HETANEWS.COM

Darurat Ekologis Semakin Massif, HKI Latih Pemuda Bertani

Puluhan pemuda dari berbagai wilayah di Sumatera Utara, mengikuti pelatihan kemimpinan dan kewirausahaan dalam keadilan ekologi, di Pusat Pelatihan Pengmas HKI Tiga Dolok, Kabupaten Simalungun, Rabu (28/3/2018). (foto/hug)

Simalungun, hetanews.com - Puluhan pemuda yang merupakan kader desa dari berbagai wilayah di Sumatera Utara, mengikuti pelatihan kemimpinan dan kewirausahaan dalam keadilan ekologi, di Pusat Pelatihan Pengmas HKI Tiga Dolok, Kabupaten Simalungun, Rabu (28/3/2018).

Ephorus HKI, Pdt MP Hutabarat melalui Kadep Diakonia, Pdt Adventus Nadapdap mengatakan, pelatihan pemuda kader desa ini digelar selama 9 hari, mulai 19 - 27 Maret 2018. 

“Out put dari pelatihan ini, diharapkan pemuda desa akan menjadi pioner mewujudkan keadilan ekologis,” jelas Pdt Adventus Nadapdap, ditemui di sela-sela pelatihan.

Pdt Adventus menilai, bahwa selama ini penyebab krisis ekologis di Indonesia adalah sistem ekonomi kapitalisme, diperkuat oleh rezim neo liberalis dan militeristik yang melihat kekayaan alam hanya sebagai komoditas tanpa pernah mempertimbangkan daya tampung dan daya dukung lingkungan serta mendelegasikan seluruh  penguasaan dan pengelolaan kekayaan alam kepada korporasi skala besar.

Atas nama pembangunan dan pertumbuhan ekonomi, rakyat dan alam hanya dijadikan objek, sehingga negara justru meligitimasi praktek perampasan, tanah, air, dan seluruh sumber-sumber kehidupan rakyat atau sumber-sumber agraria.

Darurat ekologis adalah situasi kegentingan yang diakibatkan hilangnya keseimbangan ekologis, dimana ekosistem setempat maupun global kehilangan daya dukung dan daya tampung lingkungan. 

Darurat ekologis yang semakin massif, dan pemanasan global yang memicu terjadinya perubahan iklim global, semakin memperparah kondisi masyarakat yang secara struktural sudah termajinalisasi, seperti kelompok petani dan nelayan kecil dan tradisional, masyarakat adat dan masyarakat lokal serta perempuan dan anak-anak. Hal ini lebih lanjut mengancam kedaulatan warga atas kebutuhan dasarnya seperti pangan, air dan energi.

“Keadilan ekologis tidak hanya berkaitan dengan ekologi atau lingkungan saja, ini merupakan kenyataan, sebuah faktor penting yang saling berhubungan terhadap masalah kelaparan, kemiskinan, sumber daya alam yang berkelanjutan, energi produksi dan penggunaan yang tepat, pembangunan ekonomi, distribusi kekayaan yang merata,  perdagangan yang adil dan keamanan lingkungan,” tambah  Nadapdap.

Materi pelatihan terdiri dari, pemahaman dasar tentang pertanian dan peternakan organik. Teknik pembuatan mikroba, bokasi dan pestisida dan herbisida organik. Analisa usaha pertanian yang difasilitasi oleh Junpiter Pakpahan (Alumni ARI Jepang). Pembuatan bantal dari sampah plastik (Juniamer Purba).

Membangun karakter pemimpin, menjadi pemimpin yang visioner (pemimpi jadi pemimpin) difasilitasi Pdt Adventus Nadapdap (Kadep Diakonia HKI). Teknik pertanian organik. Praktek pertanian dan peternakan organik difasilitasi Svenia Paul (Ahli pertanian dari Jerman). Kepemimpinan dan teknik pengorganisasian di desa difasilitasi David Rajagukguk (KSPPM). Proyeksi Tourisme di kawasan Danau Toba difasilitasi Daniel Boston.

Membangun kewirausahaan di desa, sekaligus merawat alam difasilitasi Sophia Anggraita (Advocacy officer for JPIC in Asia Region). Strategi pemasaran dan mengelola hasil pertanian dan peternakan organik untuk kuliner difasilitasi Hotma Silalahi (Owner Patarias Cofee).

“Di akhir acara digelar pemberian sertifikat dan pengumuman peserta terbaik untuk mendapat bantuan dana bergulir yang diserahkan langsung pucuk pimpinan HKI,” tandas Adventus.

Penulis: huget. Editor: gun.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan