Karo, hetanews.com- Kebudayaan Karo tidak bisa dipisahkan dengan desa. Desa yang indentik dengan pertanian dengan segala propertinya adalah tempat lahir, tumbuh dan berkembangnya keunikan kebudayaan Karo.

Bisa disimpulkan, desa-desa di Kabupaten Karo adalah aset dan sekaligus penjaga warisan adat dan budaya Karo, yang seharusnya menikmati manfaat terbesar dari perkembangan pembangunan.

Namun faktanya, desa yang didominasi perekonomian berbasis pertanian di Karo sebagaimana di seluruh Indonesia sering kali tertinggal dalam proses pembangunan dibanding daerah tujuan wisata.

Seperti contoh sektor pariwisata di Kabupaten Karo yang merupakan salah satu potensi unggulan untuk mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD), di samping pertanian dan industri.

Sektor pariwisata, sesuai dengan visi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Karo untuk mewujudkan daerah tersebut sebagai daerah tujuan wisata, berwawasan lingkungan berlandaskan nilai-nilai budaya Karo.

Desa Talimbaru, Kecamatan Barusjahe, berjarak sekitar 15 Km dari ibu kota Kabupaten Karo, atau 20 menit perjalanan bila ditempuh dengan kendaraan, adalah desa terakhir atau berbatasan langsung dengan kabupaten Simalungun.

Desa itu diusulkan menjadi desa wisata baru di Kabupaten Karo, bukan tanpa sebab. Mengingat potensi desa itu yang cukup luar biasa dan secara geografis sangat potensial menjadi desa wisata baru di Kabupaten Karo. Posisinya yang tidak begitu jauh ke  ibukota kabupaten, juga ke tempat wisata lain, seperti DTW Tongging dan Air Terjun Sipiso-piso. Demikian juga ke jalan alternatif  bandara Kualanamu, Deliserdang.

Hal itu diutarakan tokoh masyarakat desa setempat, Hermanto Barus, Togam Maria Br Barus, tokoh adat, Mangsi Peranginangin, tokoh pemuda, Obert Ginting dan Ketua Karang Taruna, Berry Capri Barus, kepada sejumlah wartawan, Rabu (4/4/2018), di desa Talimbaru.

Ada banyak cara sebenarnya untuk menggali dan memajukan pariwisata di Tanah Karo. Memang untuk memajukan pariwisata alam berbasis desa bukan hanya tugas pemerintah tetapi juga masyarakat itu sendiri.

"Kesadaran masyarakat akan pentingnya memajukan dunia pariwisata memang sangat dibutuhkan, peran serta masyarakat memajukan pariwisata sangat penting,”ujar mereka.

Desa ini memiliki keunikan sebuah embung/tambak “raksasa” sebagai sumber air/irigasi persawahan. Juga dapat difungsikan sebagai wadah peternakan ikan,  yang pada saat ini sudah terdapat 20.000 ekor ikan emas dan nila. 

Desa Talimbaru yang cukup segar udaranya itu direncanakan pembangunan rumah hobbit, sapo angin/gubuk berornamen tradisional Karo. Disisi utara embung akan dibuka jalur lintas alam/jungle track yang langsung menghubungkan ke pemukiman penduduk/desa.

Hal yang sama dikatakan Kepala Desa Talimbaru, Ferianto Tarigan. Selain potensi budaya, desa Talimbaru memiliki obyek wisata alam yang sangat menarik. Salah satu pendekatan pengembangan wisata alternatif adalah desa wisata untuk pembangunan pedesaan yang berkelanjutan dalam bidang pariwisata.

Ia menjelaskan, tujuan dari penetapan desa wisata adalah untuk mempertahankan budaya dan meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar. 

"Kita berharap, dengan ditetapkannya desa itu sebagai desa wisata, kita bisa menjaga budaya, adat dan kekayaan alam yang ada di desa itu," ucapnya.

Prinsip pengembangan desa wisata, sambung Ferianto Barus, adalah sebagai salah satu produk wisata alternatif yang dapat memberikan dorongan bagi pembangunan pedesaan yang berkelanjutan.

Bila ini terpenuhi tentunya, sasaran pembangunan desa wisata akan tercapati seperti terwujudnya kemampuan masyarakat setempat untuk memelihara, menggali, mengembangkan keanekaragaman seni budaya, masyarakat, yang berguna bagi kelengkapan atraksi wisata yang dapat dinikmati pengunjung.

Harapan kami, Pemkab Karo dan DPRD dapat menerima usulan kami, menjadikan desa Talimbaru menjadi desa wisata baru di Kabupaten Karo, ucapnya.