Siantar, hetanews.com - Kebiasan aksi coret-coret seragam sekolah usai melaksanakan UNBK (duluanya UN) bagi pelajar adalah suatu tindakan yang sudah kuno.

Seharusnya, di era zaman now (sebutan kaum milineal) kebiasan tersebut harusnya ditinggalkan dan diisi dengan kegiatan sosial dan bermanfaat bagi orang lain.

Seperti yang dilakukan siswa/i kelas XII SMA Teladan Kota Pematangsiantar, mereka merencanakan berbuat kegiatan sosial usai mengikuti UNBK.

Dengan mengunjungi dua Panti Asuhan yakni Panti Asuhan Islamic Centre dan Panti Asuhan Elim.

Konsep sosial ini dimotori oleh OSIS SMA Teladan. Dan ketika berbincang dengan kru lintas publik, Reza A.Nasution siswa XII IPA 1 selaku Ketua Osis Tahun 2016/2017 didampingi rekannya Rijen R Panggabean siswa kelas XII IPA 2 akan membuat kegiatan sosial tersebut berbeda dari kegiatan lainnya.

" Saat mengajarkan pengetahuan, siswa-i yang unggul dalam prestasi akan mengajarkan adek-adek Panti Asuhan baca tulis. Ketika belajar seni alat musik, maka pelajar yang tergabung ekstra musik akan mengambil peran.

" Kami sadar bahwa kegiatan coret-coret seragam bukan kegiatan positif. Makanya, seluruh siswa bersepakat untuk meninggalkannya dan mengalihkan berbuat sosial kepada yang membutuhkan," ujar Reza, Rabu (11/4/2018).

Sambung Reza, kegiatan sosial di Panti Asuhan ini bukan melulu memberikan barang dan materi, namun mengimplematasikan pengetahuan dan ketrampilan yang sudah didapat dari sekolah.

Seperti mengajari adek-adek Panti Asuhan yang belum tahu baca tulis, mengajari untuk bermain alat-alat musik dan melatih vokal serta tak lupa tentang ajaran agama Islam, agama Kristen.

Begitu juga saat mengajari baca Al-quran dan sholat, siswa/i beragam muslim yang sudah dilatih guru agama Islam akan mengambil peran. Kemudian, siswa/i yang Kristen akan melakukan kebaktian dan membaca Alkitab," ucap keduanya di salah satu warung dekat sekolah.

Menurut mereka, dengan mengajarkan ilmu dan pengetahuan, lebih jauh bermakna dan tidak cepat dilupakan sampai kapan pun.

" Misalnya, bila kita mengajari adek-adek yang tidak tahu membaca, ketika kelak dia sudah pandai, pasti kita selalu diingatnya," ucap Reza.

Kendati pun demikian, kata Reza, 178 siswa/i SMA Teladan Kota Pematangsiantar juga mengumpulkan seragam bekas dan layak pakai kepada orang membutuhkan dan juga buku-buku pelajaran seperti buku cerita yang dapat dimanfaatkan anak kecil.

" Sembari menyampaikan ilmu, kita juga mengumpulkan seragam bekas dan layak pakai untuk diserahkan bagi yang membutuhkan,"ucap Reza.

Sementara kepala sekolah SMA Teladan, Sangkot Sitohang sangat menyambut baik kegiatan positif yang dilakukan siswanya.

Kata Sangkot, aksi coret-coret sudah ketinggalan zaman. Dan tidak cocok lagi dilakukan anak didik.

"Di zaman saya, lulus tahun 1988, aksi coret-coret sudah ada. Makanya tak relevan kalau pelajar menirunya lagi,"kata Sangkot.

sumber: lintaspublik.com