HETANEWS

Yayasan Bonapasogit Sejahtera Terapkan Peraturan yang Sama pada Semua Siswa

Siswa SMP YBS yang diberikan sanksi dari sekolahnya. (foto/aldy)

Tobasa, hetanews.com-Para siswa-siswi Sekolah Menengah Pertama (SMP) Yayasan Bonapasogit Sejahtera (YBS), Kabupaten Toba Samosir (Tobasa) sudah terbiasa mematuhi seluruh peraturan, baik dari sekolah maupun aturan yang dibuat masing-masing kelas.

Penegakan peraturan serta tata tertib, menjadi unsur penting terselenggaranya pendidikan yang baik dan berkualitas. Penegakan peraturan dan tata tertib mengajari para murid untuk mengetahui apa yang menjadi kewajiban dari murid dalam menuntut hak pendidikan yang layak.

“Memahami peraturan dan saksi yang didapat akibat dari peraturan adalah hal yang penting buat siswa, ini mengajari mereka untuk menjadi disiplin," ujar Immanuel Simangunsong selaku Kepala Sekolah (Kepsek) SMP YBS, Sabtu (24/3/2018).

“Kita tidak membeda bedakan siswa, semua sama dimata peraturan,” tegasnya. 

Immanuel mengatakan, bahwa sanksi yang diberikan kepada siswa-siswi YBS, tergantung akan jenis kesalahan yang diperbuat.

“Sanksi yang diberikan pasti akan lebih berat kepada pelanggaran peraturan yang berat, demikian juga sebaliknya," ujar Immanuel.

Dia juga menegaskan, bahwa setiap siswa-siswi YBS sudah memahami semua peraturan dari awal bersekolah di YBS.

Menanggapi kasus pengembalian 5 orang siswa SMP YBS baru-baru ini, Immanuel menegaskan, pihaknya telah mengembalikan pelajar yang melakukan pelanggaran berat berulang-berulang di sekolah kepada orangtuanya masing-masing.

“Kita telah melakukan pembinaan kepada 5 siswa itu, namun pelanggaran peraturan berat yang berulang membuat kita harus memilih mengembalikan mereka kepada orang tuanya masing-masing," tutur Immanuel.

Pembobolan Gedung Sekolah

Kejadian pengembalian siswa YBS kepada orang tuanya ini berawal dari kasus pembobolan gedung sekolah yang dilakukan kelima siswa kelas IX SMP YBS, pada tanggal 17 Februari 2018 lalu sekira pukul 19.00 WIB.

“Siswa membobol sekolah dengan memanjat pagar sekolah dan membobol asbes kamar mandi sekolah untuk naik dan merangkak menuju ruangan komputer,” tutur Immanuel.

Kelima siswa ini terperogok oleh guru sekolah yang kebetulan pada saat kejadian sedang berada di ruangan komputer.

“Awalnya, kita tidak mengetahui, itu adalah murid kita. Setelah tim keamanan datang dan membantu mereka turun dari asbes baru kita tahu, bahwa itu adalah murid kita," ujar Immanuel.

Pihak sekolah telah memanggil orang tua murid ke sekolah untuk memberikan penjelasan kejadian itu 2 hari setelah kejadian. Namun menurut Immanuel sangat disayangkan, bahwa kejadian ini sampai difasilitasi Kepala Desa (Kades) dan Pemkab Tobasa.

“Kejadian ini telah membawa trauma kepada sekolah kita. Kita hendak membawa cara mendidik anak ke tingkat yang lebih tinggi dengan melibatkan orang tua, namun disalah artikan," ujar Immanuel.

“Demi penegakkan peraturan di sekolah, akhirnya pihak sekolah membawa persoalan ini ke jalur hukum melalui Kepolisian," pungkas Immanuel.

Sementara Roselly Simanjuntak selaku Koordinator YBS menyesalkan tindakan yang dilakukan para siswa itu. Dia menjelaskan, bahwa tindakan ini merupakan salah satu pelanggaran berat terhadap peraturan dan tata tertib sekolah.

“Sebagai konsep pembinaan kesiswaan, sekolah akan memberi pembinaan kepada siswa sesuai koridor pendidikan. Peraturan sekolah harus ditegakkan agar tidak ada anggapan dari orangtua murid yang lain ada pembedaan diantara siswa,” jelas Roselly.

Sementara Alpen Hutagalung, salah satu orang tua siswa yang bersekolah di YBS mendukung  peraturan yang diterapkan sekolah. Alpen menjelaskan, bahwa yang dilakukan kelima murid sudah jelas melanggar komitmen yang disepakati antara orang tua siswa dengan yayasan.

"Kita mengapresiasi tindakan yang dilakukan pihak sekolah. Karena jika itu dibiarkan, besar harapannya anak-anak yang sekolah di YBS akan terpengaruh,” katanya.

Penulis: aldy. Editor: gun.