HETANEWS

'Paias Kuburan' dan Ziarah, Sisi Lain di Hari Paskah Bagi Suku Batak

Tradisi ritual Suku Batak saat ziarah ke makam keluarga  maupun leluhurnya saat Hari Paskah tiba. (foto/rachmat tinton)

Humbahas, hetanews.com - Menghormati leluhur bagi masyarakat Batak Toba merupakan sebuah keharusan.

Sebab dari leluhur lah dapat diambil sebuah garis keturunan yang menunjukkan kekerabatan Suku Batak.

Penghormatan leluhur ini dapat dilakukan dengan berbagai cara. Di antaranya dengan membersihkan kuburan atau biasa disebut dalam bahasa Batak sebagai 'paias kuburan'. Kemudian menziarahi makam leluhur menjelang penyambutan perayaan Paskah.

Perayaan Paskah pada dasarnya adalah perayaan yang diajarkan secara theologies bagi masyarakat Kristen. Seiring masuknya ajaran Kekristenan di Tanah Batak, perayaan Paskah dilaksanakan hampir seluruh masyarakat Batak yang menganut ajaran Nasrani.

Demikian jugalah yang dilakukan keturunan Oppu Tumonang Siregar yang bertempat di Desa Riaria, Kecamatan Pollung, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas).

Oppu Tumonang sendiri merupakan generasi kesembilan dari silsilah, Siregar Silali keturunan dari Toga Siregar. Sejak bermukim di Desa Riaria, Oppu Tumonang sudah memiliki delapan generasi. Hampir setiap tahunnya generasi ke generasi melakukan ziarah bersama-sama di pemakaman keluarga yang sudah dibangun sejak tahun 1969 lalu.

Sekedar untuk diketahui bahwa pemakaman di daerah Batak umumnya dibuat berdasarkan garis keturunan masing-masing leluhur. Sehingga tidak jarang di kawasan permukiman dibangun juga sebuah tugu/simin (batu na pir, Batak-red) sebagai simbol dari kebesaran masing-masing garis keturunan. Tugu tersebut dapat berbentuk patung yang mengambarkan sosok leluhur atau pun semacam prasasti yang menjadi lambang dari kekuatan sang leluhur.

Meskipun masyarakat Batak sudah menganut berbagai macam agama, namun budaya ini masih banyak di pertahankan. Sebab, selain simbol dari keberhasilan para garis keturunan, memiliki sebuah tugu diterjemahkan juga sebagai pertanda kerukunan di antara keturunan.

“Di dalam satu tugu seperti yang kami miliki ini sudah terdapat leluhur kami. Yang tulang belulangnya telah kami gali dan disatukan di dalam tugu. Namun, kami bukan menyembah tugu, melainkan hanya menziarahinya sebagai simbol menghargai leluhur serta mempererat
silaturahmi di antara masing-masing keturunan,” terang Bestian Siregar (58) kepada wartawan, di Desa Riaria, kemarin.

Tradisi ziarah ke makam leluhur.(foto/rachmat tinton)

Bestian yang mengaku menziarahi makam leluhurnya yakni Oppu Tumonang merupakan keturunan kesembilan dari Siregar Silali.

Sementara Oppu Tumonang sendiri sampai saat ini sudah memiliki 8 garis keturunan yang keseluruhannya masih memiliki ikatan kekerabatan. Bukan seperti pemakaman di tempat lain, sebab di Tanah Batak seseorang hanya bisa dimakamkan di tanah milik keluarga atau leluhurnya.

“Sehingga mau tidak mau suka atau tidak suka, kami sesama keturunan harus tetap saling menjaga keharmonisan. Sebab, bukan hanya dalam kehidupan saja kami menyatu bahkan dalam kematian sekalipun akan tetap dimakamkan bersama di kawasan milik leluhur. Hal ini jugalah yang membuat kami dan generasi kami tetap menjaga kerukunan,” paparnya.

Ada asumsi bahwa masyarakat Batak semacam menyembah berhala karena terlalu mengagung-agungnya tempat orang yang sudah meninggal. Namun menurut Bestian, hal ini sebuah pandangan yang salah. Sebab menghormati leluhur bagi masyarakat batak sebuah keharusan. Sebab, dari keberadaan leluhurlah masyarakat Batak dapat mengambil garis keturunannya sehingga dapat dipadukan menjadi silsilah yang harus  terus digunakan.

“Dengan menziarahi makam leluhur atau makam keluarga kita yang sudah meninggal bukan berarti kita menyembah berhala atau roh. Namun tetap berdoa kepada Tuhan sesuai ajaran Kekristenan. Bahkan di tempat makam leluhur, kita berdoa sesuai tata ibadah Kristen agar leluhur kita diterima di sisi Nya dan generasi yang masih berziarah diberkati Tuhan,” terangnya.

Keturunan Oppu Tumoang lainnya, Jabantu Siregar (43) akrab dipanggil Ama Lumbas, mengatakan, ziarah yang dilakukan masyarakat ini merupakan perpaduan dari aspek theologies Kekristenan dengan budaya Batak Toba. Hal ini sudah dilakukan sejak zaman dahulu saat masyarakat Batak sudah mengenal ajaran kekristenan. Sehingga ziarah ke makam leluhur dilakukan dengan aturan yang sudah ada dari keyakinan masing-masing leluhur.

“Karena kami seluruhnya sudah menjadi penganut ajaran Kekristenan maka melakukan ibadah secara Kekristenan. Sementara bekal yang dibawa ke pemakaman itu semata-mata sebagai media kami sesama keturunan untuk bersilaturahmi dengan menikmati berbagai macam hidangan yang dibawa dari rumah masing-masing,” katanya.

Jabantu mengatakan, bahwa keberadaan leluhur bagi masyarakat Batak merupakan penentu garis keturunan, sehingga segala sesuatu yang berkaitan dengan leluhur harus tetap dijaga, termasuk makam yang menjadi simbol dari kematian.

“Kita tidak meminta berkat dari para leluhur. Sebab kita sudah menganut ajaran kekristenan yang menyakini bahwa ada Tuhan yang menciptakan lagit dan bumi. Namun, kita juga tidak dapat melupakan sejarah perjalanan leluhur yang selalu memiliki pesan filosofis bagi setiap keturunannya,” ucapnya.

Penulis: tim. Editor: aan.

Gunakan tombol di bawah untuk membagikan artikel ini!