Mon 15 Oct 2018

Harimau yang Ditangkap di Agam Dikirim ke Pusat Rehabilitasi

Seekor anak harimau yang ditangkap petugas BKSDA di Kabupaten Agam, Sumatra Barat, akhirnya dievakuasi dari hutan pada Selasa, 17 April 2018

Sumatra Barat, hetanews.com - Seekor anak harimau yang ditangkap petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, akhirnya dievakuasi dari hutan. Si anak raja rimba dibawa ke Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera Dharmasraya (PR-HSD), sebelum dilepasliarkan ke habitatnya.

Harimau berjenis kelamin betina dan berusia dua tahun itu masuk perangkap yang dipasang petugas BKSDA pada Sabtu pekan lalu. Petugas memutuskan untuk mengevakuasinya lebih cepat dari jadwal yang ditentukan sebelumnya, karena mempertimbangkan kondisi kesehatan dan keselamatannya.

Selain itu, upaya menjadikan si anak harimau sebagai pemikat induknya tidak membuahkan hasil. Walau hingga sore kemarin masih ditemukan belasan jejak kaki baru, kotak perangkap yang dipasang petugas sama sekali tidak membuahkan hasil.

"Sepertinya si induk sudah menjauh dari lokasi ini," kata Kepala Seksi Konservasi Wilayah I BKSDA Sumatera Barat, Khairi Ramadhan, pada Selasa, 17 April 2018.

Seekor anak harimau Sumatra yang tertangkap di kawasan hutan Palupuah, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, pada Sabtu, 14 April 2018.

Harimau dengan nama latin panthera tigris Sumatera itu dievakuasi dan bakal dirawat di PR-HSD. Pusat rehabiltasi baru diresmikan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar pada akhir 2017. PR-HSD memiliki sejumlah fasilitas yang mumpuni.

"Itu salah satu dasar pertimbangan kenapa anak harimau ini dibawa ke sana. Namun demikian, kami akan tetap terus memantau perkembangannya," kata Khairi.

Jika dalam waktu dekat kondisi kesehatannya membaik dan tim medis sudah menganggap layak untuk dilepas, BKSA akan mengembalikan kucing besar ini ke habitat aslinya. Bisa saja kembali ke Palupuah atau ke lokasi lain yang dianggap layak.

  • Obat penenang

Sebelum dievakuasi oleh petugas BKSDA, anak raja rimba itu terlebih dahulu diberikan penanganan medis berupa pemberian vitamin dan obat penenang. Obat penenang dianggap perlu diberikan agar tingkat keagresifannya berkurang. Sebab, proses evakuasi dengan cara mengangkat kotak perangkap dan si harimau ke atas truk.

"Kami hanya berikan vitamin dan obat penenang, bukan dibius. Obat penenang agar anak harimau ini tidak terlalu agresif ketika dipindahkan ke atas kendaraan pengangkut," kata Syefrizal, salah satu tim dokter.

Dosis obat penenang yang diberikan cukup untuk membuat tenang si harimau hingga tiba di lokasi rehabilitasi. Tentu saja sepanjang perjalanan kondisinya akan tetap dicek, termasuk diberi air karena jarak ke Dharmasraya cukup jauh dan memakan waktu hingga lima jam.

 

sumber : viva.co.id

Penulis: -. Editor: sella.