Samosir, hetanews.com - Rura Sihotang merupakan daerah yang terdiri dari Desa Sampur Toba, Dolok Raja, Siparmahan dan Hariara Pohan.

Rura Sihotang juga sering disebut Kenegerian Sihotang. Ini terletak di Kecamatan Harian, Kabupaten Samosir.

Sesuai dengan namanya Rura Sihotang berada di kaki Gunung Uruk Taduhan. Setengahnya dikelilingi pengunungan tinggi dan indah yg ditumbuhi pepohonan kecik nan hijau, Sementara setengahnya lagi berada di tepian pantai Danau Toba.

Sejauh mata memandang pepohonan hijau dan sawah-sawah penduduk yang teratur berpadu dengan pesona Danau Toba nan cantik yaitu danau terbesar di Asia Tenggara.

Dibalik keindahan dan kecantikan Rura Sihotang memiliki kisah misteri tersendiri. Mungkin banyak orang di luar Rura Sihotang yang belum tau apa itu 'Sampuran Bala'. Ini merupakan suatu tempat yang sangat misteri. Menurut lagenda penduduk setempat, 'Sampuran Bala adalah satu tempat yang mistis dan dihormati keberadaannya.

Sebab Sampuran Bala terdiri dari beberapa pohon besar dan mata air yang bersih berada di kaki Gunung Uruk Taduan di Desa Dolok Raja Sihotang.

Konon mata air ini (Sampuran Bala) tidak pernah kering sepanjang sejarah. Walaupun kemarau panjang melanda dan sampai kemarau berkesudahan, air tetap saja tidak mengering dan debitnya tak berkurang. 

Di bawah pohon rindang besar (jajabi) ada kolam air atau sering disebut Mual Hangoluan(air kehidupan).

Tokoh Masyarakat dan juru kunci Tugu Raja Sigodang Ulu Sihotang, S Sihotang. (foto/sartono sihotang).

Menurut penduduk setempat, air Sampuran Bala merupakan air berkah yang bisa menyembuhkan penyakit. Air ini sering dimanfaatkan penduduk setempat dengan banyak keperluan.

Satu hal yang sangat luar biasa dari air Sampuran Bala adalah bisa disimpan bertahun tahun tidak akan berlumut atau kotor (melebihi air kemasan pabrik).

Konon katanya di Sampuran Bala inilah ritual dilakukan kaum hawa atau ibu atau orang Batak menyebutkan 'Akka Paniaran'. Ini ritual pemanggilan hujan dan dalam bahasa Batak disebut 'Manjou Udan (Manggombur) di saat musim kemarau panjang melanda Rura Sihotang yang mengakibatkan tidak efektifnya pertanian atau persawahan

Ibu atau Paniaran (perempuan yang terpilih) bergegas menuju Sampuran Bala. Di Sampuran Bala inilah para ibu atau Paniaran memanggil hujan. Mereka akan melakukan ritual dengan cara melemparkan air ke atas sambil berdoa. Pastinya hanya para ibu atau Paniaran yang tau doa atau ritual itu dan seketika hujan akan turun.

Kepada hetanews.com, Tokoh Masyarakat dan juru kunci Tugu Raja Sigodang Ulu Sihotang, S Sihotang (Op Pahala Sihotang) mengatakan, Sampuran Bala tempat yang suci dan membawa berkat.

"Sudah banyak orang datang ke mual ini (Mualni Opputta Sijolo-jolo Tubu). Banyak sudah orang merasakan khasiat air Sampuran Bala. Ada yang sakit dan banyak juga buang sial atau mambalokkon akka nahurang denggan yang selama ini menghantui kehidupannya. Mereka (orang yang datang kesini) dengan niat yang tulus segala penyakit atau sial sialni daging pasti hilang," ujarnya.

Sebagai orang Batak dan putra asli Sihotang, dirinya punya kebanggaan tersendiri, bahwa Sampuran Bala itu adalah berkah dan anugerah yang diberikan Tuhan untuk Samosir, khususnya Kenegerian Sihotang. 

Oleh sebab itu sebagai warga Rura Sihotang kita berterimakasih atas anugerah ini, sehingga patut dijaga dan dilestarikan bersama.