Siantar, hetanews.com - Wacana menjadikan Universitas Simalungun (USI) menjadi Universitas Negeri masih menjadi perbincangan hangat di kalangan civitas akademik USI.

Wacana ini bermula saat Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pers dan Sastra, menggelar acara coffee morning, di gedung auditorium Radjamin Poerba, yang menggundang sejumlah pengamat dan beberapa civitas akademik USI, kemarin.

Menanggapi hal ini, Pasu Malau, yang juga dosen Fakultas Hukum USI, mengatakan, secara pribadi sangat setuju bila USI menjadi Universitas Negeri.

Katanya, wacana tersebut sebenarnya sudah bergulir sejak tahun 2000 silam, di mana beberapa civitas akademik setuju atas hal itu.

"Sebenarnya waktu saya jadi Sekretaris Forum Ilmiah Dosen Siantar-Simalungun, kami sudah usulkan USI jadi negeri, dan beberapa dosen setuju," ujarnya.

Sambungnya, wacana tersebut kemudian tidak dapat dilanjutkan karena pihak Yayasan USI tidak menyetujui. 

Ditanya alasan mengapa pada saat itu Yayasan USI tidak menyetujui? Pasu mengutarakan, khawatir kampus USI tidak lagi menjadi wadah bagi keseluruhan putra-putri Siantar-Simalungun yang ingin duduk, di bangku perguruan tinggi.

"Yayasan yang enggak setuju, karena tidak semudah itu menjadikan USI negeri. Dan yayasan khawatir USI tidak lagi menjadi tempat putra-putri Siantar-Simalungun untuk menempuh pendidikan tinggi karena akan ada persaingan secara nasional," paparnya saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (28/3/2018).

Baca Juga: Wacana USI Jadi Universitas Negeri, Hingga Perdebatan Ketersediaan Fasilitas

Ia menambahkan, tidak menampik anggapan bila USI menjadi Universitas Negeri, akan berdampak terhadap kemajuan sektor ekonomi di Kota Siantar.

"Itu benar dan tentunya akan berdampak terhadap kemajuan kota Siantar dan Kabupaten Simalungun, khususnya pada sektor ekonomi," imbuh Pasu yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor II ini.