Mon 23 Jul 2018

Tradisi Coret Seragam Sekolah dan Konvoi di Jalanan masih Kelihatan

Gerombolan pelajar yang mengenakan seragam SMA melintas di Jalan Pdt J Wismar Saragih, Kecamatan Siantar Martoba, Kota Siantar, Kamis (22/4/2018). (foto/hug)

Siantar, hetanews.com - Segerombolan pelajar bersergam SMA bersorak bergembira saat melintas di Jalan Pdt J Wismar Saragih, Kecamatan Siantar Martoba, Kamis (12/4/2018) siang.

Gerombolan pelajar ini menunggangi belasan unit sepeda motor, hendak bertolak menuju destinasi wisata Danau Toba.

Kepuasan serta kegembiraan terpancar di wajah para pelajar SMA sederajat yang baru saja menyelesaikan Ujian Nasional Berbasis Kompetensi (UNBK) tersebut. Mereka tampaknya tidak mau melewati momen berharga itu dengan 'lurus-lurus' saja atau pulang ke rumah dan bertemu orang tua. 

Sebaliknya, mereka menikmati kesempatan itu dengan melanjutkan tradisi lama, seperti mewarnai seragam sekolah mereka dengan cat atau pilox dan coret-coretan tandatangan dari teman-teman yang mereka anggap penting.

Sebagian alasan ekstrim melakukan itu adalah, mereka menganggap sekolah bagaikan 'tembok penjara' yang memenjarakan ekspresi.

Kedatangan mereka di jalanan tampak begitu jelas. Selain menunggangi sepeda motor beramai-ramai, warna warni seragam yang mereka kenakan dan rambut yang mereka cat pun menandakan jika mereka sedang menikmati masa akhir sekolah. Bahkan satu di antara mereka, menorehkan tulisan "Goodbye Putih Abu-abu' pada baju sekolahnya.

"Kami dari Serbelawan. Baru selesai ujian. Kami rencana mau jalan jalan ke pantai Danau Toba," ujar salah seorang siswa, seraya menggoyang-goyangkan satu botol pilox di tangannya.

Di jalanan, mereka terlihat kompak berjalan beriringan. Meski hampir seluruhnya tidak mengenakan helm, tampaknya cara mereka mengemudi bak tour para anggota club sepeda motor. Serba hati-hati dan seirama. 

Tradisi coret-coret baju seragam sudah berlangsung sejak lama. Meski beda generasi, tradisi menikmati masa akhir sekolah dengan mengorbankan seragam sampai sekarang masih dianggap tidak wajar. Bahkan orang yang menganggap itu tidak wajar adalah mereka yang pernah melakukan hal yang sama saat mengakhiri masa sekolah.

Meskipun demikian, tradisi corat-coret ini sebagian dilarang keras dibeberapa sekolah-sekolah. Bahkan muncul ide,ide lain untuk memanfaatkan masa akhir dengan cara yang santun dan lebih terhormat. 

Penulis: Hugs. Editor: gun.