembaga Injili Indonesia (PGLII) Siantar-Simalungun dari bidang pemuda, TRS diundang menjadi salah satu narasumber untuk membangkitkan generasi muda gereja menatap dan meraih masa depan yang lebih produktif.

Kegiatan ini mengangkat tema “membangun kemandirian dan paradigma baru pemuda Kristen”. Dan sub tema “melalui kemandirian dan paradigma baru menjadi kontribusi positif pemuda Kristen ditengah masyarakat, gereja dan pemerintahan”.

Di tengah peserta yang hadir dari berbagai gereja, TRS menegaskan, bahwa setiap anak-anak Tuhan harus kuat dan tidak bisa berlarut dalam kondisi tersebut. Hidup ini adalah kesempatan. Dimana setiap orang didorong sigap dan kreatif menyikapi kondisi yang ada.

Kata lain, harus mampu menjadikan kondisi yang kurang baik menjadi sebuah peluang. “Saat kita galau, itu menjadi satu kesempatan yang dapat merusak masa depan yang baik,  jika seseorang itu tidak segera bangkit dari keterpurukan,” jelasnya.

Hakekatnya semua manusia tidak lepas dari masalah tetapi yang menjadi masalah adalah ketika direspon dengan tidak baik. Semua kembali kepada cara pandang melihat hidup kedepan. Peluang untuk mendapatkan yang terbaik selalu terbuka tetapi dengan paradigma baru, yaitu, membuat ancaman menjadi peluang.

“Kalau ada kemauan pasti ada jalan. Setiap saat Tuhan memperhatikan umat-Nya. Kita harus membuat Tuhan bangga dari semua aspek,” katanya.

Pria yang pernah menjadi Direktur di salah BUMN tersebut mengatakan, pemuda gereja harus mampu tampil beda, kemudian menjadi teladan atau pengaruh kepada setiap lapisan masyarakat.

Menurutnya, saat ini bangsa Indonesia, khususnya Kota Siantar sedang masuk pada tahap krisis keteladanan, dan generasi muda harus  berpikir, bahwa itu menjadi tanggung jawabnya.

“Kita harus merendahkan diri, sampai orang lain tidak bisa lagi merendahkan kita. Dan kita harus mampu menciptakan dunia-dunia usaha,” sarannya.

Disampaikan, masyarakat Siantar patut bersyukur kepada Tuhan karena pada dasarnya, warga Siantar lahir dengan Sumber Daya Manusia (SDM) yang baik. Masih sangat berbeda dari beberapa daerah lainnya. Hanya saja, potensi yang ada harus dikemas dan dikembangkan terus menerus. Disinilah pemuda gereja memiliki tugas, termasuk mengembangkan berbagai bidang-bidang usaha.

“Kalau kita tulus, Tuhan akan menunjukkan jalan keluar,” katanya sembari membeberkan sejumlah pengalaman hidupnya hingga memutuskan mencalonkan diri sebagai Wali Kota Siantar, dan kini TRS kembali meniti karir yang dipercayakan sebagai komisaris di tiga perusahaan besar.

Sekilas, sebagaimana disampaikan moderator di kegiatan ini, Pdt Adv Horas Sianturi, membeberkan profil TRS yaitu sosok pekerja dengan sejumlah prestasi atau jabatan.

Pada usia yang relatif muda, sekitar 25 hingga 30 tahun, suami dari Susi Renta Flora Hasibuan sudah meniti karir di perusahaan Hongkong dengan mendapatkan upah yang cukup besar hingga diberi kesempatan kuliah S2, gelar Master of Business Administration di Overseas Training Center, yang merupakan afiliasi dari California State University, Amerika Serikat.

Sekretaris PGLII Siantar-Simalungun ini mengatakan, tidak mudah mendapatkan jabatan sebagai Direktur di BUMN. Namun TRS sudah buktikan lewat kerja keras dan disiplin. TRS dikenal sebagai orang yang cerdas, ulet, dan pekerja keras sehingga tak butuh waktu lama, Lippo mempromosikannya menjadi salah seorang manager di perusahaan tersebut.  Jadilah waktu itu, dalam usia 28 tahun, TRS menjadi manager termuda di PT Lippo Cikarang. Juni 1995, TRS kembali mendapat promosi sebagai general manager di perusahaan yang sama.

Pengabdiannya di Grup Lippo berakhir tahun 1997. Selepas itu dia bekerja di Eraska Grup sebagai Senior General Manager yang menangani beberapa proyek property di Cibubur. Tak lama berselang dia pindah ke Grup Tamara dengan posisi yang lebih tinggi sebagai Direktur Pemasaran Tamara Grup di Project Kedaton Golf and Residential pada usianya yang masih sangat muda untuk jabatan Direksi yaitu usia 34 tahun.

Tahun 2007, TRS dipercaya oleh pemerintah untuk menduduki posisi sebagai Direktur Pemasaran di Perum Perumnas. Saat itu, posisi keuangan dan pemasaran Perum Perumnas tidak begitu baik. Pada saat bergabung di Perum Perumnas usia TRS 43 tahun, dimana usia yang sangat muda pada jabatan direksi BUMN. Ketika bergabung di Perumnas, nilai penjualan perusahaan hanya Rp 221 miliar.

Tahun pertama bergabung di Perum Perumnas, TRS mampu meningkat kenaikan penjualan lebih dari 100%. Di tangannya, setiap tahun terjadi peningkatan penjualan hingga puncaknya tahun 2011, pendapatan Perum Perumnas mencapai lebih dari satu triliun rupiah.

Atas keberhasilan TRS di Perumnas, membuat TRS kembali dipercaya oleh pemerintah untuk menjadi Direktrur Pemasaran dan Pengembangan di PT Kawasan Berikat Nusantara (Persero) pada bulan November tahun 2012 untuk periode 5 tahun. Perusahaan milik pemerintah ini mengelola industri, pabrik, pergudangan, dan pelabuhan di daerah Cakung-Cilincing, Tanjung Priok, Jakarta.

Atas pengalaman itu, Pdt Horas Sianturi berharap generasi muda dapat motivasi untuk menjadi generasi gereja yang mencapai tingkat keberhasilan yang memuaskan.

Pada kesempatan yang sama, Ketua PGLII Siantar-Simalungun, Pdt Dionisius Panomban, mendorong generasi muda gereja menjadi pemimpin masa depan yang bergelut di berbagai bidang pekerjaan, jabatan, baik di pemerintahan.

Ia menjelaskan, pemimpin memiliki peran luar biasa atas kehidupan masyarakat Indonesia. Sampai-sampai pemimpin yang tidak memiliki karakter yang baik akan merusak tatanan berbangsa dan bernegara.

Untuk diketahui, acara PGLII Siantar-Simalungun diketuai Toni Sinaga dan Sekretaris, Patiar Manurung. Pengurus di bidang kepemudaan berharap, lewat pertemuan perdana ini anak-anak muda gereja bisa berkreasi maksimal di dalam kebersamaan dalam mencapai tujuan gereja yaitu menjadi garam dan terang di berbagai bidang aspek kehidupan.

Penulis: tom. Editor: gun.