Siantar, hetanews.com - Pedagang Kaki Lima (PKL) yang berjualan paket internet di bantaran trotoar Jalan Sangnualuh, Kelurahan Siopat Suhu, Kecamatan Siantar Timur, tepatnya di depan kampus HKBP Nommensen, mengeluhkan adanya pengutipan uang kebersihan yang dilakukan oknum Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan Kebersihan Kota Siantar.

Para PKL diwajibkan membayar Rp 1.500 setiap harinya, sebagai retribusi kebersihan. Namun para pedagang, mengaku kecewa atas kinerja dari DLH dan Kebersihan yang mengutip dana tersebut.

Pasalnya, menurut pedagang, pihak dinas itu tidak pernah membersihkan lokasi lapak dagangan mereka, dan terkesan hanya mengutip uang semata.

Hal itu disampaikan salah satu pedagang yang enggan disebut namanya. Menurutnya, setiap harinya, ada satu oknum pegawai dari DLH dan Kebersihan  yang mengutip uang kebersihan, namun tidak membersihkan sampah, di sekitar lapak pedagang.

"Setiap hari dimintai Rp 1.500, tapi ya cuma diminta uangnya saja, kalau sampah di sekitar lapakku ini, enggak pernah dibersihkan," kata perempuan yang mengenakan baju putih itu.

Hal senada juga disampaikan PKL, berinisial ER. Katanya, selain mengeluhkan kinerja oknum DLH dan Kebersihan  yang tidak pernah membersihkan sampah, namun tetap mengutip uang kebersihan, pria berambut keriting ini juga mengeluhkan adanya kutipan liar yang dilakukan sejumlah pemuda sebesar Rp 5.000 per harinya.

"Dimintai uang kebersihan, tapi enggak dibersihkan bang, kami juga yang membersihkan dan membakar sampahnya. Belum lagi kami harus bayar uang sama PS (pemuda setempat) 5 ribu per hari,"ujarnya dengan nada kesal.

Sementara itu, Kepala DLH dan Kebersihan Kota Siantar, Jekson Gultom, memilih bungkam dan tidak menjawab sepatah kata pun terkait konfirmasi yang dilayangkan awak media hetanews.com via SMS.

Sebelumnya, tim hetanews.com juga berupaya menghubungi Jekson via telepon seluler, meskipun nada panggilan masuk sudah terhubung, namun Jekson tidak menjawab telepon tersebut.