Simalungun, hetanews.com - Terdakwa Noval Hotman Sianipar, terbukti mengendalikan peredaran narkotika jenis sabu dari balik jeruji besi Lapas Tanjung Gusta Medan, divonis 18 tahun denda Rp 1 miliar, subsider 6 bulan penjara, di Pengadilan Negeri (PN) Simalungun, Selasa (6/3/2018).  

Vonis majelis hakim, pimpinan Lisfer Berutu tersebut, konform (sama) dengan tuntutan jaksa penuntut umum, Augus Vernando Sinaga.

Terdakwa Noval, dinyatakan terbukti menyuruh ayahnya, Fransiscus Tahi Sianipar (65), sudah divonis  16 tahun dan dua saudaranya, Brando Sianipar divonis 12 tahun dan Leo Sianipar divonis 3 tahun penjara untuk membuka rekening, di sejumlah bank untuk digunakan dalam transaksi narkotika.

Noval  juga dipersalahkan melakukan tindak pencucian uang melanggar Pasal 137 a  UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika jo pasal 55 (1) ke-1 KUHP dan Pasal 2 (1) UU RI Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dan Pasal 5 (1) UU RI No.8/2010 jo pasal 55 (1) ke-1 KUHP.  

Selain itu, majelis hakim juga memvonis terdakwa Naldo Sinaga (27) dan M Syahputra alias Putra (23), keduanya warga yang sama, di Kelurahan Simarimbun, Kota Siantar, masing-masing dengan pidana penjara selama 16 tahun. Selain pidana penjara, terdakwa juga didenda Rp 1 miliar subsider 6 bulan bui. Vonis tersebut juga sama dengan tuntutan JPU.   

Kedua terdakwa dinyatakan bersalah melanggar Pasal 114 (2) UU RI Nomor 35 Tahun 2009 sebagai pengedar narkotika jenis sabu. Terdakwa telah terbukti, pada Senin, 5 Juni 2017, memesan sabu dari Noval Hotman Sianipar (penghuni Lapas tanjung Gusta divonis 18 tahun penjara disidang terpisah). Sabu pesanan terdakwa Naldo dan M Syahputra, diterima dari Fransiscus Tahi Sianipar (telah divonis 16 tahun), di jalan Toba Siantar.   

Lalu sabu yang dibungkus dengan lakban  seberat 300 gram itu, dibawa Naldo dan ditangkap anggota Satuan Reserse Narkoba Polres Simalungun di seputaran Jalan Gereja, Kota Siantar.

Setelah diinterogasi, terdakwa Naldo mengaku menyimpan sisa sabu, di tempat kos Deborah, kamar 21, di Jalan Maluku, Kelurahan Bantan, Siantar, bersama M Syahputra.

Kedua terdakwa mengaku memesan sabu kepada Noval dan uang hasil penjualan diserahkan kepada Fransiscus Sianipar bersaudara, sindikat narkoba dan TPPU yang merupakan ayah Noval. Para terdakwa menyatakan pikir-pikir atas vonis tersebut.