HETANEWS

Proyek Pembangunan Rel KA Diduga Gunakan Tanah Ilegal

Satu unit alat berat sedang beroperasi, di lokasi pengerjaan proyek rel kereta api. (foto/tim)

Labuhanbatu, hetanews.com - Proyek strategis nasional tentang pembangunan rel kereta api (KA) di Kabupaten Labuhanbatu diduga menggunakan tanah ilegal.

Pasalnya, tanah yang digunakan untuk menimbun pembuatan rel tidak mengantongi izin.

"Kita duga tanah yang digunakan untuk menimbun rel kereta api itu tidak memiliki izin," ungkap Ketua Investigasi LSM Aliansi Penyelamat Indonesia (API) Labuhanbatu, P Sitohang, Senin (26/3/2018).

Alasan Sitohang, katanya, tanah yang digunakan untuk menimbun rel kereta api tersebut harus mengantongi izin dari Kementerian.

"Mereka menggunakan tanah yang telah dikeruk itu untuk ditimbun lagi. Seharusnya mereka ambil tanah galian C yang mengantongi izin dari kementerian. Bukan malah tanah yang dikeruk itu digunakan kembali untuk menimbunnya," kata Sitohang.

Ditegaskan Sitohang, jika pihak rekanan yang mengerjakan rel kereta api tersebut menggunakan tanah yang mengantongi izin kementerian, maka kualitas tanah yang digunakan akan sesuai standard serta akan menjadi pajak retribusi bagi Pemkab Labuhanbatu.

"Masalahnya pihak rekanan tidak menggunakan tanah yang miliki izin kementerian, sehingga pihak rekanan terbebas biaya retribusi. Dan pendapatan Pemkab Labuhanbatu jadi berkurang akibat permainan. Dan kita menduga hal ini seperti permaianan pihak rekanan untuk memperbanyak untung," tegasnya.

Atas kondisi itu, Sitohang meminta kepada kementerian perhubungan mengenai rincian anggaran biaya untuk seluruh proyek kereta api mulai dari RPK1-RPK8 agar masyarakat mengetahui informasi mengenai kegiatan yang sedang berlangsung. Sebab, menurutnya pihak kontraktor dinilai tertutup informasi.

"Bahkan, bila perlu kementerian keuangan harus tahu hal ini, agar uang proyek itu tidak dicairkan," pintanya.

Sementara itu, sejumlah pekerja yang berada dill lokasi, mengaku jika pimpinan mereka sedang keluar kota. Namun, mereka membenarkan jika tanah yang dikeruk mereka gunakan juga untuk proyek tersebut.

"Tanah yang dikeruk itu kita pindahkan kesana. Segala tanah yang dikeruk tidak boleh dibawa keluar dari lokasi ini. Jika mau jelas, tanya saja atasan kami yang saat ini sedang berada di Medan," ucap sejumlah pria yang sedang menghitung jumlah truk yang mondar mandir melintas di lokasi itu.

Penulis: tim. Editor: gun.

Ikuti Heta News di Facebook, Twitter, Instagram, YouTube, dan Google News untuk selalu mendapatkan info terbaru.